7 Contoh Teks Kultum Harian tentang Adab Muslim dalam Pergaulan, Menyentuh Hati

15 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah gempuran era digital yang memicu sikap individualis, adab pergaulan Islami menjadi penawar bagi hati yang kian berjarak. Oleh karena itu, umat Islam, untuk saling mengingatkan. Contoh teks kultum harian tentang adab muslim dalam pergaulan, dapat menjadi wasilah kembalinya adab Islami.

Rasulullah SAW mengingatkan: "Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka, lebih besar pahalanya daripada yang tidak bergaul" (HR. Tirmidzi). Hadis ini menegaskan bahwa Islam menolak isolasi sosial; kesalehan tidak hanya diukur di atas sajadah, tetapi juga melalui kehangatan interaksi di dunia nyata yang kini mulai langka akibat kesibukan dan gawai.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menguraikan bahwa inti adab pergaulan adalah itsaar (mendahulukan kepentingan saudara) dan menampakkan wajah berseri. Dalam konteks modern, hal ini sesederhana meletakkan smartphone saat berbicara atau menyapa tetangga di lingkungan perumahan yang tertutup.

Berikut ini adalah 7 contoh teks kultum harian tentang adab muslim dalam pergaulan.

Contoh Teks Kultum 1: Memilih Teman Bergaul (Analogi Penjual Minyak Wangi)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah SWT, Dzat yang menciptakan hati manusia dan membolak-balikannya. Dialah yang menganugerahkan kita nikmat persahabatan sebagai penguat dalam ketaatan.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah teladan terbaik dalam membina hubungan sosial yang sehat dan membawa keberkahan dunia akhirat.

Jamaah yang dirahmati Allah, Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak bisa lepas dari interaksi sosial. Teman duduk atau sahabat memiliki pengaruh yang sangat luar biasa terhadap agama dan akhlak seseorang, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Islam tidak melarang kita bergaul dengan siapa saja, namun Islam sangat menekankan selektivitas dalam memilih teman dekat (khalil). Sebab, karakter seseorang sering kali tercermin dari siapa teman akrabnya.

Rasulullah SAW memberikan perumpamaan yang sangat indah mengenai dampak pergaulan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ

Artinya: "Perumpamaan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang buruk itu ibarat penjual minyak wangi dan pandai besi." (HR. Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628).

Nabi melanjutkan bahwa dari penjual minyak wangi, kita bisa membelinya atau minimal mencium bau harumnya. Sedangkan dari pandai besi, baju kita bisa terbakar atau minimal kita mencium bau asap yang tidak sedap.

Hadis ini bukan melarang kita berteman dengan profesi tertentu, melainkan sebuah analogi tentang "percikan" pengaruh. Teman saleh akan memercikkan kebaikan, nasihat, dan ilmu. Sebaliknya, teman buruk akan memercikkan kebiasaan dosa dan kelalaian.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari (Syarah Shahih Bukhari) menjelaskan makna hadis ini secara mendalam. Beliau berkata bahwa hadis ini berisi larangan berteman dengan orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita.

Ulama besar tersebut juga menjelaskan bahwa pergaulan dengan orang fasik atau ahli maksiat dapat mematikan hati, sementara bergaul dengan ulama atau orang saleh dapat menyuburkan hati dengan hikmah.

Dalam konteks modern, "teman duduk" tidak hanya fisik, tetapi juga teman di grup WhatsApp atau media sosial. Jika grup tersebut isinya hanya ghibah, keluh kesah, dan hal sia-sia, itulah "pandai besi" era digital yang membakar waktu kita.

Maka, perhatikanlah dengan siapa kita menghabiskan waktu. Jangan sampai pergaulan kita justru menjauhkan kita dari Allah SWT.

Jadilah kita seperti penjual minyak wangi bagi orang lain, yang kehadirannya menyejukkan dan kata-katanya mengharumkan suasana, bukan yang menyebar bau busuk fitnah.

Semoga Allah mengelilingi kita dengan sahabat-sahabat yang mengajak ke surga.

Marilah kita berdoa memohon lingkungan yang baik.

Allahumma inna nas'aluka shuhbatan shalihah. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami sahabat-sahabat yang saleh, yang mengingatkan kami saat lalai dan membantu kami saat taat. Jauhkanlah kami dari pergaulan yang menyesatkan.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 2: Menutupi Aib Saudara Sesama Muslim

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah Al-Ghaffar, Dzat Yang Maha Pengampun dan Maha Menutupi aib hamba-hamba-Nya. Jika bukan karena tutupan Allah, niscaya tidak ada seorang pun dari kita yang berani menampakkan wajah di hadapan orang lain.

Shalawat dan salam untuk Rasulullah SAW, nabi pembawa rahmat yang mengajarkan kita untuk menjaga kehormatan sesama manusia.

Hadirin wal hadirat rahimakumullah, Salah satu penyakit pergaulan yang paling berbahaya hari ini adalah hobi menguliti kesalahan orang lain. Di era media sosial, aib seseorang bisa menjadi tontonan viral dalam hitungan detik.

Padahal, dalam adab pergaulan Islam, seorang muslim diwajibkan untuk menjaga privasi dan menutupi kekurangan saudaranya, bukan malah menyebarkannya demi kepuasan nafsu atau engagement.

Rasulullah SAW memberikan janji yang sangat menggiurkan bagi mereka yang mampu menjaga rahasia dan aib saudaranya, sebagaimana sabda beliau:

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya: "Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat." (HR. Bukhari no. 2442 dan Muslim no. 2580).

Hadis ini adalah prinsip take and give ilahiah. Jika kita menjaga kehormatan orang lain di dunia, Allah akan menjaga kehormatan kita di akhirat, di saat semua rahasia dibongkar di hadapan seluruh makhluk.

Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali dalam kitab Bahjatun Nazhirin (Syarah Riyadhus Shalihin) menjelaskan bahwa perintah menutup aib ini berlaku bagi orang yang tidak dikenal berbuat kerusakan secara terang-terangan.

Beliau menjelaskan bahwa jika seorang muslim tergelincir melakukan dosa dan ia menyembunyikannya (malu), maka haram bagi kita untuk memata-matainya atau menyebarkannya. Tujuannya agar pintu tobat tetap terbuka baginya tanpa rasa malu sosial yang berlebihan.

Berbeda halnya jika maksiat itu dilakukan terang-terangan dan membahayakan masyarakat, maka boleh dilaporkan kepada pihak berwenang untuk tujuan perbaikan, bukan untuk digunjingkan di warung kopi.

Mari kita introspeksi diri. Berapa kali lisan atau jari kita gatal ingin menceritakan keburukan teman kita? Ingatlah bahwa kita pun punya gudang aib yang hanya Allah yang tahu.

Menjadi "CCTV" bagi kesalahan orang lain hanya akan membuat hati kita keras dan gelap. Lebih baik sibuk memperbaiki diri sendiri daripada sibuk menghakimi orang lain.

Semoga kita menjadi pribadi yang amanah dalam memegang rahasia saudara kita.

Marilah kita berdoa agar Allah menjaga kehormatan kita.

Allahummastur 'auratina wa aamin rau'atina. Ya Allah, tutuplah aurat dan aib-aib kami, dan berilah rasa aman dari ketakutan kami. Jadikanlah kami hamba yang pandai menjaga lisan dari menyebar keburukan orang lain.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 3: Larangan Saling Hasad dan Memutus Silaturahmi

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah yang telah menyatukan hati orang-orang beriman dalam ikatan ukhuwah Islamiyah. Dialah yang memerintahkan kita untuk bersatu dan melarang kita bercerai-berai.

Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau bersabda bahwa umat Islam itu ibarat satu tubuh; jika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakannya.

Jamaah yang dimuliakan Allah, Pergaulan yang sehat sering kali rusak karena penyakit hati, terutama hasad (dengki) dan kebencian. Hasad adalah tidak suka melihat orang lain mendapat nikmat dan berharap nikmat itu hilang.

Penyakit ini adalah gunting pemutus persaudaraan. Ia menggerogoti kebaikan dan menciptakan permusuhan yang berkepanjangan di tengah masyarakat.

Rasulullah SAW memberikan panduan tegas mengenai adab hati dalam berinteraksi sesama muslim:

لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا... وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Artinya: "Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling menipu (dalam jual beli), janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi... dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara." (HR. Muslim no. 2564).

Hadis ini melarang "Tadabur" atau saling membelakangi, yang bermakna mendiamkan saudara sesama muslim, tidak mau menyapa, dan memutus komunikasi karena ego.

Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan-larangan dalam hadis tersebut bertujuan untuk menjaga keutuhan masyarakat Islam. Beliau menekankan bahwa haram hukumnya mendiamkan sesama muslim lebih dari tiga hari.

Hasad disebut sebagai dosa pertama yang dilakukan di langit (Iblis kepada Adam) dan di bumi (Qabil kepada Habil). Ini menunjukkan betapa destruktifnya sifat ini.

Obat dari hasad adalah meyakini takdir Allah. Bahwa rezeki, jabatan, dan kebahagiaan teman kita adalah pembagian dari Allah yang Maha Adil. Iri hati sama saja dengan memprotes keputusan Allah.

Mari kita bersihkan hati. Jika teman kita sukses, ucapkan Barakallah. Ikutlah bahagia, niscaya Allah akan memberi kita kebahagiaan dari jalan lain.

Jangan biarkan persaudaraan yang dibangun bertahun-tahun hancur hanya karena urusan duniawi sepele.

Marilah kita berdoa memohon hati yang bersih.

Rabbana la taj'al fi qulubina ghillan lilladzina amanu. Ya Rabb kami, janganlah Engkau tanamkan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 4: Tabayyun (Klarifikasi) Mencegah Fitnah

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan yang Maha Mengetahui segala yang nyata dan yang tersembunyi. Kita berlindung kepada-Nya dari kejahatan fitnah yang menyesatkan.

Shalawat dan salam untuk Rasulullah SAW, pemimpin yang selalu mengajarkan kehati-hatian dalam menerima berita agar tidak menzalimi kaum yang lain.

Hadirin yang dirahmati Allah, Dalam pergaulan, sering kali terjadi kesalahpahaman akibat informasi yang simpang siur. Kabar burung atau "katanya-katanya" sering kali ditelan mentah-mentah tanpa dikroscek kebenarannya.

Sikap terburu-buru mempercayai kabar negatif tentang saudara kita adalah pintu masuk setan untuk mengadu domba. Islam menawarkan solusi preventif yang disebut Tabayyun (klarifikasi).

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Hujurat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya (tabayyun)..." (QS. Al-Hujurat: 6).

Ayat ini memperingatkan kita agar tidak langsung menyebarkan info yang kita terima, terutama jika sumbernya tidak jelas atau meragukan, agar kita tidak menimpakan musibah kepada orang lain karena kebodohan kita.

Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim menjelaskan bahwa Allah memerintahkan untuk memverifikasi berita dari orang fasik sebagai bentuk kehati-hatian. Beliau melarang umat Islam mengikuti desas-desus begitu saja.

Ulama menjelaskan bahwa Tabayyun adalah adab pergaulan tingkat tinggi. Sebelum marah, tanyakan dulu. Sebelum memblokir kontak, klarifikasi dulu.

Betapa banyak hubungan persahabatan putus hanya karena salah paham yang tidak diluruskan. Betapa banyak keluarga hancur karena hasutan pihak ketiga yang tidak ditabayyun.

Di era forward pesan yang begitu cepat, jempol kita harus memiliki "rem" yang pakem. Saring sebelum sharing. Pastikan kebenarannya, kebermanfaatannya, dan urgensinya.

Jika berita itu benar tapi menyakiti, itu ghibah. Jika berita itu salah, itu fitnah. Keduanya adalah dosa besar dalam pergaulan.

Semoga Allah menganugerahkan kita kebijaksanaan untuk selalu tenang dan teliti dalam menerima setiap kabar.

Marilah kita berdoa.

Allahumma arinal haqqa haqqan warzuqnat tiba'ah. Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar dan berilah kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami yang batil itu batil dan berilah kemampuan untuk menjauhinya.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 5: Adab Bercanda dan Larangan Bullying

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT yang menganugerahkan tawa dan bahagia sebagai fitrah manusia. Islam adalah agama yang fitrah, yang tidak melarang umatnya bercanda, namun memberikan rambu-rambu adab.

Shalawat serta salam untuk Rasulullah SAW. Beliau adalah sosok yang humoris dan sering tersenyum, namun candaannya selalu mengandung kebenaran dan tidak pernah menyakiti hati.

Jamaah sekalian yang dimuliakan Allah, Dalam pergaulan, bercanda adalah bumbu yang bisa mencairkan suasana dan mengakrabkan hati. Namun, jika bumbunya terlalu banyak atau salah takaran, ia bisa merusak rasa persaudaraan.

Fenomena saat ini, banyak orang bercanda dengan cara mengejek fisik, merendahkan nama orang tua, atau melakukan prank yang menakut-nakuti (bullying verbal/fisik). Islam melarang keras hal ini.

Allah SWT berfirman melarang perbuatan mengolok-olok dalam Surat Al-Hujurat ayat 11:

لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ

Artinya: "Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)..." (QS. Al-Hujurat: 11).

Ayat ini menegaskan bahwa standar kemuliaan di sisi Allah adalah takwa, bukan fisik atau status sosial. Merendahkan orang lain dengan dalih "hanya bercanda" adalah bentuk kesombongan terselubung.

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam kitab tafsirnya Taisir Karimir Rahman menjelaskan bahwa Sakhriyah (mengolok-olok) adalah haram karena menyakiti hati dan merupakan perbuatan orang jahiliyah.

Beliau menambahkan bahwa penghinaan ini bisa berupa perkataan, perbuatan, atau isyarat yang tujuannya merendahkan martabat muslim lain.

Adab bercanda menurut Nabi adalah: tidak berdusta, tidak menakut-nakuti (seperti menyembunyikan barang teman), dan tidak menghina.

Mari kita evaluasi gaya bercanda kita di tongkrongan atau di kantor. Apakah tawa kita berdiri di atas penderitaan teman kita? Jika iya, segera hentikan dan minta maaf.

Luka fisik mudah sembuh, tapi luka hati akibat ejekan bisa membekas seumur hidup. Jadilah teman yang menyenangkan tanpa harus menjatuhkan.

Semoga Allah melembutkan hati kita untuk selalu menjaga perasaan sesama dalam suka maupun duka.

Marilah kita berdoa.

Allahumma ahsin akhlaqana kama ahsanta khalqana. Ya Allah, baguskanlah akhlak kami sebagaimana Engkau telah membaguskan penciptaan fisik kami. Jauhkanlah lisan kami dari mencela dan menyakiti hamba-hamba-Mu.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 6: Berbaik Sangka (Husnuzan) kepada Sesama

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah, Dzat yang mengetahui isi hati. Kita memuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya agar hati kita senantiasa bersih dari prasangka buruk.

Shalawat dan salam untuk Baginda Nabi Muhammad SAW, teladan kejujuran dan ketulusan hati.

Hadirin wal hadirat rahimakumullah, Salah satu fondasi terpenting dalam membangun pergaulan yang harmonis adalah Husnuzan atau berbaik sangka. Prasangka buruk (Su'udzan) adalah racun yang mematikan rasa percaya di antara sesama manusia.

Seringkali kita menilai orang lain hanya dari satu kejadian atau penampilan luar, lalu hati kita menyimpulkan hal-hal negatif yang belum tentu benar. Ini adalah bentuk kezaliman batin.

Rasulullah SAW memperingatkan kita dengan sangat keras tentang bahaya prasangka:

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ

Artinya: "Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta." (HR. Bukhari no. 6064 dan Muslim no. 2563).

Mengapa disebut perkataan paling dusta? Karena prasangka dibangun di atas imajinasi tanpa bukti, namun dianggap sebagai kebenaran oleh pelakunya.

Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya Al-Jami' li Ahkamil Qur'an menjelaskan bahwa zhan (prasangka) yang dilarang adalah tuduhan tanpa dasar yang kuat.

Beliau mengutip perkataan Umar bin Khattab RA: "Janganlah kamu menyangka satu kata yang keluar dari saudaramu dengan persangkaan buruk, sementara kamu masih bisa menemukan celah kebaikan (makna positif) dalam kata-kata tersebut."

Jika teman kita tidak membalas sapaan, berbaik sangkalah: mungkin dia sedang tidak mendengar atau sedang banyak pikiran. Jika tetangga tidak datang menjenguk, berbaik sangkalah: mungkin dia sedang sakit atau sibuk.

Hati yang penuh husnuzan akan melahirkan ketenangan. Kita tidak akan mudah tersinggung, tidak mudah marah, dan hidup menjadi lebih ringan.

Sebaliknya, su'udzan membuat hidup kita capek. Capek mengintai, capek menduga-duga, dan capek membenci hal yang fiktif.

Semoga Allah mengaruniakan kita hati yang bening, yang selalu melihat sisi baik dari setiap orang.

Marilah kita berdoa.

Allahumma thahhir qulubana minan nifaq. Ya Allah, sucikanlah hati kami dari kemunafikan, amal kami dari riya, dan lisan kami dari dusta, serta mata kami dari khianat.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 7: Wajah Berseri dan Menebar Salam

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang menjadikan senyum sebagai sedekah. Agama Islam adalah agama kasih sayang yang mengajarkan hal-hal besar hingga hal-hal kecil yang membahagiakan hati.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. Para sahabat bersaksi bahwa mereka tidak pernah melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah SAW.

Jamaah yang dirahmati Allah, Dalam pergaulan, kesan pertama dan suasana interaksi sangat ditentukan oleh raut wajah dan sapaan. Wajah yang masam dan sikap yang cuek membuat orang enggan mendekat.

Sebaliknya, wajah yang berseri-seri (Thalaqatul wajh) dan kebiasaan menebar salam adalah magnet ukhuwah. Ia adalah ibadah yang ringan, gratis, namun pahalanya besar.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Imam Muslim:

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

Artinya: "Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun hanya dengan menjumpai saudaramu dengan wajah yang berseri-seri." (HR. Muslim no. 2626).

Senyuman yang tulus adalah pesan universal yang mengatakan: "Saya saudaramu, kamu aman bersama saya, dan saya senang bertemu denganmu."

Imam Al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir menjelaskan bahwa menemui saudara dengan wajah berseri dapat memasukkan rasa bahagia ke dalam hati seorang muslim, dan itu adalah salah satu amal yang paling dicintai Allah.

Selain senyum, menebar salam juga menjadi kunci saling mencintai. Nabi bersabda: "Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kutunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian." (HR. Muslim).

Di kehidupan modern yang individualis ini, mari kita hidupkan kembali budaya saling menyapa. Sapalah satpam komplek, kasir minimarket, atau rekan kerja dengan salam yang hangat dan senyum tulus.

Jangan menjadi orang yang sombong atau "mahal senyum". Ingatlah, keramahan adalah sedekah jariyah yang efek kebaikannya bisa menular kepada orang lain.

Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang hangat, ramah, dan menyenangkan bagi siapa saja yang berinteraksi dengan kita.

Marilah kita berdoa memohon akhlak yang mulia.

Rabbana atina milladunka rahmatan wa hayyi' lana min amrina rasyada. Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

People also Ask:

Apa saja adab yang diajarkan dalam Islam yaitu adab dalam bergaul?

  • Memilih Teman yang Baik.
  • Saling Mencintai Karena Allah SWT.
  • Saling Menasihati dalam Kebaikan.
  • Menjaga Amanah dan Rahasia Teman.
  • Tidak Saling Hasad dan Dengki.
  • Saling Membantu dan Mengutamakan Kepentingan Teman.
  • Berbuat Baik dan Menjaga Akhlak dalam Berteman.

Adab islami apa saja yang harus diterapkan dalam pergaulan remaja di kehidupan sehari-hari?

  • Menjaga sopan santun.
  • Mengerti dan memahami. 
  • Selalu mengajak ke arah kebaikan.
  • Saling membantu.
  • Jujur dan Adil.
  • Berjuang mencari ilmu.

Bagaimana kamu menerapkan adab bergaul dalam kehidupan sehari-hari?

Contoh etika pergaulan dalam kehidupan sehari-hari

1. Menghargai pendapat orang lain.

2. Tidak memotong pembicaraan.

3. Bersikap sopan dan ramah pada siapa pun.

4. Menanamkan rasa empati.

5. Menjaga privasi dari orang lain.

Apa saja adab dalam kehidupan sehari-hari?

(1) adab berpakaian,

(2) adab makan-minum,

(3) adab berbicara,

(4) adab berdoa,

(5) adab mencari ilmu,

(6) ada tidur,

(7) adab mandi,

(8) adab kepada orang tua,

(9) adab bertamu,

(10) adab membaca kitab suci Al-Qur'an,

dan lain-lain.

Apa saja contoh etika pergaulan islami dalam kehidupan sehari-hari?

Menjaga Lisan dan Etika dalam Berbicara. Lisan adalah cerminan hati.

Bersikap Jujur dan Amanah. Kejujuran adalah pondasi dari setiap hubungan sosial yang sehat.

Menjaga Pandangan dan Menahan Hawa Nafsu.

Menghindari Ghibah, Fitnah, dan Hasad.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |