Larangan saat Nisfu Syaban yang Sering Diabaikan, Jangan Sampai Salah Kaprah

21 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Malam Nisfu Syaban merupakan momen penting bagi umat Muslim untuk memperbanyak doa, dzikir, dan introspeksi diri menjelang Ramadan. Dalam sejumlah riwayat, malam ini disebut sebagai waktu dibukanya pintu ampunan Allah SWT. Namun, keutamaan tersebut tidak berlaku tanpa pengecualian. Rasulullah SAW menegaskan bahwa ampunan tidak diberikan kepada mereka yang melakukan dosa besar secara terang-terangan, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim.

Sayangnya, Nisfu Syaban kerap dipahami sebatas ritual tanpa diiringi kesadaran untuk menjauhi dosa dan memperbaiki akhlak. Padahal, dosa besar dan pelanggaran sosial dapat menjadi penghalang turunnya ampunan Allah SWT. Berikut Liputan6.com seputar larangan-larangan yang sering diabaikan sekaligus menegaskan bahwa larangan tersebut berlaku sepanjang waktu yang sudha disusun oleh dari berbagai sumber pada Selasa (3/2). 

1. Larangan Syirik Saat Malam Nisfu Syaban yang Menghalangi Ampunan Allah

Dalam riwayat Aisyah r.a., Rasulullah SAW menyebutkan bahwa salah satu golongan yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada malam Nisfu Syaban adalah orang yang melakukan syirik. Syirik merupakan perbuatan menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, baik dalam keyakinan, ibadah, maupun ketergantungan batin. Dosa ini disebut sebagai dosa terbesar dalam Islam karena secara langsung merusak fondasi tauhid.

Dalam Al-Qur'an, Allah SWT juga memperingatkan hamba-Nya untuk menjauhi perbuatan syirik secara tegas. Firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, tetapi Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar." (QS. An-Nisa: 48)

Ayat ini menunjukkan bahwa syirik bukan sekadar kesalahan kecil, melainkan pelanggaran serius terhadap hak Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Oleh sebab itu, orang yang masih mempertahankan syirik tidak termasuk dalam golongan yang dirahmati pada malam Nisfu Syaban.

Malam Nisfu Syaban seharusnya menjadi momen refleksi untuk membersihkan tauhid dari segala bentuk kesyirikan, baik yang tampak maupun tersembunyi. Keyakinan pada jimat, ramalan, atau kekuatan selain Allah perlu ditinggalkan secara total. Dengan memurnikan tauhid, seorang Muslim membuka pintu ampunan dan rahmat Allah SWT.

2. Larangan Mengadu Domba dan Menciptakan Permusuhan di Malam Nisfu Syaban

Rasulullah SAW juga menyebutkan bahwa orang yang suka mengadu domba dan menciptakan permusuhan antar sesama Muslim termasuk golongan yang tidak mendapatkan ampunan pada malam Nisfu Syaban. Perbuatan ini merusak hubungan sosial dan menimbulkan konflik berkepanjangan di tengah masyarakat. Dampaknya tidak hanya merugikan individu, tetapi juga merusak persatuan umat Islam secara keseluruhan.

Dalam Islam, menjaga lisan dan sikap merupakan bagian penting dari akhlak seorang mukmin. Mengadu domba, menyebarkan fitnah, dan memprovokasi permusuhan merupakan dosa besar karena melibatkan hak orang lain yang tidak mudah dihapus hanya dengan ibadah pribadi. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa dosa sosial sering kali lebih berat karena menyakiti sesama manusia.

Malam Nisfu Syaban menjadi kesempatan untuk membersihkan hati dari niat buruk terhadap orang lain. Menghentikan kebiasaan memecah belah dan mulai menebar perdamaian merupakan bentuk taubat sosial yang sangat dianjurkan. Dengan menjaga keharmonisan, seorang Muslim lebih layak mendapatkan ampunan Allah SWT.

3. Larangan Memutus Tali Silaturahim pada Malam Nisfu Syaban Menurut Hadis

Salah satu golongan yang dikecualikan dari ampunan Allah pada malam Nisfu Syaban adalah orang yang memutus tali silaturahim. Rasulullah SAW secara tegas menyatakan bahwa orang yang memutus hubungan kekeluargaan tidak akan masuk surga. Hal ini menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap hubungan sosial dan kekeluargaan.

Larangan memutus silaturahim tidak hanya berlaku pada malam Nisfu Syaban, tetapi menjadi larangan mutlak sepanjang waktu. Hadis juga memperingatkan umat muslim tentang bahaya memutuskan silaturahim, di antaranya sabda Nabi SAW:

"Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan hubungan kekeluargaan." (HR. Bukhari, No. 5984; HR. Muslim, No. 2556)

Islam mengajarkan bahwa menjaga hubungan baik dengan keluarga dan sesama Muslim merupakan kewajiban yang tidak boleh diabaikan. Ketika silaturahim terputus karena ego, dendam, atau konflik, maka dampaknya sangat besar terhadap kehidupan spiritual seseorang.

Malam Nisfu Syaban merupakan waktu yang tepat untuk memperbaiki hubungan yang renggang. Meminta maaf, memaafkan, dan membuka kembali komunikasi menjadi langkah nyata dalam bertaubat. Dengan menjaga silaturahim, seorang Muslim mendekatkan diri pada rahmat dan keberkahan Allah SWT.

4. Larangan Bersikap Sombong dan Angkuh Saat Nisfu Syaban

Dalam hadis tentang Nisfu Syaban, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa orang yang sombong dan berjalan dengan angkuh termasuk golongan yang tidak mendapatkan ampunan Allah. Kesombongan membuat seseorang merasa lebih tinggi dari orang lain dan menolak kebenaran. Sikap ini sangat dibenci dalam Islam karena bertentangan dengan nilai tawadhu’.

Islam mengajarkan bahwa segala kelebihan manusia merupakan karunia Allah SWT yang harus disyukuri, bukan dijadikan alat untuk merendahkan orang lain. Kesombongan bahkan menjadi sebab utama Iblis terusir dari rahmat Allah karena menolak perintah-Nya dengan angkuh. Oleh karena itu, sifat ini harus dijauhi kapan pun dan di mana pun.

Malam Nisfu Syaban menjadi momen penting untuk membersihkan hati dari kesombongan. Mengakui kelemahan diri dan memperbanyak istighfar merupakan langkah awal menuju kerendahan hati. Dengan hati yang bersih, ibadah yang dilakukan akan lebih bernilai di sisi Allah SWT.

5. Larangan Durhaka kepada Orang Tua di Malam Nisfu Syaban

Durhaka kepada orang tua termasuk dosa besar yang disebutkan secara jelas dalam hadis tentang Nisfu Syaban. Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya tidak mendapatkan ampunan Allah pada malam tersebut. Hal ini menunjukkan betapa besar kedudukan orang tua dalam Islam.

Islam mewajibkan setiap anak untuk berbuat baik kepada orang tuanya selama tidak bertentangan dengan perintah Allah. Bentuk kedurhakaan tidak hanya berupa ucapan kasar, tetapi juga sikap mengabaikan, menyakiti perasaan, atau tidak memenuhi tanggung jawab sebagai anak. Perbuatan ini sangat mempengaruhi diterimanya amal ibadah seseorang.

Malam Nisfu Syaban menjadi waktu yang tepat untuk merenungkan hubungan dengan orang tua. Meminta maaf atas kesalahan dan mendoakan mereka merupakan bentuk bakti yang sangat dianjurkan. Dengan berbakti kepada orang tua, pintu keberkahan hidup akan terbuka lebih luas.

6. Larangan Minum Khamr dan Maksiat Berat Saat Nisfu Syaban

Rasulullah SAW menyebutkan bahwa orang yang kecanduan minuman keras termasuk golongan yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada malam Nisfu Syaban. Khamr dilarang secara tegas dalam Al-Qur’an karena merusak akal dan moral manusia. Dampaknya tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga masyarakat luas.

Begitu pula dengan larangan minum khamr atau minuman keras yang ditegaskan dalam Al-Qur'an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah agar kamu beruntung." (QS. Al-Maidah: 90)

Larangan ini bersifat mutlak dan berlaku sepanjang waktu. Ketergantungan terhadap minuman keras menunjukkan lemahnya kontrol diri dan menjauhkan seseorang dari ketakwaan.

Malam Nisfu Syaban menjadi kesempatan emas untuk bertaubat dari perbuatan maksiat. Menyadari kesalahan dan bertekad meninggalkannya merupakan langkah awal menuju perubahan. Dengan taubat yang tulus, rahmat Allah SWT tetap terbuka luas.

7. Larangan Salah Kaprah Memahami Nisfu Syaban dan Bulan Syaban

Selain dosa besar, kesalahan memahami Nisfu Syaban juga termasuk hal yang perlu dihindari. Menganggap malam Nisfu Syaban sebagai malam suci yang harus dirayakan dengan ritual khusus tanpa dalil yang kuat merupakan kekeliruan. Islam tidak menetapkan ibadah khusus yang wajib pada malam tersebut.

Begitu pula anggapan bahwa bulan Syaban membawa keberuntungan atau kesialan tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam. Semua waktu adalah ciptaan Allah dan tidak memiliki pengaruh baik atau buruk secara mandiri. Keyakinan seperti ini mendekati khurafat yang harus dijauhi.

Malam Nisfu Syaban seharusnya dimaknai sebagai momen introspeksi dan persiapan spiritual. Fokus pada perbaikan diri dan taubat lebih utama dibanding ritual berlebihan. Dengan pemahaman yang benar, ibadah akan lebih lurus dan bermakna.

Pertanyaan Umum yang Sering Diajukan

1. Apakah larangan saat Nisfu Syaban hanya berlaku pada malam tersebut?

Tidak, larangan seperti syirik, durhaka kepada orang tua, dan memutus silaturahim berlaku sepanjang waktu, bukan hanya Nisfu Syaban.

2. Mengapa dosa besar menghalangi ampunan pada malam Nisfu Syaban?

Karena dosa besar merusak hubungan manusia dengan Allah dan sesama, sehingga harus disertai taubat yang sungguh-sungguh.

3. Apakah Nisfu Syaban boleh diisi dengan ibadah sunnah?

Boleh, selama dilakukan sebagai ibadah umum tanpa meyakini adanya kewajiban atau ritual khusus yang ditetapkan.

4. Apa hikmah utama dari malam Nisfu Syaban?

Sebagai momen introspeksi, taubat, dan perbaikan diri agar siap menyambut Ramadan dengan hati yang bersih.

Anda Sedang Mengikuti Pembahasan Seputar

Fardi Rizal, Tyas Titi KinaptiTim Redaksi

Share

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |