Liputan6.com, Jakarta - Kultum ba’da maghrib acara pengajian ibu-ibu tentang adab lisan menjadi pengingat bagi muslimah untuk menjaga lisan sebagai bagian dari akhlak mulia. Sebab, lisan sangat rentan tergelincir dalam ghibah atau kata-kata sia-sia jika tidak dibentengi iman yang kuat.
Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam" (HR. Bukhari & Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa bukti nyata keimanan seseorang adalah kemampuannya dalam menimbang manfaat setiap kata sebelum diucapkan, guna menghindari luka hati sesama manusia.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengunngkapkan, lisan berpotensi membahayakan. Dia mengingatkan pentingnya hifzhul lisan (menjaga lisan) agar energi bicara dialihkan untuk zikir dan nasihat, daripada pembicaraan sia-sia yang dapat mengeraskan hati. Melalui kultum ini, diharapkan jemaah pengajian mampu menjadikan setiap ucapan sebagai sarana menebar kasih sayang dalam keluarga dan lingkungan.
Berikut ini adalah 5 contoh kultum tentang adab lisan dalam pengajian ba'da maghrib ibu-ibu.
Kultum 1: Berkata Baik atau Diam sebagai Bukti Iman
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahirabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, serta kesehatan sehingga kita dapat berkumpul di majelis ilmu yang mulia ini ba'da Maghrib. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.
Ibu-ibu jamaah pengajian yang dirahmati Allah, lisan adalah nikmat besar yang Allah titipkan kepada kita. Sebagai wanita, kita sering kali berkomunikasi lebih banyak dalam keseharian, maka sangat penting bagi kita untuk memastikan bahwa setiap kata yang keluar adalah kebaikan.
Tema kultum kita sore ini adalah tentang prinsip utama dalam berbicara, yaitu memilih antara kata-kata yang bermanfaat atau lebih baik menahan diri dalam diam. Hal ini merupakan standar kemuliaan akhlak seorang muslimah di hadapan Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis sahih:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: "Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengandung perintah yang tegas bagi kita semua. Jika kita merasa apa yang akan kita ucapkan tidak membawa manfaat, tidak menenangkan hati, atau justru menyakiti, maka diam adalah pilihan ibadah yang paling utama.
Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Arba’in An-Nawawiyah menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan bahwa berbicara itu harus dipikirkan terlebih dahulu. Jika pembicaraan itu jelas maslahatnya maka bicaralah, namun jika ragu akan mendatangkan mudarat, maka menahan diri adalah kewajiban.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering tergoda untuk mengomentari hal-hal yang tidak perlu. Mari kita belajar untuk menyaring ucapan kita; apakah kata-kata ini akan menambah pahala atau justru menjadi beban dosa di hari kiamat kelak.
Ibu-ibu sekalian, diamnya seorang mukminah saat ada godaan untuk mencela atau bergosip adalah sebuah kemenangan besar. Mari kita jadikan lisan kita hanya sebagai sarana berzikir, menasihati dalam kebaikan, dan mempererat tali silaturahmi.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing lisan kita agar selalu terjaga dari kalimat yang sia-sia. Mari kita tutup pengajian ini dengan kesadaran baru untuk lebih berhati-hati dalam bertutur kata kepada suami, anak, maupun tetangga.
Allahumma inna na’udzu bika min syarri alsinatina. Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari keburukan lisan kami. Ampunilah segala khilaf kata yang pernah terucap dan jadikanlah kami hamba-Mu yang pandai menjaga adab.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kultum 2: Menjaga Lisan dari Bahaya Ghibah
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, yang telah menyatukan hati kita dalam ukhuwah Islamiyah. Mari kita haturkan selawat dan salam kepada Rasulullah SAW, teladan terbaik kita dalam bertutur kata yang lembut dan penuh makna.
Ibu-ibu yang dimuliakan Allah, salah satu ujian terbesar lisan kita saat berkumpul adalah godaan untuk membicarakan orang lain atau ghibah. Terkadang, tanpa sadar pembicaraan kita meluas hingga membuka aib sesama muslimah yang seharusnya kita tutup rapat.
Ghibah adalah penyakit lisan yang sangat berbahaya karena dapat memakan amal kebaikan kita sebagaimana api memakan kayu bakar. Oleh karena itu, menjaga adab lisan dari menggunjing adalah kunci ketenangan hidup dan keberkahan dalam bermasyarakat.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat Al-Hujurat ayat 12:
وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
Artinya: "Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya."
Ayat ini menggambarkan betapa menjijikkannya perbuatan ghibah di mata Allah SWT. Membicarakan aib orang lain disamakan dengan memakan bangkai saudara sendiri, sebuah perumpamaan yang seharusnya membuat kita bergetar untuk berhenti melakukannya.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa ghibah sering kali berakar dari penyakit hati seperti iri, dengki, atau ingin merasa lebih mulia. Beliau menekankan bahwa lisan adalah cermin dari apa yang ada di dalam hati manusia.
Mari kita biasakan untuk segera mengalihkan pembicaraan jika suasana mulai menjurus pada ghibah. Lebih baik kita mendoakan kebaikan bagi orang tersebut daripada menyebarkan kekurangannya yang belum tentu benar sepenuhnya.
Seorang ibu adalah pendidik pertama di rumah; jika lisan sang ibu terjaga, maka anak-anak akan tumbuh dengan akhlak yang serupa. Mari kita berikan teladan tutur kata yang bersih dan jujur di hadapan keluarga kita tercinta.
Semoga perkumpulan kita ba'da Maghrib ini mendatangkan rahmat dan menjauhkan kita dari murka Allah akibat lisan yang tidak terjaga. Mari kita bertekad untuk menjadikan majelis kita sebagai tempat menabung pahala, bukan tempat menyebar fitnah.
Ya Allah, bersihkanlah lisan kami dari ghibah, dusta, dan adu domba. Hiasilah lisan kami dengan zikir dan perkataan yang membangun semangat persaudaraan di antara kami. Amin ya Rabbal 'Alamin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kultum 3: Lisan sebagai Kunci Jaminan Surga
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat-Nya yang tak terhingga. Selawat dan salam senantiasa tercurah bagi Nabi Muhammad SAW, manusia paling mulia yang menjamin keselamatan bagi umatnya yang taat.
Ibu-ibu jamaah yang berbahagia, setiap kita pasti mendambakan surga sebagai tempat kembali yang abadi. Namun, tahukah kita bahwa salah satu kunci utama untuk meraih jaminan surga tersebut ada pada sesuatu yang sangat dekat dengan kita, yaitu lisan.
Lisan yang kecil ini memiliki kekuatan besar; ia bisa membawa kita ke derajat yang tinggi di surga atau justru menjerumuskan kita ke dalam jurang neraka. Maka, memahami adab bicara adalah kebutuhan mendesak bagi setiap muslimah.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang sangat indah:
مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
Artinya: "Barang siapa yang dapat menjamin bagiku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan), maka aku menjamin baginya surga." (HR. Bukhari).
Hadis ini adalah janji yang luar biasa dari Rasulullah SAW. Beliau memberikan jaminan surga secara langsung jika kita mampu mengendalikan ucapan dan menjaga kehormatan diri dari segala perbuatan maksiat.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa menjaga lisan disebut lebih dahulu karena lisan adalah organ yang paling mudah tergelincir dalam dosa. Beliau menekankan bahwa banyak orang masuk neraka karena menganggap remeh perkataan yang mereka lontarkan.
Ibu-ibu sekalian, mari kita mulai menjaga lisan kita dari kata-kata kasar, makian, atau sumpah serapah dalam mendidik anak. Gunakanlah lisan untuk mendoakan yang terbaik bagi keluarga, karena doa seorang ibu adalah mustajab.
Menjaga lisan bukan berarti kita harus berhenti bicara sama sekali, melainkan belajar untuk lebih beradab dalam setiap kata. Katakanlah kebenaran dengan kelembutan, dan berikan nasihat dengan kasih sayang yang tulus.
Bayangkan jika setiap kata yang kita ucapkan hari ini menjadi saksi kebaikan di hari akhir nanti. Tentu kita akan merasa sangat bahagia jika buku catatan amal kita dipenuhi dengan kalimat-kalimat thayyibah yang menyejukkan.
Semoga pengajian sore ini menjadi pengingat bagi kita untuk lebih menghargai nikmat berbicara. Mari kita rawat lisan kita agar layak menjadi penghuni surga bersama Rasulullah SAW kelak.
Ya Allah, mudahkanlah kami untuk menjaga lisan kami sesuai dengan rida-Mu. Jadikanlah setiap ucapan kami sebagai timbangan kebaikan yang memberatkan mizan kami di hari kiamat. Amin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kultum 4: Kelembutan Lisan dalam Rumah Tangga
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, puji syukur kita haturkan kepada Allah SWT yang telah memberi kita kesempatan untuk bertholabul 'ilmi malam ini. Selawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, penyempurna akhlak mulia bagi umat manusia.
Ibu-ibu sekalian, rumah adalah tempat pertama di mana adab lisan kita diuji. Sebagai seorang istri dan ibu, lisan kita sering kali menjadi penentu suasana hati di rumah; apakah akan menjadi rumah yang tenang seperti surga atau justru penuh ketegangan.
Adab lisan yang penuh kasih sayang kepada suami dan anak-anak adalah bentuk ibadah yang sangat besar pahalanya. Sebaliknya, lisan yang tajam dan suka mengeluh dapat menghapus keberkahan dari jerih payah kita dalam mengurus rumah tangga.
Rasulullah SAW mengingatkan kita tentang hakikat seorang muslim:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Artinya: "Seorang muslim sejati adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya." (HR. Bukhari).
Hadis ini mengajarkan kita bahwa ukuran kualitas keislaman seseorang adalah seberapa aman orang di sekitarnya dari kata-katanya. Orang terdekat kita, yaitu keluarga, adalah pihak yang paling berhak mendapatkan keamanan dan kenyamanan dari lisan kita.
Imam Al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir menjelaskan bahwa keselamatan dari lisan berarti tidak ada cacian, hinaan, maupun kata-kata yang menjatuhkan harga diri orang lain. Beliau menekankan bahwa lisan yang lembut adalah pembuka pintu rahmat Ilahi.
Sering kali saat kita lelah dengan pekerjaan rumah, lisan kita mudah sekali mengucap kalimat yang kurang pantas. Mari kita ganti keluhan itu dengan istighfar atau hamdalah, agar kelelahan kita tidak sia-sia dan tetap bernilai pahala.
Gunakanlah lisan untuk memberikan apresiasi kepada anggota keluarga, meskipun untuk hal-hal kecil. Kata-kata yang menghargai akan menumbuhkan rasa cinta dan hormat yang lebih dalam di antara penghuni rumah.
Ibu-ibu yang dirahmati Allah, mari kita jadikan rumah kita sebagai tempat yang paling dirindukan karena tutur kata kita yang selalu membesarkan hati. Lisan yang beradab adalah kunci keharmonisan yang tidak bisa dibeli dengan materi.
Semoga Allah SWT memberkahi rumah tangga kita dan menjadikan lisan kita sebagai sumber inspirasi kebaikan bagi anak cucu kita. Mari kita terus belajar memperbaiki diri hingga ajal menjemput.
Ya Allah, jadikanlah lisan kami sebagai penyejuk bagi keluarga kami. Karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk selalu berkata lembut dan jujur dalam setiap keadaan. Amin ya Rabbal 'Alamin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kultum 5: Bahaya Lisan yang Tidak Dipertimbangkan
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat-Nya kita dapat kembali berkumpul dalam majelis yang penuh berkah ini. Selawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada baginda Nabi Muhammad SAW.
Ibu-ibu jamaah pengajian, terkadang kita merasa bahwa sepatah kata yang kita ucapkan adalah hal yang sepele dan tidak berdampak apa-apa. Namun, dalam pandangan agama, satu kalimat yang tidak dipertimbangkan bisa memiliki dampak yang sangat dahsyat.
Adab lisan mengharuskan kita untuk berpikir dua kali sebelum bicara, apalagi jika menyangkut perasaan orang lain atau urusan agama. Jangan sampai kita menjadi orang yang bangkrut di akhirat karena lisan yang tidak terkontrol.
Rasulullah SAW memperingatkan kita dalam hadis riwayat Imam Muslim:
إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ
Artinya: "Sesungguhnya seorang hamba terkadang mengucapkan satu kalimat yang tidak ia pikirkan (dampaknya), maka kalimat itu bisa menjerumuskannya ke dalam neraka yang jaraknya lebih jauh dari jarak antara timur (dan barat)."
Hadis ini sangat menggetarkan hati kita, betapa satu kalimat yang kita anggap "biasa saja" bisa menjadi sebab kemurkaan Allah. Hal ini sering terjadi saat kita bercanda secara berlebihan atau memberikan informasi yang belum tentu kebenarannya.
Syaikh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Nashaihul Ibad menjelaskan bahwa bahaya lisan muncul karena manusia sering kali mengabaikan pengawasan Allah atas bicaranya. Beliau menyarankan agar setiap mukmin membiasakan diri untuk selalu bermuhasabah sebelum bicara.
Mari kita berhati-hati dalam menyebarkan berita di grup WhatsApp atau saat mengobrol di teras rumah. Pastikan setiap informasi yang kita sampaikan adalah benar dan memiliki nilai manfaat, bukan sekadar rumor yang bisa memecah belah.
Menjaga lisan adalah bentuk penjagaan terhadap kehormatan diri kita sendiri sebagai wanita muslimah. Wanita yang mulia adalah wanita yang tutur katanya terjaga, sopan, dan tidak suka mencampuri urusan yang bukan bagiannya.
Semoga pengajian ba'da Maghrib ini menguatkan tekad kita untuk lebih bijak dalam berkomunikasi. Mari kita jadikan lisan sebagai sarana untuk meraih rida-Nya dan menjauhkan diri dari segala bentuk kebinasaan.
Ya Allah, lindungilah kami dari lisan yang membawa fitnah dan kekacauan. Bimbinglah kami agar selalu mampu menimbang manfaat dan mudarat dalam setiap kata yang kami ucapkan. Amin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
People also Ask:
Apa pesan yang disampaikan oleh Rasulullah tentang penggunaan lisan?
Sebuah hadis Nabi Muhammad SAW menyatakan, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menekankan pentingnya berpikir sebelum berbicara dan memastikan bahwa setiap kata yang keluar membawa manfaat, bukan keburukan.
Bukankah manusia diseret ke neraka di atas wajah mereka disebabkan oleh hasil ucapan lisan mereka?
Tidaklah manusia tersungkur di neraka di atas wajah atau di atas hidung mereka melainkan dengan sebab lisan mereka. '” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih). [HR. Tirmidzi, no. 2616 dan Ibnu Majah, no. 3973. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan hadits ini hasan].
Bagaimana bunyi hadits menjaga lisan?
Hadis tentang menjaga Lisan
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat tanpa dipikirkan terlebih dahulu, dan karenanya dia terjatuh ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.” (HR. Muslim no. 2988).
Mengapa Rasulullah mengajarkan umatnya untuk menjaga lisan?
Namun, di sisi lain, lisan juga bisa melukai hati orang lain melalui perkataan buruk, seperti fitnah, gosip, dan ujaran kebencian. Oleh karena itu, Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa menjaga adab berbicara.
Apa surah dan ayat al-Qur'an yang membahas tentang perkataan yang baik?
Al-Qur'an membahas perkataan baik di banyak ayat, seperti Al-Baqarah ayat 83 ("katakanlah kata-kata yang baik kepada manusia"), Al-Ahzab ayat 70 ("ucapkanlah perkataan yang benar"), Al-Isra ayat 53 ("ucapkanlah perkataan yang lebih baik"), dan Al-Maidah ayat 85 ("perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang menyakitkan"). Ayat-ayat ini menekankan pentingnya berkata sopan, benar, mulia, dan lemah lembut sebagai bagian dari ketaqwaan dan akhlak terpuji.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5095573/original/012538800_1736934827-pexels-helloaesthe-15707485.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5121926/original/039550200_1738729829-1738723823107_muamalah-adalah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5423024/original/045605200_1764051067-Membaca_ayat_suci_al_quran__pexels_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417694/original/055901700_1763543336-Kultum_Singkat_tentang_Sabar.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5438947/original/026009100_1765343687-SnapInsta.to_590425390_18544905169033381_7948525635136531867_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4628436/original/095598200_1698637528-8712637.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2978888/original/058603600_1574829310-20191127-Lowongan-Pekerjaan-Dibuka-di-Job-Fair-Jakarta-TALLO-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3998634/original/078503800_1650277026-20220418-Tadarus_Al-Quran_di_Bulan_Ramadhan-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3097896/original/057966000_1586407258-concrete-dome-buildings-during-golden-hour-2236674.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5067115/original/068159000_1735273362-1735270416030_kata-kata-mutiara-islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4858180/original/029627600_1717939832-WhatsApp_Image_2024-05-29_at_10.56.30.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5309824/original/049461300_1754640312-56c16cba-d65e-4d65-9a2f-45a2fa7bdd9a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490521/original/051406700_1770014009-Ilustrasi_Puasa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381448/original/032968300_1613719892-wooden-spoon-fork-as-clock-hands-white-plate_49149-1007.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5365523/original/042845000_1759199598-Dua_wanita_muslimah_membaca_buku.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490999/original/014133400_1770040826-Masjid_Agung_Demak.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5082627/original/054307600_1736234976-1736231853819_apa-itu-nisfu-syaban.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5326255/original/074223700_1756094319-pexels-mahmut-33108520.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4975448/original/020264400_1729564664-nisfu-syaban-adalah.jpg)





























