13 Contoh Kultum Singkat Peringatan Isra Miraj 2026, Santai Lucu tapi Penuh Makna

3 weeks ago 20

Liputan6.com, Jakarta - Peringatan Isra Mi’raj 2026 bisa menjadi kesempatan memperkokoh pondasi tauhid di tengah disrupsi zaman yang serba cepat. Cara menanamkannya di antaranya dengan kultum singkat peringatan Isra Miraj 2026.

Berdasarkan QS. Al-Isra [17]: 1, perjalanan spiritual ini menegaskan kedekatan mutlak antara hamba dan Sang Pencipta melalui gelar 'abd (hamba) yang disematkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk penghormatan tertinggi.

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa peristiwa ini membawa pesan bahwa bahwa kunci kemuliaan manusia terletak pada totalitas penghambaan dan kesucian hati. Nilai moral dari masa kenabian tersebut dapat diteraik ke konteks sosial hari ini.

Shalat yang ditegakkan secara disiplin tepat waktu, misalnya, berfungsi sebagai kontrol sosial yang mampu mencegah perilaku tercela dan meningkatkan integritas personal. Berikut ini adalah contoh kultum singkat peringatan Isra Miraj 2026, dengan bahasa santai dan lucu, namun bermakna mendalam.

Kultum 1: Sholat Subuh vs Diskon Tengah Malam Marketplace (Tema: Sholat)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, washalatu wasalamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Bapak-Ibu sekalian, kalau kita pulang umrah, biasanya oleh-olehnya air zam-zam atau kurma. Tapi tahu tidak, Nabi Muhammad SAW pulang dari Isra Mi’raj membawa oleh-oleh yang paling "branded" sepanjang masa, yaitu shalat lima waktu.

Anehnya, kalau ada flash sale di Shopee jam 12 malam kita bisa bangun sambil mata melek segar, tapi kalau panggilan shalat Subuh, rasanya kasur seperti punya magnet 10.000 watt yang menarik tubuh kita kembali tidur.

Padahal, perintah shalat ini spesial karena diterima langsung di Sidratul Muntaha, tanpa perantara. Ini adalah bukti betapa pentingnya ibadah ini bagi kita sebagai hamba.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra [17]: 1:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha..."

Ayat ini menggunakan kata 'abdihi (hamba-Nya). Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, ini adalah gelar kemuliaan. Menjadi hamba Allah melalui shalat adalah posisi paling elit di alam semesta.

Bayangkan, kita diundang "meeting" dengan Pemilik Semesta lima kali sehari. Kalau meeting dengan bos di kantor saja kita dandan rapi, kenapa meeting dengan Allah kadang kita pakai daster atau kaos oblong yang sudah bolong-bolong?

Shalat adalah sarana kita melakukan "Mi’raj spiritual" setiap hari. Jika Nabi naik ke langit untuk menerima perintah, kita "naik" menemui Allah melalui sujud-sujud kita di atas sajadah.

Oleh karena itu, jangan lagi menganggap shalat sebagai beban. Jadikan shalat sebagai kebutuhan, sebagaimana kita butuh kuota internet untuk tetap eksis di dunia nyata maupun maya.

Mari kita perbaiki kualitas shalat kita di tahun 2026 ini. Semoga dengan disiplin shalat, hidup kita menjadi lebih teratur, hati tenang, dan rezeki pun ikut datang secara "unlimited".

Kesimpulannya, Isra Mi’raj mengajarkan bahwa shalat adalah jembatan kedekatan hamba dengan Allah. Tanpa shalat, kita ibarat smartphone tanpa sinyal; terlihat keren tapi tidak bisa dipakai komunikasi.

Allahumma shalli ‘ala Muhammad. Semoga kita termasuk golongan yang istiqamah menegakkan shalat hingga akhir hayat. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 2: Healing Syar’i ala Nabi Muhammad (Tema: Tasliyah)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahi wash-sholatu was-salamu ‘ala Rasulillah, wa ‘ala alihi wa ash-habihi waman walaah. Amma ba’du.

Zaman sekarang, kalau orang merasa stres sedikit, bilangnya "butuh healing". Ada yang healing ke puncak, ke mal, atau malah cuma scrolling TikTok sampai jempol keriting tapi hati makin kosong.

Tahu tidak, Nabi Muhammad SAW juga pernah mengalami masa paling galau sedunia yang disebut ‘Amu al-Huzni atau Tahun Kesedihan. Beliau kehilangan istri tercinta, Khadijah, dan paman pelindungnya, Abu Thalib.

Allah tidak menyuruh Nabi liburan ke Bali, tapi Allah mengajak Nabi "healing" menembus langit ketujuh melalui Isra Mi’raj. Ini adalah bentuk tasliyah atau hiburan spiritual langsung dari Sang Pencipta.

Hal ini dijelaskan dalam QS. An-Najm [53]: 17-18:

مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَىٰ. لَقَدْ رَأَىٰ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَىٰ

"Penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar."

Menurut Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam Aisar at-Tafaasir, pengalaman spiritual ini memberikan kekuatan batin yang luar biasa bagi Nabi untuk melanjutkan dakwah yang sangat berat.

 Jadi, kalau kita lagi sedih, galau, atau diputusin pacar (eh, nggak boleh pacaran ya), jangan cuma cari healing duniawi. Gelar sajadah, sujud yang lama, itulah healing yang paling syar’i dan gratis.

 Banyak orang stres karena terlalu fokus pada masalah di bumi. Padahal, kalau kita naik "mi'raj" lewat shalat, masalah bumi itu terlihat kecil sekali dibandingkan kekuasaan Allah yang Maha Besar.

Peristiwa ini adalah pondasi keteguhan tauhid. Jika tauhid kita kuat, tidak ada masalah dunia yang bisa membuat kita tumbang atau putus asa.

Gunakan shalat sebagai media curhat paling aman. Allah tidak akan membocorkan rahasia kita, malah Allah akan memberikan solusi yang tidak disangka-sangka dari arah yang tak terduga.

Jadi, peringatan Isra Mi’raj 2026 ini adalah pengingat bagi kita semua: Kalau hati terasa sesak, naiklah! Bukan naik gunung, tapi naikkan frekuensi ibadah dan doa kita kepada Allah.

Semoga kita selalu diberikan ketenangan jiwa dan kekuatan dalam menghadapi segala ujian hidup. Jadikan shalat sebagai penyejuk hati di kala duka melanda.

Demikian kultum singkat ini. Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 3: Operasi Hati Tanpa BPJS (Tema: Pembersihan Hati dan Integritas)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihat. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya kebaikan menjadi sempurna. Shalat dan salam semoga tercurah bagi teladan kita Nabi Muhammad SAW.

Bapak-Ibu, sebelum Nabi berangkat Isra Mi’raj, dada beliau dibelah oleh Malaikat Jibril untuk dicuci hatinya dengan air Zam-zam. Ini adalah operasi besar, tapi uniknya tidak perlu antre pakai kartu BPJS.

Hati Nabi dibersihkan dari segala kotoran batin dan diisi dengan iman serta hikmah. Ini memberi pelajaran penting bagi kita: Untuk "naik" menemui Allah, hati kita harus bersih dulu dari penyakit.

Penyakit hati kita di tahun 2026 ini macam-macam bentuknya: ada iri liat tetangga beli mobil baru, ada dengki liat teman sukses, atau pamer (riya) di Instagram biar dibilang paling shalih.

Allah SWT berfirman dalam surat An-Najm ayat 13-14:

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ . عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَىٰ

"Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha."

Sidratul Muntaha adalah tempat yang sangat suci. Agus Mustofa dalam bukunya Terpesona di Sidratul Muntaha menjelaskan bahwa kedekatan hamba dengan Allah mensyaratkan kesucian jiwa yang total.

Kita sering kali shalat tapi hati masih mikirin cicilan, shalat tapi lisan masih suka ghibah, atau shalat tapi tangan masih suka ngetik komentar jahat di media sosial. Ini namanya shalat tapi hatinya belum "operasi".

Dalam Teori Double Movement, nilai ideal dari peristiwa ini adalah integritas. Jika hati bersih, perilaku kita di luar shalat pun akan ikut bersih.

Isra Mi’raj mengajak kita melakukan introspeksi diri. Berapa banyak sampah yang kita simpan di hati? Yuk, kita bersihkan hati kita melalui istighfar dan taubat murni di momentum peringatan ini.

Orang yang hatinya bersih akan merasakan nikmatnya shalat. Shalatnya tidak lagi buru-buru seperti ayam matok makanan, tapi tenang karena benar-benar merasa sedang "berkunjung" ke hadirat Allah.

Semoga di peringatan Isra Mi’raj 2026 ini, kita semua diberikan kekuatan untuk membersihkan hati dari segala penyakit yang menghambat doa-doa kita menembus langit.

Ya Allah, bersihkanlah hati kami, teguhkanlah iman kami, dan terimalah shalat kami. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 4: Logika Manusia vs Kuasa Allah (Tema: Keimanan dan Tauhid)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, nahmaduhu wanasta’inuhu wanastaghfiruh. Wa na’udzubillahi min syuruuri anfusina. Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh.

Bapak-Ibu, saat Nabi pulang dari Isra Mi’raj dan bercerita bahwa beliau pergi ke Baitul Maqdis lalu ke langit dalam satu malam, orang kafir Quraisy tertawa terpingkal-pingkal. Mereka bilang Nabi sudah gila.

Secara logika zaman itu, perjalanan itu butuh waktu sebulan pakai unta tercepat. Tapi Abu Bakar r.a. langsung bilang: "Kalau Muhammad yang bicara, jangankan ke langit, lebih dari itu pun aku percaya!"

Inilah bedanya logika manusia dengan iman. Logika manusia itu terbatas seperti kuota internet yang bisa habis, tapi kuasa Allah itu tak terbatas seperti sinyal yang menembus dimensi apa pun.

Allah SWT menegaskan dalam QS. Al-Isra [17]: 1 dengan kata Subhaana (Maha Suci). Menurut Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, kata ini digunakan untuk menunjukkan peristiwa yang di luar nalar manusia tapi sangat mudah bagi Allah.

Di tahun 2026 ini, banyak orang yang terlalu mendewakan logika. Mereka hanya percaya pada apa yang masuk akal dan data ilmiah saja, tapi lupa bahwa ada Zat yang menciptakan akal dan data tersebut.

Isra Mi’raj adalah pondasi keteguhan tauhid. Percaya pada hal gaib adalah ciri utama orang bertakwa. Tanpa iman pada yang gaib, shalat kita hanya akan jadi senam pagi biasa.

Dulu orang tidak percaya Nabi bisa pindah tempat secepat kilat. Sekarang, kita bisa video call dengan orang di Amerika secara real-time. Kalau teknologi manusia saja bisa secepat itu, apalagi teknologi Allah?

Jangan pernah meragukan janji Allah hanya karena logika kita belum sampai. Allah bilang "Berdoalah, niscaya Aku kabulkan," ya percaya saja. Jangan malah mikir, "Emang Allah denger doa saya yang receh begini?"

Isra Mi’raj mengajarkan kita untuk menundukkan akal di bawah wahyu. Akal itu penting untuk memahami dunia, tapi imanlah yang membawa kita memahami akhirat dan kebesaran Pencipta.

Semoga peringatan ini semakin mempertebal keimanan kita. Jangan jadi orang yang baru percaya kalau sudah lihat bukti, tapi jadilah orang yang percaya karena Allah yang menjanjikan kebenaran.

Mari kita tutup dengan doa agar hati kita selalu ditetapkan dalam iman yang kokoh, sekuat iman Abu Bakar Ash-Shiddiq. Amin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 5: Sholat dan Sinyal Langit (Tema: Komunikasi Hamba melalui Shalat)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, wa bihi nasta’inu ‘ala umuriddunya waddin. Ash-shalatu was-salamu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Bapak-Ibu, pernah tidak lagi asyik menelepon tiba-tiba suaranya putus-putus atau "lag" karena sinyal lemah? Rasanya kesal sekali, apalagi kalau lagi bicara hal penting atau lagi war tiket konser.

Nah, "oleh-oleh" Isra Mi’raj berupa shalat adalah teknologi komunikasi paling canggih sejagat raya. Sinyalnya tidak pernah down, tidak butuh provider mahal, dan jangkauannya menembus Arasy Allah SWT.

Saat Nabi naik ke Sidratul Muntaha, beliau menerima frekuensi komunikasi langsung ini. Sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Najm [53]: 13-14, Nabi melihat tanda-tanda kekuasaan Allah yang paling agung.

M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa shalat adalah "pendakian" ruhani. Bayangkan, lima kali sehari kita diberikan akses VIP untuk bicara langsung dengan Raja Diraja tanpa perantara ajudan atau protokol.

Tapi sayangnya, banyak dari kita yang "telepon" Allah lewat shalat tapi hatinya tidak nyambung. Mulut bilang Allahu Akbar, tapi pikiran masih di pasar, masih mikirin cicilan motor, atau masih mikirin masakan di dapur.

Ini namanya shalat tapi "sinyalnya" terganggu oleh gangguan frekuensi duniawi. Akibatnya, pesan kedamaian dan ketenangan dari Allah tidak sampai ke hati kita. Akhirnya setelah shalat, kita masih saja galau dan emosian.

Gaya hidup tahun 2026 yang serba cepat sering membuat kita terburu-buru dalam shalat. Kita shalat seperti sedang lomba lari estafet. Padahal, rahasia kedekatan hamba adalah pada ketenangan dan kekhusyukan.

Shalat adalah sarana kontrol diri. Orang yang komunikasi langitnya lancar dan disiplin, pasti integritas dan perilakunya di bumi akan terpuji.

Mari kita manfaatkan "fasilitas gratis" ini sebaik-baiknya. Jangan sampai kita lebih sibuk menjaga baterai HP tetap 100% tapi membiarkan "baterai iman" kita drop sampai 1% karena jarang shalat atau shalatnya asal-asalan.

Jadikan setiap sujud kita sebagai momen curhat paling intim. Mintalah apa saja, karena Allah sangat senang jika hamba-Nya "mengetuk pintu langit" melalui ibadah shalat yang khusyuk.

Semoga shalat kita di tahun 2026 ini semakin berkualitas, tidak ada lagi "gangguan sinyal", dan benar-benar membawa perubahan positif dalam kehidupan kita.

Aqiimush-shalaah... Tegakkanlah shalat, maka Allah akan menegakkan urusan hidupmu. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 6: Sabar Itu Aktif, Bukan Sekadar Menunggu Keajaiban

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahi hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih. Segala puji bagi Allah yang senantiasa memberi kekuatan kepada hamba-hamba-Nya yang bersabar. Shalawat dan salam bagi Baginda Nabi Muhammad SAW.

Bapak-Ibu, kalau ada musibah, orang sering bilang "Sabar ya...". Tapi banyak yang salah paham, mengira sabar itu cuma diam, pasrah, dan meratapi nasib di pojokan kamar sambil nunggu keajaiban jatuh dari langit.

Nabi Muhammad SAW memberikan teladan sabar yang luar biasa di tahun Isra Mi’raj. Beliau sedang diuji dengan tekanan dakwah yang luar biasa hebat, tapi beliau tidak berhenti bergerak dan tidak menyerah pada keadaan.

Sabar itu aktif. Nabi menjemput kemuliaan dengan tetap istiqamah berdakwah meski hatinya sedang lara. Inilah yang membuat Allah akhirnya "menjemput" beliau untuk melihat rahasia langit sebagai penguat jiwa.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 153, yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat..."

Ayat ini menyandingkan sabar dengan shalat. Menurut M. Quraish Shihab, shalat adalah bensinnya sabar. Tanpa shalat, stok sabar manusia akan cepat habis karena hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri.

Sabar Nabi di masa lalu adalah nilai ideal yang harus kita bawa ke realitas 2026. Sabar hari ini berarti tetap produktif meski ekonomi sedang sulit.

Jangan biarkan ujian hidup membuat kita jadi malas ibadah atau berhenti berbuat baik. Ingat, Isra Mi'raj adalah bukti bahwa setelah puncak kesulitan, akan ada puncak kemuliaan yang menanti kita.

Jurnal Murnia Suri (2022) menekankan bahwa keteguhan tauhid membuat seseorang punya "mental baja". Dia tahu bahwa setiap ujian adalah skenario Allah untuk menaikkan kelas spiritual hamba-Nya.

Jadi, kalau tahun 2026 ini ada masalah, jangan cuma bikin status sedih. Tapi "mi'raj-kan" masalah itu lewat sujudmu, lalu bangkitlah bekerja dengan keyakinan bahwa Allah pasti membantu hamba yang berusaha.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kesabaran sekuat para Nabi dan kekuatan untuk selalu berikhtiar di jalan yang Engkau ridhai. Jangan biarkan kami berputus asa dari rahmat-Mu yang luas.

Semoga kita semua lulus dari ujian hidup dengan nilai yang memuaskan di mata Allah. Jadikan sabar dan shalat sebagai senjatamu menghadapi tantangan zaman. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 7: Etika Medsos ala Sidratul Muntaha

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahilladzi arsala rasulahu bil huda wa dinil haqq. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita petunjuk melalui Al-Qur'an. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah SAW.

Bapak-Ibu, di tahun 2026 ini, jempol kita seringkali lebih cepat bertindak daripada pikiran kita. Ada berita heboh sedikit, langsung kita share ke semua grup tanpa tahu itu fakta atau cuma karangan orang iseng.

Tahu tidak, salah satu rahasia Isra Mi’raj adalah integritas Nabi. Saat pulang, beliau menceritakan apa adanya meski tahu akan dihina. Beliau tidak menambah-nambah cerita supaya terlihat lebih "wow" atau viral.

Integritas inilah yang kita butuhkan sekarang. Sebelum berangkat Mi’raj, hati Nabi disucikan. Pelajarannya: kalau batin kita bersih, apa yang kita posting dan komentari di media sosial pun akan ikut bersih.

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Najm [53]: 17. Soal ini, Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi menjelaskan bahwa Nabi sangat jujur dalam menyampaikan kebenaran. Beliau tidak "halu" dan tidak melebih-lebihkan fakta hanya demi mendapatkan pujian dari manusia.

Tauhid yang kokoh harus terlihat dalam etika berperilaku. Orang yang beriman tidak akan berani menyebarkan hoaks atau fitnah karena dia tahu Allah Maha Melihat.

Mari kita jadikan peringatan Isra Mi’raj ini sebagai momentum "detoks digital". Hapus keinginan untuk pamer (riya), hapus jari yang suka menghujat, dan ganti dengan konten yang membawa manfaat bagi umat.

Dalam skripsi Mitha Diah Ayu, ditekankan bahwa perubahan perilaku adalah esensi dari hikmah Al-Qur'an. Jika peringatan Isra Mi’raj tidak mengubah cara kita berkomunikasi, berarti kita baru sekadar merayakan seremoninya saja.

Hamba yang dekat dengan Allah (ibadullah) adalah hamba yang ucapannya menyejukkan dan tindakannya mendamaikan, bukan hamba yang suka bikin gaduh di kolom komentar orang lain.

Ya Allah, jagalah lisan dan jari kami dari ucapan yang menyakitkan sesama. Jadikanlah kami pribadi yang menyebarkan kebenaran dan kedamaian di mana pun kami berada, termasuk di dunia maya.

Semoga kita semua bisa menjaga amanah lisan ini dengan sebaik-baiknya. Ingat, setiap ketikan kita akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di hadapan Allah. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 8: Buraq dan Filosofi Kecepatan dalam Berbuat Baik

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahi wa kafa, washalatu wasalamu ‘ala rasulihil musthafa. Segala puji bagi Allah, Tuhan yang menciptakan waktu dan dimensi. Shalat serta salam untuk teladan kita, Muhammad SAW.

Bapak-Ibu, kita sekarang hidup di zaman yang serba cepat; ada kereta cepat, internet kilat, sampai makanan instan. Tapi sehebat-hebatnya teknologi manusia, tetap saja ada kata macet, delay, atau gangguan teknis yang menyebalkan.

Nabi Muhammad SAW dalam Isra Mi’raj punya kendaraan yang jauh melampaui teknologi manusia, namanya Buraq. Dalam waktu singkat, bisa menempuh perjalanan yang menurut logika manusia butuh waktu berbulan-bulan.

Kendaraan ini bukan cuma soal kecepatan fisik, tapi simbol tentang kemauan yang kuat. Buraq datang saat Nabi siap untuk melangkah. Ini mengajarkan kita: kalau mau dekat dengan Allah, jangan menunda-nunda waktu.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra [17]: 1, yang artinya: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya..."

Imam Ar-Razi menjelaskan bahwa perjalanan ini adalah keajaiban yang membuktikan bahwa hukum alam itu tunduk pada penciptanya. Jika Allah mau, yang mustahil pun bisa terjadi dalam sekejap mata saja.

Seringkali kita dalam berbuat baik justru pakai mode "siput"; menunda shalat, menunda sedekah, menunda minta maaf. Tapi kalau urusan duniawi, kita inginnya pakai mode "Buraq" alias ingin serba cepat suksesnya.

Hikmah dari kisah ini adalah tentang respons cepat terhadap perintah Tuhan. Nabi langsung berangkat saat diperintah. Kita pun seharusnya langsung bergerak saat mendengar azan.

Tahun 2026 ini penuh dengan distraksi yang membuat kita lambat dalam urusan akhirat. Kita terlalu sibuk dengan urusan yang tidak dibawa mati sampai lupa mempersiapkan bekal untuk perjalanan panjang setelah ini.

Mari kita miliki mentalitas "Buraq" dalam beribadah; cepat merespons panggilan Allah, sigap membantu sesama, dan tangkas dalam memperbaiki kesalahan diri sendiri tanpa menunggu hari esok.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami semangat yang tinggi dalam mengejar rida-Mu. Jangan biarkan rasa malas menghambat kami untuk menjadi hamba-Mu yang lebih baik setiap harinya.

Semoga keberkahan Isra Mi’raj menginspirasi kita untuk menjadi pribadi yang lebih dinamis dan produktif dalam kebaikan. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa ada amal yang berarti. Amin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 9: Diskon Shalat yang Sering Disia-siakan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahilladzi hadana lihadza wa ma kunna linahtadiya lau la an hadanallah. Segala puji bagi Allah yang memberikan kemudahan dalam syariat-Nya. Shalawat dan salam bagi Rasulullah SAW.

Bapak-Ibu, bayangkan kalau kita hari ini harus shalat 50 waktu sehari semalam. Mungkin kita tidak akan sempat bekerja, makan, bahkan tidur. Baru selesai salam shalat Zuhur yang ke-10, sudah masuk waktu shalat berikutnya.

Berkat kasih sayang Allah dan "diplomasi" Nabi Muhammad SAW atas saran Nabi Musa as., beban 50 waktu itu dipangkas hingga tersisa 5 waktu saja. Tapi luar biasanya, pahalanya tetap dihitung seperti 50 waktu.

Ini adalah "diskon" paling fantastis sepanjang sejarah manusia. Allah memberikan diskon beban kerja sebanyak 90%, tapi tetap memberikan bonus gaji yang utuh 100%. Benar-benar tawaran yang tidak boleh dilewatkan.

Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi menyebutkan bahwa ini adalah bukti betapa Allah sangat memahami keterbatasan hamba-Nya. Allah ingin kita selamat, tapi tidak ingin memberatkan kita secara berlebihan.

Anehnya, meski sudah didiskon habis-habisan, masih banyak dari kita yang merasa 5 waktu itu terlalu berat. Kita sering tawar-menawar dengan waktu; shalatnya dijamak sendiri karena malas, atau malah sengaja ditinggalkan.

Shalat adalah bukti paling konkrit dari keteguhan tauhid seseorang. Jika urusan 5 waktu yang sudah dimudahkan ini saja kita abaikan, bagaimana kita bisa dipercaya memegang amanah besar?

Mari kita syukuri kemudahan ini dengan mengerjakannya dengan penuh cinta, bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Shalat adalah "hadiah" yang Nabi perjuangkan untuk kita agar kita tetap punya hubungan dengan langit.

Jangan sampai kita jadi hamba yang kufur nikmat; sudah diberi diskon, diberi kemudahan, diberi pahala berlipat, tapi masih saja mencari-cari alasan untuk menjauh dari panggilan Allah yang mulia ini.

Ya Allah, mudahkanlah langkah kami menuju rumah-Mu, gerakkanlah hati kami untuk mencintai shalat, dan jadikanlah shalat kami sebagai pelindung kami di dunia dan akhirat kelak.

Semoga peringatan Isra Mi’raj tahun 2026 ini membuat kita lebih malu jika masih sering telat shalat. Mari kita persembahkan yang terbaik dari 5 waktu yang kita miliki. Amin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 10: Meeting VIP dengan Sang Pemilik Takdir

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, washalatu wasalamu ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Segala puji bagi Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Amma ba’du.

Bapak-Ibu, kalau kita diundang rapat oleh pimpinan daerah atau tokoh besar, pasti kita sibuk menyiapkan diri; baju disetrika rapi, datang tepat waktu, dan bicara seperlunya agar terlihat cerdas dan sopan di depan mereka.

Isra Mi’raj memberikan kita kesempatan untuk "meeting" VIP dengan Allah lima kali sehari melalui shalat. Sayangnya, seringkali kita datang ke pertemuan agung ini dengan hati yang masih "off" atau sibuk memikirkan hal lain.

Sebagian dari kita shalat hanya untuk "absen" supaya tidak dianggap membangkang. Padahal Nabi naik ke Sidratul Muntaha untuk menunjukkan bahwa kualitas pertemuan pribadi dengan Tuhan adalah kunci kebahagiaan sejati.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mu’minun [23]: 1-2:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ . الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

yang artinya: "Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya."

Agus Mustofa dalam bukunya menjelaskan bahwa shalat seharusnya menjadi momen di mana ego kita meleleh. Kita bukan siapa-siapa di hadapan kebesaran Allah, dan di situlah letak kekuatan sesungguhnya dari seorang hamba.

Nilai ideal shalat adalah sebagai sarana kontrol diri. Jika pertemuan kita dengan Allah berkualitas, maka karakter kita di luar shalat pun akan lebih bermartabat.

Seringkali kita merasa hidup ini kacau dan tidak teratur. Coba cek kualitas "meeting" kita dengan Allah. Kalau hubungan dengan Sang Pemilik Takdir saja tidak beres, bagaimana urusan lain di dunia bisa berjalan lancar?

Di tahun 2026 ini, mari kita naikkan level shalat kita dari sekadar kewajiban menjadi sebuah kerinduan. Jangan cuma fisik yang menghadap kiblat, tapi pastikan jiwa dan batin kita juga ikut "mi'raj" menghadap-Nya.

Gunakan waktu shalat untuk "konsultasi" atas segala masalah hidup. Allah tidak butuh shalat kita, kitalah yang butuh shalat sebagai sarana untuk menata ulang hati yang seringkali berantakan oleh urusan dunia.

Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kekhusyukan yang mendalam dalam shalat kami. Jangan biarkan pikiran kami melayang ke tempat lain saat kami berdiri bersimpuh di hadapan-Mu yang Maha Agung.

Semoga shalat kita menjadi sarana turunnya rahmat dan pertolongan Allah atas segala kesulitan yang kita hadapi. Jadikanlah kami hamba-Mu yang setia memenuhi undangan-Mu. Amin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 11: Astronaut Spiritual dan Pembersihan Hati

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahilladzi biyadidhil mulk wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir. Segala puji bagi Allah yang rahmat-Nya tak terhingga. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.

Bapak-Ibu, Anda tahu bagaimana persiapan seorang astronaut yang mau berangkat ke stasiun luar angkasa? Mereka harus melalui karantina ketat dan pemeriksaan kesehatan luar-dalam agar tidak membawa virus ke luar sana.

Nabi Muhammad SAW sebelum berangkat Isra Mi’raj juga melalui proses "karantina spiritual". Dada beliau dibelah dan hatinya dicuci bersih untuk membuang segala kotoran batin yang mungkin ada dalam diri manusia.

Pelajaran besarnya: Untuk bisa mendekat kepada Allah, kita harus melakukan pembersihan diri. Kita tidak mungkin mencapai ketenangan spiritual jika hati kita masih penuh dengan "sampah" emosi negatif yang kita simpan bertahun-tahun.

Hal ini sejalan dengan prinsip QS. Asy-Syams [91]: 9, yang artinya: "Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu (dengan ketaatan)."

Penjelasan dalam Tafsir al-Jilani menyebutkan bahwa Mi’raj sejati bagi seorang mukmin adalah naiknya ruh menuju derajat makrifat, dan hal itu hanya bisa terjadi jika hati sudah bersih dari selain Allah.

Seringkali kita merasa shalat kita kering dan tidak ada rasanya. Mungkin karena hati kita masih penuh dengan rasa sombong, dendam, atau rasa paling benar sendiri. Kotoran batin itulah yang membuat "sinyal" kita ke langit terganggu.

Pondasi perilaku adalah tauhid yang jernih. Orang yang hatinya bersih akan lebih mudah bersikap sabar, jujur, dan penyayang kepada sesama makhluk tanpa membeda-bedakan.

Mari gunakan momentum Isra Mi’raj 2026 ini sebagai waktu "cuci gudang" batin kita. Buang rasa iri, lepaskan dendam masa lalu, dan bersihkan niat kita agar hanya mencari rida Allah semata dalam setiap amal.

Menjadi "astronaut spiritual" berarti kita harus belajar untuk melepaskan beban keterikatan pada dunia saat menghadap-Nya. Hanya dengan hati yang ringan dan bersihlah kita bisa merasakan kebahagiaan ibadah yang sesungguhnya.

Ya Allah, sucikanlah hati kami dari segala penyakit batin yang menghalangi kami untuk mencintai-Mu dengan tulus. Jadikanlah hati kami rumah bagi iman, hikmah, dan ketenangan abadi.

Semoga kita semua diberikan hidayah untuk terus memperbaiki diri dan menjaga kesucian hati hingga kelak kita kembali kepada-Nya dengan hati yang selamat. Amin ya Rabbal 'Alamin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 12: Shalat Jamaah Sebagai Anti-Virus Perpecahan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahi wash-shalatu was-salamu ‘ala sayyidil mursalin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Segala puji bagi Allah yang memerintahkan kita untuk bersatu dalam ketaatan. Amma ba’du.

Bapak-Ibu, shalat itu sebenarnya ibadah yang sangat bernuansa sosial. Meski Nabi Mi’raj sendirian, tapi perintah yang dibawa pulang adalah untuk dikerjakan secara berjamaah, terutama bagi kita kaum laki-laki di masjid.

Dalam barisan shalat jamaah, semua identitas duniawi kita lepaskan. Tidak ada saf VIP untuk orang kaya atau saf ekonomi untuk orang biasa. Siapa yang datang duluan, dialah yang berhak di saf terdepan mendampingi imam.

Ini adalah sistem penyetaraan manusia yang paling hebat. Di hadapan Allah, baju kita mungkin beda harganya, tapi sujud kita sama rendahnya di atas lantai yang sama. Ini adalah simbol persatuan yang sangat kuat.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 43, yang artinya: "Dan tegakkanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk."

M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa perintah "rukuklah bersama-sama" mengisyaratkan bahwa kekuatan umat Islam terletak pada kebersamaan dan kedisiplinan dalam mengikuti satu kepemimpinan (imam) yang benar.

Di tahun 2026 yang penuh dengan isu yang bisa memecah belah, shalat jamaah adalah "anti-virus" yang efektif. Kalau di masjid saja kita bisa rukun berdampingan, seharusnya di luar masjid kita tidak mudah bertengkar hanya karena beda pendapat.

Nilai ideal moral dari shalat adalah keteraturan sosial. Jika shalat jamaah kita rapi, seharusnya manajemen kehidupan masyarakat kita juga menjadi lebih tertib dan saling menghargai.

Mari kita ramaikan kembali masjid-masjid kita. Jangan biarkan masjid hanya megah bangunannya tapi sepi jamaahnya. Kesalehan pribadi itu baik, tapi kesalehan sosial yang lahir dari jamaah jauh lebih dicintai Allah.

Jadikan setiap pertemuan di masjid sebagai ajang untuk saling mengenal dan membantu sesama. Itulah esensi dari umat yang satu, yang disatukan oleh perintah suci yang dibawa Nabi dari perjalanan Mi’raj-nya.

Ya Allah, satukanlah hati kami dalam kecintaan kepada-Mu dan rasul-Mu. Jauhkanlah kami dari sifat sombong yang membuat kami merasa lebih baik daripada orang lain dalam barisan ketaatan.

Semoga kita selalu istiqamah menjaga jamaah kita, baik dalam ibadah maupun dalam urusan kemasyarakatan. Jadikanlah kami umat yang kuat karena persatuan batin kami. Amin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Kultum 13: Hijrah Mental Menuju Pribadi yang Lebih Baik

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahi hamdan yuwafi ni’amahu wa yukafi’u mazidah. Segala puji bagi Allah yang senantiasa membuka pintu taubat bagi hamba-Nya. Shalawat serta salam bagi Nabi Muhammad SAW.

Bapak-Ibu, inti dari peristiwa Isra (perjalanan) dan Mi’raj (kenaikan) adalah adanya sebuah perpindahan. Pindah dari tempat yang sempit menuju yang luas, pindah dari kondisi yang sedih menuju kondisi yang mulia di langit.

Peringatan Isra Mi’raj di tahun 2026 ini akan sia-sia jika hidup kita tidak mengalami "perpindahan" kualitas ke arah yang lebih baik. Masih dengan sifat malas yang sama, ego yang sama, dan kelalaian shalat yang sama.

Esensi Mi’raj bagi kita sekarang adalah "hijrah mental". Berpindah dari pribadi yang suka mengeluh menjadi pribadi yang pandai bersyukur, dari yang suka menunda kewajiban menjadi pribadi yang disiplin dan cekatan.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Ra’d [13]: 11, yang artinya: "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."

Penjelasan Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi menekankan bahwa hidayah itu harus dijemput dengan kemauan keras untuk berubah. Allah sudah memberikan "jalur" lewat shalat, kitalah yang harus mau melangkah di jalur itu.

Jangan sampai kita terjebak dalam rutinitas ibadah yang tanpa makna. Isra Mi’raj mengajak kita untuk terus "naik" kelas; hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan tahun ini harus lebih taat daripada tahun-tahun sebelumnya.

Perubahan besar dalam sejarah dimulai dari perubahan kesadaran individu. Kita tidak bisa mengubah dunia jika kita tidak bisa mengubah jadwal shalat kita sendiri.

Tahun 2026 adalah waktu yang tepat untuk menata ulang prioritas hidup. Jadikan rida Allah sebagai tujuan utama, dan biarkan urusan dunia mengikuti di belakang sebagai penunjang ibadah kita kepada-Nya.

Mari kita tutup peringatan ini dengan niat yang kuat untuk melakukan "Mi’raj karakter". Jadilah pribadi yang lebih sabar, jujur, dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar kita sebagai wujud nyata dari hikmah Isra Mi’raj.

Ya Allah, bimbinglah kami untuk selalu berada di jalan-Mu yang lurus. Berikanlah kami kekuatan untuk meninggalkan kebiasaan buruk kami dan menggantinya dengan amal shalih yang Engkau cintai.

Semoga Allah memberkahi setiap langkah kita untuk menjadi hamba yang lebih berkualitas. Teruslah "mendaki" dalam kebaikan sampai maut menjemput kita dalam keadaan husnul khatimah. Amin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

People also Ask:

Ceritakan dengan singkat apa yang kamu ketahui tentang Isra Miraj.?

Apa Itu Isra Miraj? Berikut Pengertian, Sejarah hingga HikmahnyaIsra Mi'raj adalah mukjizat perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Yerusalem) (Isra), dilanjutkan dengan kenaikan ke langit ketujuh (Mi'raj) hingga Sidratul Muntaha dalam satu malam, di mana beliau menerima perintah langsung salat lima waktu, menegaskan keimanan, dan menyaksikan tanda kebesaran Allah SWT. Peristiwa ini menjadi penguat keyakinan dan sumber hikmah, khususnya tentang kewajiban salat fardhu.

Apa pelajaran yang bisa diambil dari kisah Isra Miraj?

Isra Miraj adalah Pelajaran Berharga untuk Kita

Salat lima waktu, yang menjadi inti dari peristiwa ini, mengajarkan umat Islam untuk senantiasa menjaga komunikasi dengan Sang Pencipta.

Peringatan Isra Miraj membaca apa?

Salah satu dzikir yang dianjurkan menjelang Isra Miraj adalah bacaan Laa haula walaa quwwata illa billah, yang diajarkan oleh Nabi Ibrahim kepada Rasulullah SAW saat peristiwa Isra Miraj.

Apa kesimpulan dari peristiwa Isra Miraj?

Kesimpulan peristiwa Isra Mi'raj adalah peneguhan kebesaran Allah SWT, keistimewaan Nabi Muhammad SAW sebagai hamba pilihan, dan penetapan shalat lima waktu sebagai ibadah fundamental, serta menjadi sumber inspirasi bagi umat Islam untuk memperkuat iman, ketakwaan, dan keteguhan dalam menghadapi tantangan dakwah, dengan pelajaran penting tentang kebersihan spiritual, keimanan yang teguh, serta peringatan akan akibat perbuatan maksiat.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |