Liputan6.com, Jakarta - Contoh teks ceramah islami tentang adab bertetangga menjadi penting, mengingat di era sekarang interaksi dengan tetangga semakin berkurang dan lebih bersifat individualistis. Dalam situasi demikian, masalah kecil pun bisa menyebabkan friksi atau pertikaian yang tak perlu.
Dalam Islam adab bertetangga menjadi salah satu yang diatur cukup rinci. Surah An-Nisa ayat 36, memerintahkan berbuat baik kepada "tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh." Ayat ini menjadi landasan utama bahwa kebaikan kepada tetangga tidak memandang latar belakang agama atau kedekatan kekerabatan.
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menerangkan bahwa ayat tersebut menekankan keadilan sosial dan penghormatan universal, di mana tetangga nonmuslim pun berhak diperlakukan dengan ihsan. Di sisi lain, Nabi Nabi Muhammad SAW bersabda: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya" (HR. Bukhari).
Menjaga hubungan bertetangga yang baik adalah cermin akhlak mulia dan bentuk keimanan yang nyata dalam membangun masyarakat yang harmonis dan penuh rahmat. Berikut ini Liputan6.com ulas 5 contoh teks ceramah islami tentang adab bertetangga menurut Islam.
1. Teks Ceramah Islami tentang Pentingnya Menolong Tetangga
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ
Hadirin yang dirahmati Allah,
Hidup bertetangga adalah suatu keniscayaan dalam kehidupan sosial. Islam menaruh perhatian sangat besar terhadap hubungan ini, bukan sekadar sebagai kewajiban horizontal, tetapi sebagai bagian integral dari keimanan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an surat An-Nisā’ ayat 36:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ
Artinya: "Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh."
Ayat ini menempatkan hak tetangga secara berurutan setelah hak keluarga inti, menunjukkan urgensinya. Imam Ibnu Katsīr dalam kitab tafsirnya, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, menjelaskan bahwa perintah berbuat baik ini bersifat umum, mencakup tetangga muslim dan non-muslim, dekat secara tempat maupun jauh.
Rasulullah SAW pun menegaskan hal ini dalam sabdanya:
مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
Artinya: "Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku tentang tetangga, hingga aku mengira bahwa dia akan menjadikannya sebagai ahli waris." (HR. al-Bukhārī dan Muslim)
Hadis ini menggambarkan betapa kuat penekanan Islam tentang hak tetangga. Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalānī dalam kitab syarahnya, Fatḥ al-Bārī, menerangkan bahwa pengulangan wasiat ini menunjukkan tingginya kedudukan tetangga hingga mendekati posisi keluarga yang saling mewarisi.
Menolong tetangga memiliki bentuk yang sangat beragam, mulai dari bantuan tenaga, pikiran, hingga materi. Sederhana saja, seperti membantu membawa barang belanjaan tetangga yang sudah sepuh, atau menitipkan anak tetangga sebentar saat orang tuanya ada keperluan mendesak.
Imam al-Ghazālī dalam magnum opus-nya, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, menegaskan bahwa menolong tetangga yang kesusahan dapat menghapus dosa dan mendekatkan diri kepada Allah. Beliau menyatakan bahwa orang yang enggan menolong tetangganya padahal mampu, termasuk orang yang meremehkan nikmat Allah.
Praktik menolong tetangga ini telah dicontohkan oleh generasi terbaik. Diceritakan bahwa Abdullah bin Umar RA tidak pernah makan malam sebelum memastikan tetangga-tetangganya telah mendapatkan bagian makanan. Ini adalah telatan nyata dalam memprioritaskan tetangga.
Hikmah dari saling menolong antara tetangga sangatlah besar. Selain memperkuat tali persaudaraan (ukhuwah), ia juga menciptakan sistem keamanan dan kenyamanan sosial yang alami. Lingkungan menjadi tempat yang nyaman untuk tinggal dan membina keluarga.
Di era individualistik seperti sekarang, semangat tolong-menolong ini sering tergerus. Masing-masing sibuk dengan dunianya sendiri, pagi berangkat kerja, malam pulang, pintu langsung tertutup. Interaksi dengan tetangga menjadi sangat minimal.
Oleh karena itu, mari kita hidupkan kembali sunnah Nabi ini. Mulailah dengan hal kecil. Kenali tetangga kita, sapa mereka, tanyakan kabarnya, dan tawarkan bantuan jika mereka tampak membutuhkan. Jangan menunggu diminta.
Dengan demikian, kita tidak hanya mendapatkan pahala dan keberkahan, tetapi juga membangun masyarakat yang kuat, penuh empati, dan saling mendukung, sebagaimana cita-cita Islam.
اللّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُحْسِنِينَ إِلَى الْجِيرَانِ، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْخُلُقِ فِي التَّعَامُلِ مَعَهُمْ، وَاجْعَلْنَا سَبَبًا لِلْخَيْرِ فِي الْحَيِّ وَالْمُجْتَمَعِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
2. Ceramah tentang Berbagi Rezeki dengan Tetangga
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، أَمَّا بَعْدُ
Hadirin jamaah yang berbahagia,
Salah satu wujud nyata akhlak bertetangga adalah sikap dermawan dan suka berbagi. Rezeki yang Allah titipkan kepada kita bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga mengandung hak bagi orang-orang di sekitar kita, terutama tetangga.
Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya, QS. al-Baqarah ayat 267:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu."
Ayat ini mendorong kita untuk berbagi dari sesuatu yang kita cintai dan dari hasil yang baik. Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar menjelaskan, berbagi kepada tetangga termasuk dalam kategori infaq yang diperintahkan. Bahkan, tetangga memiliki hak khusus atas kelebihan rezeki kita.
Rasulullah SAW memberikan batasan yang sangat jelas tentang standar keimanan terkait hal ini:
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِي يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ
Artinya: "Bukanlah orang beriman (yang sempurna) orang yang kenyang sementara tetangga sebelahnya kelaparan." (HR. al-Bukhārī)
Sabda Nabi ini sangat tegas. Imam al-Nawawī dalam kitab Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim menerangkan bahwa hadis ini menunjukkan kewajiban memastikan kebutuhan dasar tetangga terpenuhi. Pengabaian terhadap hal ini merupakan cacat dalam keimanan.
Berbagi dengan tetangga tidak selalu berarti materi besar. Sederhana saja, seperti mengirimkan sebagian masakan kita, membagikan buah dari kebun, atau memberikan makanan lebih saat kita memiliki hajatan. Ini adalah bentuk syukur dan kepedulian.
Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitab al-Musnad meriwayatkan atsar bahwa Nabi SAW menganjurkan, "Wahai wanita muslimah, janganlah sekali-kali seorang tetangga meremehkan untuk memberikan kepada tetangganya walaupun hanya berupa kaki kambing." Ini menunjukkan bahwa nilai bukan pada banyaknya, tetapi pada kepedulian.
Sejarah mencatat betapa pemimpin seperti Umar bin al-Khaṭṭāb sangat sensitif terhadap hal ini. Beliau pernah memikul sendiri sekarung gandum untuk dibawakan kepada tetangganya yang miskin, karena takut tetangganya itu malu jika dikirim melalui pembantu.
Hikmah dari kebiasaan berbagi ini sangat mendalam. Ia memutus mata rantai kesenjangan sosial, menumbuhkan rasa cinta dan persaudaraan, serta mencegah timbulnya penyakit hati seperti iri, dengki, dan benci dalam lingkungan tempat tinggal.
Di tengah kehidupan kota yang individualis, budaya berbagi ini sering terlupakan. Kita lebih sering memesan makanan secara online untuk diri sendiri daripada menawarkan kepada tetangga. Atau, kita merasa cukup hanya dengan menyapa tanpa ada aksi nyata.
Mari kita ubah paradigma ini. Jadikan berbagi sebagai gaya hidup. Mulailah dari tetangga terdekat. Dengan berbagi, rezeki menjadi berkah, hubungan menjadi harmonis, dan masyarakat menjadi kuat bagai sebuah bangunan yang saling menguatkan.
اللّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْإِحْسَانِ وَالْإِيثَارِ، وَارْزُقْنَا قُلُوبًا تَتَّسِعُ لِحُبِّ الْجِيرَانِ، وَاجْعَلْنَا سَبَبًا لِسَعَادَةِ مَنْ حَوْلَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَرْزَاقِنَا وَأَعْمَارِنَا، بِرَحْمَتِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
3. Ceramah tentang Kewajiban Menjenguk Tetangga yang Sakit
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الشَّافِي الْمُعَافِي، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ الْهَادِي، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا، أَمَّا بَعْدُ:
Hadirin yang dirahmati Allah,Sakit adalah bagian dari takdir kehidupan yang mengingatkan kita akan kelemahan sebagai hamba. Dalam kondisi seperti ini, perhatian dan kepedulian dari orang sekitar, terutama tetangga, menjadi obat psikologis yang sangat berarti.
Rasulullah SAW menyebutkan hak seorang muslim atas muslim lainnya, termasuk ketika sakit:
حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ، وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ، وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ، وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ
Artinya: "Hak muslim atas muslim lainnya ada enam: jika engkau bertemu, ucapkan salam; jika diundang, penuhilah; jika meminta nasihat, berilah nasihat; jika bersin lalu memuji Allah, doakanlah; jika sakit, jenguklah; dan jika meninggal, antarkanlah jenazahnya." (HR. Muslim)
Hadis ini sangat sistematis menyebut kewajiban sosial. Imam al-Nawawī dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim menegaskan bahwa menjenguk orang sakit hukumnya fardhu kifayah, dan sangat ditekankan untuk tetangga dekat dan kerabat. Ia adalah bentuk solidaritas dan penyempurna hak ukhuwah.
Imam al-Qurṭubī dalam tafsirnya mengutip pendapat ulama bahwa menjenguk orang sakit memiliki banyak keutamaan, di antaranya meringankan beban, mendoakan kesembuhan, dan mengingatkan akan akhirat. Bahkan, pahala menjenguk setara dengan memetik buah-buahan surga.
Adab menjenguk pun diajarkan dengan indah: singkat dan tidak mengganggu, mendoakan kesembuhan dengan doa-doa ma’tsur, memberikan semangat, serta tidak membicarakan hal yang memberatkan si sakit. Kunjungan yang tulus jauh lebih berharga daripada lamanya waktu.
Nabi SAW sendiri memberikan teladan dengan menjenguk sahabat yang sakit, bahkan seorang anak Yahudi yang menjadi pelayannya. Beliau duduk di sampingnya, mengusap kepala anak itu, dan mendoakannya. Akhlak universal ini menunjukkan bahwa kemanusiaan melampaui batas agama.
Dalam kitab Riyāḍ al-Ṣāliḥīn, Imam al-Nawawī meriwayatkan sabda Nabi: "Apabila seseorang menjenguk saudaranya yang sakit, maka dia senantiasa berada di taman surga hingga pulang." Ini menunjukkan betapa mulianya amalan ini di sisi Allah.
Hikmahnya sangat jelas: mempererat hubungan, memberikan kekuatan mental bagi yang sakit, serta menjadi pengingat bagi yang sehat untuk bersyukur. Ia juga membangun jaringan sosial yang saling peduli, bukan individualistik.
Di zaman sekarang, kesibukan sering menjadi alasan untuk tidak menjenguk. Padahal, dengan teknologi, kita bisa mengabari atau setidaknya menelepon untuk menanyakan keadaan sebelum berkunjung. Kepedulian tidak boleh hilang.
Oleh karenanya, mari kita budayakan kebiasaan mulia ini. Jika ada tetangga yang sakit, luangkan waktu sejenak untuk menjenguk. Bawalah sesuatu yang menyenangkan hatinya, walau hanya buah tangan sederhana.
Dengan demikian, kita turut membangun masyarakat yang penuh empati, saling menguatkan dalam suka dan duka, merealisasikan Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam.
اللّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ، وَارْزُقْنَا الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَتَعَاطَفُ مَعَ الْجِيرَانِ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
4. Ceramah tentang Menjaga Kehormatan dan Privasi Tetangga
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي شَرَعَ الْأَخْلَاقَ الْكَرِيمَةَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ الْقُدْوَةِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ:
Hadirin yang dimuliakan Allah,Sebagian dari kesempurnaan akhlak bertetangga adalah menjaga kehormatan dan privasi mereka. Islam sangat melindungi kehormatan individu, dan tetangga sebagai orang terdekat memiliki hak untuk merasa aman dari gangguan dan pelanggaran privasi.
Allah SWT berfirman dalam QS. al-Ḥujurāt ayat 12:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain."
Ayat ini merupakan fondasi etika sosial Islam. Imam Ibnu Katsīr dalam tafsirnya menjelaskan larangan tajassus (mencari-cari kesalahan) dan ghibah sangat relevan dalam konteks bertetangga, karena kedekatan tempat tinggal sering menjadi pemicu.
Rasulullah SAW juga memberikan ancaman keras terkait pelanggaran ini:
مَنْ سَمِعَ حَدِيثَ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ، أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ، صُبَّ فِي أُذُنِهِ الْآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Artinya: "Barangsiapa mendengarkan pembicaraan suatu kaum sedangkan mereka tidak menyukainya atau menghindar darinya, maka pada hari Kiamat akan dituangkan timah cair ke dalam telinganya." (HR. al-Bukhārī)
Imam Badr al-Dīn al-‘Aynī dalam ‘Umdat al-Qārī menjelaskan, hadis ini berlaku umum, termasuk upaya menguping pembicaraan atau aktivitas tetangga tanpa seizin mereka. Ini adalah peringatan tentang betapa seriusnya agama menjaga privasi.
Menghormati privasi tetangga mencakup banyak hal: tidak mengintip ke rumah atau halaman mereka, tidak menyebarkan rahasia atau aib keluarga mereka, tidak masuk tanpa izin, dan tidak bertindak seolah-olah kita memiliki hak atas ruang pribadi mereka.
Imam al-Ghazālī dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn menulis bab khusus tentang menjaga lisan dan mata dari aib orang lain. Beliau menegaskan, "Barangsiapa menutupi aib tetangganya, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat."
Kisah Khalifah ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz sangat inspiratif. Beliau pernah mendengar tetangganya yang miskin bertengkar dengan istrinya karena tak ada makanan. ‘Umar lalu mengirimkan sekarung bahan makanan tanpa memberitahu identitasnya, demi menjaga harga diri tetangganya.
Hikmah dari sikap ini sangat besar: menumbuhkan rasa saling percaya, mencegah konflik dan permusuhan, serta menciptakan lingkungan yang tenang dan aman. Setiap orang merasa nyaman karena privasinya dihargai.
Di era digital, pelanggaran privasi bisa lebih halus, seperti membicarakan urusan tetangga di grup media sosial atau memotret rumah mereka tanpa izin. Kita harus lebih berhati-hati dan menjaga etika ini di ruang maya sekalipun.
Mari kita berkomitmen untuk menjadi tetangga yang baik dengan menjaga kehormatan dan privasi sesama. Jika kita ingin dihormati, mulailah dengan menghormati. Inilah jalan menuju masyarakat madani yang beradab.
اللّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْحَيَاءِ وَالسِّتْرِ، وَارْزُقْنَا تَعْظِيمَ حُرُمَاتِ الْجِيرَانِ، وَاصْرِفْ عَنَّا فُضُولَ النَّظَرِ وَالْكَلَامِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُتَعَاوِنِينَ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى، بِرَحْمَتِكَ يَا سَتَّارَ الْعُيُوبِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
5. Ceramah tentang Saling Menasihati dengan Santun antar Tetangga
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ النَّصِيحَةَ مِنْ أَرْكَانِ الدِّينِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ الْأَمِينِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِينَ، أَمَّا بَعْدُ
Hadirin yang berbahagia,Sebagai makhluk sosial, manusia pasti membutuhkan tegur sapa dan nasihat untuk hidup lebih baik. Tetangga, dengan kedekatan geografis dan frekuensi pertemuan yang tinggi, memiliki posisi strategis untuk saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.
Allah SWT berfirman dalam QS. al-‘Aṣr:
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Artinya: "Dan mereka saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran."
Ayat singkat ini menjadi penentu keselamatan manusia dari kerugian. Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar menjelaskan bahwa tawāṣī (saling menasihati) adalah konsekuensi logis dari keimanan yang hidup. Ia adalah kewajiban sosial, dan tetangga adalah lingkaran pertama penerapannya.
Rasulullah SAW pun mendefinisikan agama dengan sangat jelas:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ، قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُولِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
Artinya: "Agama adalah nasihat." Kami bertanya, "Untuk siapa?" Beliau bersabda, "Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan untuk umumnya mereka." (HR. Muslim)
Imam al-Nawawī dalam Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim menerangkan bahwa nasihat untuk "umumnya kaum muslimin" mencakup menasihati tetangga dengan cara yang bijak, penuh kasih sayang, dan bertujuan memperbaiki, bukan merendahkan.
Adab menasihati tetangga sangatlah penting. Harus dilakukan dengan rahasia (tidak di depan umum), menggunakan kata-kata yang lembut, memilih waktu yang tepat, serta didasari niat ikhlas untuk kebaikan bersama, bukan merasa lebih benar.
Imam Ḥasan al-Baṣrī, seorang tabi'in terkemuka, pernah berkata, "Sesungguhnya seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika melihat aib padanya, dia segera memperbaikinya." Perkataan mulia ini diriwayatkan oleh Ibnu al-Mubārak dalam kitab al-Zuhd.
Sejarah mencatat sikap Umar bin al-Khaṭṭāb yang tegas namun santun. Beliau pernah menegur seorang tetangganya yang sedang marah-marah kepada istrinya dengan mengatakan, "Takutlah kepada Allah dalam memperlakukan keluargamu." Teguran yang tulus ini berbuah taubat.
Hikmah dari tradisi saling menasihati ini sangat besar. Ia dapat mencegah tetangga dari kesalahan yang berlarut-larut, menciptakan lingkungan yang kondusif untuk perbaikan diri, serta memperkuat ikatan persaudaraan berdasarkan nilai-nilai kebenaran.
Sayangnya, di masyarakat modern, budaya menasihati sering disalahtafsirkan sebagai ikut campur urusan orang lain. Akibatnya, banyak yang diam melihat kemungkaran di depan mata, padahal ia bisa dicegah dengan nasihat yang baik.
Mari kita bangun keberanian untuk menasihati dengan santun, dan juga kerendahan hati untuk menerima nasihat. Jadikan lingkungan tempat tinggal kita sebagai madrasah akhlak, di mana setiap orang tumbuh bersama dalam kebaikan.
اللّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ النَّاصِحِينَ لَكَ وَلِرَسُولِكَ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ، وَارْزُقْنَا الْحِكْمَةَ فِي النَّصِيحَةِ، وَاجْعَلْنَا سَبَبًا لِلْهِدَايَةِ وَالْخَيْرِ، بِرَحْمَتِكَ يَا هَادِيَ الْقُلُوبِ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
People also Ask:
Sebutkan Adab Adab Bertetangga Menurut Islam?
Selain itu menurut Imam Al-Ghazali ada 12 adab-adab bertetangga antara lain :Mendahulukan mengucap salam.Tidak berlama-lama bicara.Tidak banyak bertanya.Menjenguknya ketika sakit.Bertakziah ketika mendapat musibah.Berbahagia dengan kebahagiaannya.Berlemah lembut bicara pada anak dan pembantunya.Memaafkan Kesalahannya.
Sebutkan 4 bentuk perbuatan baik kepada tetangga?
Sikap baik kepada tetangga antara lain saling membantu saat kesulitan, menjaga privasi dan tidak mengganggu, bersikap ramah dan sopan (salam, senyum), serta menunjukkan perhatian seperti menjenguk saat sakit atau memberi makanan. Sikap-sikap ini menciptakan kerukunan dan keharmonisan dalam bertetangga, sesuai dengan anjuran agama dan nilai sosial yang baik.
Siapakah tetangga yang paling baik di sisi Allah menurut hadits?
(HR. Bukhari dan Muslim) Tetangga terbaik Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik teman di sisi Allah adalah orang yang paling baik diantara mereka terhadap temannya. Dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang paling baik di antara mereka terhadap tetangganya”.
Bagaimana cara beradab islami kepada saudara, teman, dan tetangga?
Adab Terhadap Saudara, Teman, dan TetanggaMenjalin silaturrahmi.Saling perhatian dan kasih sayang.Menjaga nama baik keluarga.Menjauhi sifat permusuhan.Menjaga perasaan.Bertegur sapa dengan santun.Saling merendah dan tidak meremehkan satu sama lain.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5024176/original/090387600_1732614331-quote-sabar-dan-ikhlas.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4975686/original/001020200_1729565914-nama-sahabat-nabi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3413087/original/89624600_1616897919-horizontal-shot-satisfied-college-student-uses-new-cool-app-cell-phone-carries-notepad-writing-notes-wears-spectacles-silk-scarf-knitted-sweater-isolated-blue-wall_273609-26316.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5095573/original/012538800_1736934827-pexels-helloaesthe-15707485.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5121926/original/039550200_1738729829-1738723823107_muamalah-adalah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5423024/original/045605200_1764051067-Membaca_ayat_suci_al_quran__pexels_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417694/original/055901700_1763543336-Kultum_Singkat_tentang_Sabar.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5438947/original/026009100_1765343687-SnapInsta.to_590425390_18544905169033381_7948525635136531867_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4628436/original/095598200_1698637528-8712637.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2978888/original/058603600_1574829310-20191127-Lowongan-Pekerjaan-Dibuka-di-Job-Fair-Jakarta-TALLO-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3998634/original/078503800_1650277026-20220418-Tadarus_Al-Quran_di_Bulan_Ramadhan-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3097896/original/057966000_1586407258-concrete-dome-buildings-during-golden-hour-2236674.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5067115/original/068159000_1735273362-1735270416030_kata-kata-mutiara-islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4858180/original/029627600_1717939832-WhatsApp_Image_2024-05-29_at_10.56.30.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5309824/original/049461300_1754640312-56c16cba-d65e-4d65-9a2f-45a2fa7bdd9a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490521/original/051406700_1770014009-Ilustrasi_Puasa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381448/original/032968300_1613719892-wooden-spoon-fork-as-clock-hands-white-plate_49149-1007.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5365523/original/042845000_1759199598-Dua_wanita_muslimah_membaca_buku.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490999/original/014133400_1770040826-Masjid_Agung_Demak.jpeg)





























