Liputan6.com, Jakarta - Teks ceramah islami mengenai menjaga lisan dan hati menjadi salah satu media untuk berdakwah pentingnya adab berbicara sekaligus perilaku muslim. Lisan ibarat pisau bermata dua; dapat menjadi ladang pahala jika digunakan untuk kebaikan, atau justru menjerumuskan pemiliknya ke dalam kebinasaan jika lalai.
Rasulullah SAW memberikan pedoman dalam sabdanya, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam" (HR. Bukhari dan Muslim). Prinsip ini mengajarkan bahwa kemampuan menahan diri untuk tidak berbicara hal sia-sia adalah bukti konkret dari kualitas iman seseorang.
KH. Abdullah Gymnastiar dalam buku Bahaya Lisan (2017) menjelaskan bahwa lisan memiliki potensi besar sebagai penentu kemuliaan atau kehinaan seseorang di hadapan Allah. Setiap kata diawasi dengan ketat. Hal ini berlandaskan pada firman Allah SWT: "Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir" (QS. Qaf: 18).
Berikut ini Liputan6.com sajikan 7 contoh teks ceramah islami mengenai menjaga lisan dan hati, lengkap dalil dan penjelasan ulama.
Teks Ceramah 1: Lisan adalah Cerminan Hati
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah SWT, Dzat yang mengetahui segala isi hati dan mendengar setiap bisikan lisan. Kita memuji-Nya atas nikmat iman dan Islam yang menjadi pelita dalam kehidupan kita sehari-hari.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW. Beliaulah suri tauladan terbaik dalam bertutur kata dan menjaga kebersihan hati, yang syafaatnya kita nantikan di yaumil akhir kelak.
Hadirin jamaah yang dimuliakan Allah. Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa. Yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, termasuk dalam urusan menjaga anggota tubuh kita dari dosa.
Pada kesempatan yang singkat ini, saya ingin menyampaikan sebuah renungan tentang hubungan erat antara lisan dan hati. Seringkali kita lupa bahwa apa yang terucap dari lidah kita adalah luapan dari apa yang tersembunyi di dalam dada. Lisan ibarat gayung, dan hati adalah tekonya; gayung hanya akan mengeluarkan isi dari teko tersebut.
Rasulullah SAW memberikan peringatan keras mengenai pentingnya segumpal daging yang menjadi raja bagi seluruh anggota tubuh. Beliau bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ؛ أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ
Artinya: "Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati." (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari hadis tersebut, kita memahami bahwa rusaknya lisan—seperti berkata kotor, mencaci, atau berbohong—adalah indikasi kuat adanya kerusakan di dalam hati. Tidak mungkin air yang jernih keluar dari sumber yang keruh, begitu pula tidak mungkin kata-kata yang buruk keluar dari hati yang bersih dan zikir kepada Allah.
Berkaitan dengan hal ini, mari kita simak penjelasan ulama besar, Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab beliau yang sangat masyhur, "Jami'ul 'Ulum wal Hikam". Beliau memberikan syarah atau penjelasan mendalam mengenai hadis ini.
Dalam kitab tersebut, Ibnu Rajab menjelaskan bahwa kebaikan gerakan anggota badan seorang hamba, termasuk lisannya, sangat bergantung pada kebaikan hatinya. Jika hati seseorang dipenuhi dengan cinta kepada Allah, maka lisannya pun hanya akan sibuk menyebut nama Allah dan hal-hal yang diridhai-Nya.
Sebaliknya, jika hati telah terkotori oleh penyakit-penyakit seperti riya', hasad, dan cinta dunia, maka lisan akan menjadi liar. Ia akan mudah menyakiti orang lain tanpa rasa bersalah. Oleh karena itu, memperbaiki lisan harus dimulai dengan memperbaiki hati (tazkiyatun nafs).
Jamaah yang berbahagia. Janganlah kita sibuk memoles kata-kata agar terlihat bijak di hadapan manusia, sementara hati kita berkarat di hadapan Allah. Ingatlah bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta kita, tetapi Allah melihat hati dan amal perbuatan kita.
Maka dari itu, mari kita mulai hari ini dengan menjaga hati dari prasangka buruk dan kebencian. Ketika hati bersih, insya Allah lisan akan terjaga, tutur kata akan santun, dan hidup akan menjadi lebih tenang serta penuh berkah.
Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kemunafikan dan lisan kami dari dusta. Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina 'adzabannar. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, dosa kedua orang tua kita, dan membimbing lisan serta hati kita menuju ridha-Nya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Teks Ceramah 2: Diam Itu Emas, Menjaga Lisan Itu Keselamatan
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin, wabihi nasta'inu 'ala umuriddunya waddin. Segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam yang telah menganugerahkan lisan agar kita dapat berzikir dan membaca ayat-ayat-Nya yang mulia.
Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala alihi wa shahbihi ajma'in. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad SAW, sosok yang paling fasih lisannya namun paling banyak diamnya kecuali dalam kebaikan.
Hadirin Rahimakumullah. Bertakwalah kepada Allah di mana pun kita berada. Salah satu bentuk ketakwaan yang paling nyata adalah kemampuan seorang mukmin untuk menahan diri, menahan amarah, dan menahan lisan dari ucapan yang tidak bermanfaat.
Tema kita kali ini adalah "Diam Itu Emas". Dalam Islam, berbicara bukanlah sekadar aktivitas komunikasi, melainkan sebuah amal yang akan dimintai pertanggungjawaban. Terlalu banyak bicara tanpa arah seringkali menggelincirkan seseorang ke dalam dosa yang tidak disadari.
Rasulullah SAW memberikan standar yang sangat jelas bagi orang yang beriman dalam menggunakan lisannya. Beliau bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini pendek namun maknanya sangat padat. Pilihan bagi orang beriman hanya dua: berkata yang mengandung kebaikan (seperti ilmu, zikir, perdamaian) atau, jika tidak mampu, maka memilih jalan selamat yaitu diam.
Seorang Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali, mengupas tuntas masalah ini dalam magnum opusnya, kitab "Ihya' 'Ulumuddin", khususnya pada bab Afat al-Lisan (Bahaya-bahaya Lisan).
Dalam kitab Ihya' 'Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa bahaya lisan itu sangat banyak, mulai dari berdusta, ghibah, namimah, hingga perdebatan kusir. Beliau menegaskan bahwa diam adalah kunci keselamatan dari semua bahaya tersebut, dan diam pada tempatnya adalah ibadah tanpa lelah.
Banyak orang terjerumus ke dalam neraka bukan karena kakinya melangkah ke tempat maksiat, melainkan karena lisannya yang tidak bertulang ini menebar fitnah dan menyakiti hati saudaranya. Luka karena pedang bisa sembuh, tapi luka karena lisan seringkali dibawa mati.
Maka, sebelum berbicara, pikirkanlah tiga hal: Apakah ucapan ini benar? Apakah ucapan ini bermanfaat? Dan apakah ucapan ini disampaikan pada waktu yang tepat? Jika jawabannya tidak, maka tahanlah.
Mari kita latih diri kita untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara, lebih banyak berzikir daripada mengobrol hal sia-sia. Semoga dengan menjaga lisan, Allah akan menjaga hati kita tetap bercahaya.
Ya Allah, jagalah lisan kami dari perkataan yang menyakiti hati hamba-hamba-Mu. Allahumma inna na'udzubika min 'ilmin la yanfa', wa min qalbin la yakhsya'. Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat dan dari hati yang tidak khusyuk.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Teks Ceramah 3: Bahaya Hati yang Keras Akibat Lisan yang Lalai
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillahilladzi hadana lihadza wa ma kunna linahtadiya lawla an hadanallah. Puji syukur kita panjatkan kepada Allah, yang membolak-balikkan hati manusia, semoga hati kita ditetapkan di atas agama-Nya.
Shalawat dan salam kita haturkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Beliau mengajarkan kita bahwa kelembutan hati adalah kunci untuk menerima hidayah, dan kekerasan hati adalah sumber dari segala bencana spiritual.
Jamaah shalat yang dirahmati Allah. Marilah kita senantiasa memperbaharui takwa kita. Takwa bukan hanya di masjid, tapi juga saat kita berinteraksi dengan sesama manusia melalui lisan kita sehari-hari.
Hari ini kita akan membahas tentang "Bahaya Hati yang Keras". Tahukah hadirin, bahwa salah satu penyebab utama hati menjadi keras, sulit menerima nasihat, dan malas beribadah adalah karena terlalu banyak bicara yang tidak mengingat Allah?
Rasulullah SAW telah mengingatkan kita akan bahaya ini dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:
لَا تُكْثِرُوا الْكَلَامَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْكَلَامِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَإِنَّ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْ اللَّهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي
Artinya: "Janganlah kalian banyak bicara tanpa berzikir kepada Allah, karena sesungguhnya banyak bicara tanpa zikir kepada Allah itu akan mengeraskan hati. Dan sesungguhnya orang yang paling jauh dari Allah adalah orang yang berhati keras." (HR. Tirmidzi).
Hadis ini menjelaskan korelasi langsung: Banyak bicara sia-sia = Hati menjadi keras. Hati yang keras itu ibarat batu, bahkan lebih keras lagi. Ia tidak mempan dinasihati, tidak tersentuh oleh ayat Al-Qur'an, dan tidak peka terhadap penderitaan orang lain.
Ulama besar yang dikenal sebagai dokter hati, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, memberikan penjelasan yang indah mengenai hal ini dalam kitab beliau, "Al-Wabilus Shayyib".
Dalam Al-Wabilus Shayyib, Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa pintu masuk setan yang paling besar ke dalam hati manusia adalah melalui lisan yang berlebihan dalam berbicara. Beliau menyebutkan bahwa hati yang lalai dari zikir akan menjadi sarang setan, sehingga sulit merasakan manisnya iman.
Oleh karena itu, obat dari hati yang keras adalah dengan membasahi lisan melalui zikir. Kurangi obrolan yang tidak perlu, kurangi komentar yang tidak membangun, dan gantilah dengan istighfar, tasbih, dan tilawah Al-Qur'an.
Hadirin yang dimuliakan Allah. Jika hari ini kita merasa berat melangkah ke masjid, merasa malas membaca Al-Qur'an, cobalah introspeksi lisan kita hari ini. Berapa banyak kata sia-sia yang sudah kita ucapkan?
Mari kita jaga hati kita agar tetap lembut. Hati yang lembut adalah hati yang dekat dengan Allah, hati yang mudah menangis karena dosa, dan hati yang penuh kasih sayang terhadap sesama makhluk.
Ya Allah, lembutkanlah hati kami dengan cahaya hidayah-Mu. Allahumma ya Muqallibal qulub, tsabbit qalbana 'ala dinik. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Teks Ceramah 4: Menjaga Lisan dari Ghibah (Menggunjing)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah yang telah menutupi aib-aib kita. Andai Allah menampakkan dosa dan aib kita di dahi kita, niscaya tidak ada satu pun manusia yang mau berteman dengan kita.
Shalawat serta salam untuk Nabi Muhammad SAW, nabi pembawa rahmat yang melarang umatnya saling mencela, saling mencari kesalahan, dan saling memakan "bangkai" saudaranya sendiri.
Kaum Muslimin wal Muslimat rahimakumullah. Takwa adalah pakaian terbaik seorang hamba. Mari kita jaga takwa kita dengan menjauhi salah satu dosa lisan yang paling sering terjadi namun dianggap remeh, yaitu Ghibah atau menggunjing.
Ghibah adalah membicarakan keburukan saudara kita di belakangnya, meskipun hal itu benar adanya. Jika tidak benar, maka itu menjadi fitnah. Penyakit ini sangat cepat merusak ukhuwah dan menghancurkan pahala amal saleh kita.
Allah SWT memberikan perumpamaan yang sangat menjijikkan bagi pelaku ghibah dalam Al-Qur'an Surah Al-Hujurat ayat 12:
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Artinya: "Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat: 12).
Bayangkan, Allah menyamakan orang yang bergosip dengan orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri. Ini menunjukkan betapa kotor dan hinanya perbuatan tersebut di sisi Allah, meskipun di mata manusia dianggap sekadar "obrolan santai".
Seorang mufassir besar, Imam Al-Qurtubi, dalam kitab tafsirnya "Al-Jami' li Ahkamil Qur'an" (Tafsir Al-Qurthubi), memberikan penjelasan mendalam mengenai ayat ini.
Dalam tafsirnya, Imam Al-Qurtubi menjelaskan bahwa kehormatan seorang muslim itu haram untuk dilanggar, sama seperti darah dan hartanya. Beliau menekankan bahwa ghibah merusak agama seseorang lebih cepat daripada penyakit kusta memakan tubuh.
Seringkali ghibah dimulai dari niat yang seolah baik, seperti "sekadar cerita" atau "kasihan". Namun, ketika aib orang lain mulai menjadi bahan tertawaan atau perendahan, saat itulah hati kita sedang mati perlahan.
Bagaimana cara menghindarinya? Jika kita mendengar orang lain mulai berghibah, kita wajib mengingatkan atau mengalihkan pembicaraan. Jika tidak mampu, tinggalkanlah majelis tersebut agar kita tidak ikut menanggung dosanya.
Mari kita sibuk dengan aib kita sendiri. Orang yang sibuk memperbaiki aib dirinya tidak akan sempat mengurusi aib orang lain. Jadikan lisan kita penyejuk, bukan pemicu api permusuhan.
Ya Allah, tutupilah aib-aib kami dan hindarkanlah lisan kami dari membicarakan keburukan orang lain. Rabbana zalamna anfusana wa in lam taghfir lana wa tarhamna lanakunanna minal khasirin. Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri, jika Engkau tidak mengampuni kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Teks Ceramah 5: Malaikat Mencatat Setiap Ucapan
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah, Dzat Yang Maha Mengawasi. Tidak ada satu pun yang luput dari pandangan-Nya, dan tidak ada satu pun yang terlewat dari pendengaran-Nya.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. Beliau mengajarkan kita kehati-hatian (wara') dalam berbicara, karena menyadari adanya pengawasan melekat dari Allah dan para malaikat-Nya.
Hadirin Jamaah Jumat/Majelis Ta'lim yang dimuliakan Allah. Mari kita tingkatkan ketakwaan kita. Takwa bukan hanya takut kepada Allah saat sendirian, tapi juga takut bahwa setiap kata yang keluar dari mulut kita sedang diarsipkan oleh Malaikat Raqib dan Atid.
Seringkali kita merasa bebas berbicara di media sosial atau di warung kopi, merasa bahwa ucapan itu akan hilang terbawa angin. Padahal, setiap huruf, setiap kalimat, tercatat rapi dalam kitab amal kita.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Qaf ayat 18, mengingatkan kita akan ketatnya pengawasan ini:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya: "Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." (QS. Qaf: 18).
Ayat ini adalah peringatan (warning) yang sangat tegas. "Raqib" bermakna yang selalu mengawasi, dan "Atid" bermakna yang selalu hadir/siap sedia. Tidak ada jeda istirahat bagi malaikat pencatat amal.
Terkait ayat ini, Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsir beliau yang fenomenal, "Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim", menukil pendapat dari Ibnu Abbas RA.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa malaikat mencatat segala sesuatu, baik itu ucapan yang baik, buruk, maupun yang mubah (boleh). Sampai-sampai, rintihan sakit pun dicatat. Ini menunjukkan betapa detailnya hisab di hari kiamat kelak.
Jika kita menyadari bahwa setiap status yang kita tulis, setiap komentar yang kita ketik, dan setiap celetukan kita dicatat, masih beranikah kita berbohong? Masih beranikah kita mencaci maki?
Ingatlah, buku catatan amal itu akan dibukakan di hadapan kita di Padang Mahsyar. Jangan sampai kita menyesal karena buku itu penuh dengan catatan dosa lisan yang kita anggap remeh saat di dunia.
Maka, saringlah ucapan sebelum dikeluarkan. Jadikan lisan kita sebagai ladang pahala dengan zikir, dakwah, dan nasihat yang baik, sehingga catatan amal kita dipenuhi dengan kebaikan.
Ya Allah, mudahkanlah hisab kami dan jadikanlah catatan amal kami penuh dengan kebaikan. Allahumma ahasibna hisaban yasira. Ya Allah, hisablah kami dengan hisab yang mudah.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Teks Ceramah 6: Perkataan Benar (Qaulan Sadidan) Menghapus Dosa
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang memerintahkan kita untuk berlaku jujur dan berkata benar. Kejujuran adalah jalan menuju ketenangan, dan dusta adalah jalan menuju kegelisahan.
Shalawat serta salam untuk Nabi Muhammad SAW, yang bergelar Al-Amin (Orang yang Terpercaya). Beliau tidak pernah berdusta, baik dalam keadaan serius maupun bercanda.
Hadirin yang dirahmati Allah. Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Salah satu ciri orang bertakwa adalah memiliki integritas lisan, yaitu berkata benar (Qaulan Sadidan).
Ada rahasia besar di balik kebiasaan berkata jujur dan lurus. Ternyata, menjaga lisan untuk selalu berkata benar memiliki dampak langsung terhadap perbaikan amal perbuatan kita yang lain dan pengampunan dosa. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 70-71:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu." (QS. Al-Ahzab: 70-71).
Lihatlah janji Allah dalam ayat ini. Ada dua hadiah besar bagi mereka yang menjaga lisannya untuk berkata jujur dan tepat sasaran:
- Amalannya akan diperbaiki/diterima
- Dosa-dosanya akan diampuni.
Syeikh Abdurrahman As-Sa'di dalam kitab tafsirnya, "Taisir Karimir Rahman", menjelaskan makna Qaulan Sadidan dalam ayat tersebut.
Dalam kitab tersebut, Beliau menjelaskan bahwa Qaulan Sadidan adalah perkataan yang lurus, tidak bengkok, tidak menyimpang, jujur, dan tepat. Ketika seorang hamba meluruskan lisannya, maka Allah akan membantu meluruskan anggota tubuh lainnya untuk beramal saleh.
Banyak orang merasa hidupnya berantakan, masalah datang silih berganti. Cobalah cek lisan kita. Mungkin kita sering berjanji tapi ingkar, sering membual, atau sering berkata kasar. Ketidaklurusan lisan ini mempengaruhi keberkahan hidup.
Berkata benar memang kadang pahit dan berat, apalagi jika menyangkut kepentingan pribadi. Namun, kejujuran akan selalu membawa pada keselamatan jangka panjang, sedangkan kebohongan hanya menawarkan kenyamanan sesaat sebelum kehancuran.
Mari kita latih anak-anak kita, keluarga kita, dan diri kita sendiri untuk selalu jujur. Jangan biarkan satu pun kata dusta keluar, karena satu kebohongan akan menuntut kebohongan-kebohongan lain untuk menutupinya.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami sifat sidiq (jujur) dan jauhkanlah kami dari sifat kadzib (dusta). Rabbana atina min ladunka rahmatan wa hayyi' lana min amrina rasyada. Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Teks Ceramah 7: Lisan yang Menjerumuskan ke Neraka
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Innalhamdalillah, nahmaduhu wa nasta'inuhu wa nastaghfiruh. Segala puji bagi Allah, kita berlindung kepada-Nya dari keburukan jiwa kita dan kejelekan amal perbuatan kita.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah SAW, yang sangat mencintai umatnya dan sangat khawatir jika umatnya tergelincir ke dalam api neraka hanya karena hal sepele.
Hadirin Rahimakumullah. Takwa adalah bekal terbaik. Mari kita jaga diri dan keluarga kita dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Salah satu "bahan bakar" yang paling sering menyeret manusia ke sana adalah lidah.
Dalam sebuah dialog yang sangat menggetarkan hati antara Nabi Muhammad SAW dan sahabat Muadz bin Jabal RA, Nabi menjelaskan kunci-kunci kebaikan. Namun di akhir nasihat, Nabi memegang lidahnya sendiri sebagai peringatan puncak.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Tirmidzi:
وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ
Artinya: "Bukankah tidak ada yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka di atas wajah mereka atau di atas hidung mereka, melainkan karena buah ucapan lisan mereka?" (HR. Tirmidzi).
Hadis ini memberikan gambaran visual yang mengerikan: manusia diseret di atas wajahnya menuju neraka. Penyebab utamanya bukanlah karena mereka kurang shalat atau puasa, tetapi karena "panenan" (hasil) dari lisan mereka yang buruk.
Mengenai hadis ini, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani memberikan faedah dalam kitab syarah Shahih Bukhari yang sangat monumental, "Fathul Baari".
Dalam Fathul Baari, dijelaskan bahwa keselamatan seorang muslim itu terjamin jika orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Ibnu Hajar menekankan bahwa dosa lisan seringkali dianggap enteng, padahal di sisi Allah ia bisa menghapuskan pahala sebesar gunung.
Banyak orang yang ahli ibadah, rajin tahajud, rajin sedekah, namun bangkrut (muflis) di hari kiamat. Pahala mereka habis dibagi-bagikan kepada orang yang pernah mereka caci, mereka fitnah, dan mereka sakiti hatinya di dunia.
Ini adalah kerugian yang nyata. Kita lelah beribadah puluhan tahun, tapi pahalanya hilang sekejap hanya karena status di media sosial yang menyakiti hati orang, atau komentar pedas yang memicu fitnah.
Maka, waspadalah. Kendalikan jari-jemari kita saat mengetik, kendalikan mulut kita saat berbicara. Jika marah, diamlah. Jika tidak tahu, diamlah. Keselamatan ada pada kemampuan menahan diri.
Ya Allah, selamatkanlah kami dari api neraka dan lindungilah kami dari kejahatan lisan kami sendiri. Rabbana la tuzigh qulubana ba'da idz hadaitana wahab lana min ladunka rahmah, innaka antal wahhab. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
People also Ask:
Bagaimana cara menjaga lisan agar tidak menyakiti perasaan orang lain?
Menjaga Lisan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu berkata yang baik atau kalau tidak mampu maka diam. Jadi diam kedudukannya lebih rendah dari berkata baik namun masih baik dibanding dengan perkataan yang tidak baik. Demikian betapa pentingnya kita untuk selalu menjaga lisan kita.
Apa contoh menjaga lisan?
Ringkasan AIContoh menjaga lisan adalah berkata baik (sopan, jujur, membangun), diam jika tidak baik, menghindari ghibah (gosip), fitnah, dan kata-kata kasar, serta berpikir sebelum bicara untuk mencegah salah ucap, termasuk di media sosial (menjaga "ketikan"). Intinya adalah menjadikan lisan sebagai cerminan hati yang bersih dan bermanfaat, serta menghindari hal yang dapat menyakiti orang lain atau menimbulkan permusuhan.
Apa pesan yang disampaikan oleh Rasulullah saw tentang penggunaan lisan?
Sebuah hadis Nabi Muhammad SAW menyatakan, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menekankan pentingnya berpikir sebelum berbicara dan memastikan bahwa setiap kata yang keluar membawa manfaat, bukan keburukan.
Ayat al-Qur'an manakah yang berisi perintah Allah SWT terkait memelihara lisan?
Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, Niscaya Dia (Allah) akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia menang dengan kemenangan yang besar. (Al-Ahzab/33:70-71).

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5095573/original/012538800_1736934827-pexels-helloaesthe-15707485.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5121926/original/039550200_1738729829-1738723823107_muamalah-adalah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5423024/original/045605200_1764051067-Membaca_ayat_suci_al_quran__pexels_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417694/original/055901700_1763543336-Kultum_Singkat_tentang_Sabar.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5438947/original/026009100_1765343687-SnapInsta.to_590425390_18544905169033381_7948525635136531867_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4628436/original/095598200_1698637528-8712637.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2978888/original/058603600_1574829310-20191127-Lowongan-Pekerjaan-Dibuka-di-Job-Fair-Jakarta-TALLO-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3998634/original/078503800_1650277026-20220418-Tadarus_Al-Quran_di_Bulan_Ramadhan-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3097896/original/057966000_1586407258-concrete-dome-buildings-during-golden-hour-2236674.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5067115/original/068159000_1735273362-1735270416030_kata-kata-mutiara-islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4858180/original/029627600_1717939832-WhatsApp_Image_2024-05-29_at_10.56.30.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5309824/original/049461300_1754640312-56c16cba-d65e-4d65-9a2f-45a2fa7bdd9a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490521/original/051406700_1770014009-Ilustrasi_Puasa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381448/original/032968300_1613719892-wooden-spoon-fork-as-clock-hands-white-plate_49149-1007.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5365523/original/042845000_1759199598-Dua_wanita_muslimah_membaca_buku.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490999/original/014133400_1770040826-Masjid_Agung_Demak.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5082627/original/054307600_1736234976-1736231853819_apa-itu-nisfu-syaban.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5326255/original/074223700_1756094319-pexels-mahmut-33108520.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4975448/original/020264400_1729564664-nisfu-syaban-adalah.jpg)





























