Liputan6.com, Jakarta - Al Ula, sebuah kota di Arab Saudi yang kini menjadi destinasi wisata populer, menyimpan sejarah kelam di balik keindahan alamnya. Di dalam wilayah ini terdapat situs Madain Saleh (Al-Hijr), tempat diazabnya Kaum Tsamud.
Daya tarik wisata modern dan sejarah kelam sebagai tempat turunnya azab inilah yang membuat status hukumnya menjadi perbincangan serius di kalangan ulama. Pertanyaannya kemudian, bolehkah muslim mengunjungi Al Ula?
Ulama seperti Imam An-Nawawi dalam Syarah muslim hingga tokoh kontemporer Sheikh Assim Al Hakeem juga membahas soal Al Ula. Pembahasan ini penting mengingat larangan Rasulullah SAW melarang memasuki tempat kaum yang diazab, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis.
Agar tak gagal paham mengenai status hukum muslim mengunjungi Al Ula, mari simak ulasan Liputan6.com berikut ini.
Hukum Mengunjungi Al Ula
Para ulama, termasuk Ulama terkemuka dan pendakwah asal Arab Saudi Sheikh Assim Al Hakeem, menegaskan bahwa hukum asal memasuki tempat yang pernah diazab Allah adalah terlarang (haram atau sangat dimakruhkan), kecuali jika seseorang dalam keadaan menangis (takut kepada Allah) dan hanya sekadar lewat tanpa menetap.
Itu artinya, larangan tersebut tidak bersifat mutlak. Dalam beberapa kondisi, umat Islam bisa mengunjungi Al Ula dengan motif untuk ibrah sebagai wasilah memperkuat iman.
Perlu dibedakan antara Kota Al Ula modern (tempat penduduk tinggal saat ini) dengan Madain Saleh (Al-Hijr) (situs reruntuhan kaum Tsamud). Menurut Sheikh Assim, larangan spesifik Nabi SAW tertuju pada area bekas tempat tinggal kaum yang diazab (Madain Saleh).
Jika terpaksa melewatinya, Nabi SAW memerintahkan untuk mempercepat langkah, tidak minum dari airnya, dan dalam kondisi menangis karena takut tertimpa azab serupa.
Dalil Lengkap: Hadits Nabi SAW
Larangan ini didasarkan pada hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim ketika Rasulullah SAW melewati Al-Hijr (Madain Saleh) dalam perjalanan menuju Tabuk.
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِ الْحِجْرِ : لَا تَدْخُلُوا عَلَى هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ، إِلَّا أَنْ تَكُونُوا بَاكِينَ، أَنْ يُصِيبَكُمْ مِثْلُ مَا أَصَابَهُمْ. ثُمَّ زَجَرَ رَأْسَهُ وَأَسْرَعَ السَّيْرَ حَتَّى أَجَازَ الْوَادِيَ
Artinya: Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat ketika melewati Al-Hijr (tempat kaum Tsamud): "Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang menzalimi diri mereka sendiri (yang diazab), kecuali kalian dalam keadaan menangis, karena dikhawatirkan kalian akan tertimpa apa yang menimpa mereka." Kemudian beliau menutupi kepalanya (dengan kain) dan mempercepat langkahnya hingga berhasil melewati lembah tersebut. (HR. Bukhari no. 3380 & Muslim no. 2980)
Alasan Mengapa Nabi SAW Melarang Mengunjunginya
Rasulullah SAW melarang umatnya menjadikan tempat azab sebagai objek wisata atau tempat bersenang-senang karena beberapa alasan fundamental:
1. Kekhawatiran Turunnya Azab
Seperti disebut dalam hadits di atas ("...dikarenakan takut kalian akan tertimpa apa yang menimpa mereka"), tempat tersebut memiliki jejak kemurkaan Allah. Energi atau 'atmosfer' spiritual di sana adalah atmosfer hukuman, bukan rekreasi.
2. Menghindari Kelalaian Hati
Berkunjung ke tempat azab dengan tertawa-tawa atau berfoto ria (seperti turis) menunjukkan hati yang lalai dari pelajaran (ibrah) yang seharusnya diambil. Tempat tersebut seharusnya memicu rasa takut dan introspeksi, bukan kekaguman semata.
3. Larangan Memanfaatkan Sumber Daya
Dalam riwayat lain, Nabi SAW bahkan memerintahkan sahabat untuk membuang air yang diambil dari sumur kaum Tsamud dan memberikan adonan roti yang dibuat dengan air tersebut kepada unta, karena air tersebut dianggap membawa dampak buruk.
Penjelasan Ulama dalam Kitab-Kitab Mu'tabar
Para ulama klasik telah membahas hadits dan ayat di atas dalam kitab-kitab syarah (penjelas) mereka, memperkuat argumen:
1. Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim
Beliau menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil larangan (neh) memasuki tempat-tempat orang yang diazab Allah, kecuali bagi orang yang lewat sambil menangis dan merenungi nasib buruk mereka. Jika tidak bisa menangis, ia harus memaksakan diri untuk merasa takut agar tidak lalai.
2. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari (Syarah Shahih Bukhari)
Beliau menegaskan bahwa larangan ini berlaku umum (kulliyah) untuk semua tempat yang pernah turun azab Allah di sana, bukan hanya Madain Saleh. Beliau mengutip: "Ini mencakup tempat tinggal kaum Tsamud dan selain mereka yang memiliki sifat serupa (kufur dan diazab)."
3. Imam Al-Qurtubi dalam Tafsir Al-Qurtubi
Ketika menafsirkan ayat tentang kaum Tsamud, beliau menyebutkan bahwa sisa-sisa reruntuhan mereka dibiarkan ada sebagai Ayat (tanda peringatan), bukan untuk dikagumi keindahannya, melainkan untuk ditakuti akibat kedurhakaannya.
Kisah Kaum Tsamud dan Negeri Terkutuk Al-Ula
Wilayah Al-Ula yang kini menjadi destinasi wisata di Arab Saudi sejatinya adalah lokasi bekas tempat tinggal Kaum Tsamud, umat Nabi Saleh AS yang dibinasakan oleh Allah SWT.
Al-Qur'an merekam sejarah Kaum Tsamud (penduduk Madain Saleh) yang dibinasakan karena kesombongan mereka menolak Nabi Saleh AS dan menyembelih unta mukjizat dari Allah.
Surat Al-Hijr Ayat 80-83 (Tentang Penduduk Al-Hijr/Madain Saleh):
وَلَقَدْ كَذَّبَ أَصْحَٰبُ ٱلْحِجْرِ ٱلْمُرْسَلِينَ (80) وَءَاتَيْنَٰهُمْ ءَايَٰتِنَا فَكَانُوا۟ عَنْهَا مُعْرِضِينَ (81) وَكَانُوا۟ يَنْحِتُونَ مِنَ ٱلْجِبَالِ بُيُوتًا ءَامِنِينَ (82) فَأَخَذَتْهُمُ ٱلصَّيْحَةُ مُصْبِحِينَ (83)
Artinya: "Dan sesungguhnya penduduk Al-Hijr (kaum Tsamud) benar-benar telah mendustakan rasul-rasul. Dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami, tetapi mereka selalu berpaling darinya. Dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman. Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi." (QS. Al-Hijr: 80-83).
Siapakah Kaum Tsamud?
Kaum Tsamud adalah bangsa Arab kuno yang hidup setelah kehancuran Kaum 'Ad. Mereka menempati wilayah Al-Hijr (yang kini dikenal sebagai Madain Saleh, terletak di dalam wilayah Al-Ula), posisi strategis di antara Hijaz (Makkah/Madinah) dan Syam (Suriah/Yordania).
Allah SWT memberikan mereka kelebihan fisik yang kuat dan umur yang panjang, serta keahlian luar biasa dalam arsitektur. Salah satunya adalah keahlian memahat gunung.
Sisa-sisa peradaban yang kini dilihat wisatawan di Al-Ula adalah bukti keahlian mereka yang diabadikan dalam Al-Qur'an.
Mereka memahat gunung-gunung batu untuk dijadikan istana dan rumah tinggal yang kokoh. Mereka hidup dalam kemakmuran dengan kebun-kebun yang subur dan mata air yang melimpah. Namun, kemewahan ini membuat mereka sombong (takabbur) dan menyekutukan Allah dengan menyembah berhala.
"Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin..." (QS. Asy-Syu'ara: 149)
Dakwah Nabi Saleh AS dan Turunnya Azab
Allah mengutus Nabi Saleh AS (saudara mereka sendiri) untuk mengajak kembali kepada Tauhid. Namun, para pemuka kaum Tsamud menolak dan menantang Nabi Saleh untuk mendatangkan mukjizat yang mustahil menurut akal mereka.
Mereka meminta agar keluar seekor unta betina yang besar dan sedang bunting dari sebuah batu besar yang keras. Namun, atas izin Allah, batu tersebut terbelah dan keluarlah unta sesuai permintaan mereka.
Nabi Saleh memberikan syarat, "Ini adalah unta betina dari Allah. Biarkan dia makan di bumi Allah dan jangan diganggu. Dia mempunyai giliran untuk minum (dari sumber air kalian) dan kalian mempunyai giliran minum di hari tertentu."
Meskipun melihat mukjizat nyata, kebencian mereka memuncak. Sembilan orang tokoh perusak (kelompok penjahat) di kota tersebut merencanakan makar.
Dipimpin oleh seorang yang paling celaka bernama Qudar bin Salif (disebut sebagai orang yang 'merah' dan jahat), mereka menyembelih unta tersebut dan menantang Nabi Saleh untuk segera mendatangkan azab.
Allah memberikan tenggang waktu 3 hari. Pada hari keempat, datanglah suara menggelegar yang sangat keras (As-Saihah) dari langit yang disertai gempa dahsyat.
Suara itu begitu keras hingga memecahkan jantung mereka. Mereka semua mati bergelimpangan di dalam rumah-rumah pahatan batu mereka sendiri, seolah-olah mereka belum pernah hidup di sana.
Rekomendasi untuk Umat Islam
Berdasarkan dalil naqli (Al-Qur'an & Hadits) dan aqli (penjelasan ulama), muslim sangat tidak dianjurkan menjadikan Madain Saleh di Al Ula sebagai tujuan wisata rekreasi. Jika terpaksa melewatinya, adab yang harus dijaga adalah:
- Tidak masuk kecuali menangis (khusyuk/takut).
- Mempercepat langkah kendaraan.
- Tidak makan/minum dari air sumur di situs tersebut.
- Banyak beristighfar memohon perlindungan Allah.
Sikap ini mengajarkan beberapa hikmah:
- Pengambilan Ibrah (Pelajaran): Tempat azab seharusnya mengingatkan manusia pada akibat dari kesombongan, kekufuran, dan mendustakan rasul. Kunjungan seharusnya meningkatkan ketakwaan, bukan sekadar rekreasi.
- Penghormatan dan Rasa Takut kepada Allah: Larangan dan anjuran untuk bersedih mencerminkan sikap hormat dan takut akan kemurkaan Allah yang pernah diturunkan di tempat itu.
- Larangan Bersantai dan Bersuka-ria: Dilarang keras menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat hiburan, bersenang-senang, atau berfoto riang tanpa refleksi.
People also Ask:
Apakah umat Muslim bisa pergi ke Al Ula?
Think Twice Before Visiting Alula In Light Of This Hadith
Perdebatan seputar kunjungan ke AlUla melibatkan beragam pendapat dari para ulama Islam. Sebagian memegang posisi yang tegas berdasarkan hadits, menyarankan untuk tidak berkunjung sama sekali guna menghindari risiko spiritual.
Apa itu Al Ula dalam Islam?
al-Ula ( bahasa Arab : ٱلْعُلَا , romanisasi : al-ʿUlā ), secara resmi AlUla , adalah kota oasis dan kegubernuran kuno Arab yang terletak di Provinsi Madinah , Arab Saudi, 350 kilometer (220 mil) barat laut kota Madinah .
Apakah al-ula mengandung alkohol?
Tidak, alkohol tidak disajikan di AlUla . Bahkan, penjualan dan pembelian minuman keras dilarang di Arab Saudi.
Kenapa Nabi Muhammad menghindari kota Al Ula?
Rasul Larang Umatnya Masuk ke Tempat Ini, Sekarang Jadi Spot ...Nabi Muhammad SAW menghindari wilayah Madain Saleh (Hegra) yang berada dalam area Al Ula karena tempat itu adalah lokasi azab Allah SWT bagi Kaum Tsamud yang membangkang, sehingga beliau memerintahkan sahabatnya untuk lewat dengan cepat, tidak menoleh, dan tidak minum airnya, sebagai pengingat akan murka Allah dan pelajaran bagi umatnya.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5095573/original/012538800_1736934827-pexels-helloaesthe-15707485.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5121926/original/039550200_1738729829-1738723823107_muamalah-adalah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5423024/original/045605200_1764051067-Membaca_ayat_suci_al_quran__pexels_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417694/original/055901700_1763543336-Kultum_Singkat_tentang_Sabar.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5438947/original/026009100_1765343687-SnapInsta.to_590425390_18544905169033381_7948525635136531867_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4628436/original/095598200_1698637528-8712637.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2978888/original/058603600_1574829310-20191127-Lowongan-Pekerjaan-Dibuka-di-Job-Fair-Jakarta-TALLO-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3998634/original/078503800_1650277026-20220418-Tadarus_Al-Quran_di_Bulan_Ramadhan-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3097896/original/057966000_1586407258-concrete-dome-buildings-during-golden-hour-2236674.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5067115/original/068159000_1735273362-1735270416030_kata-kata-mutiara-islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4858180/original/029627600_1717939832-WhatsApp_Image_2024-05-29_at_10.56.30.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5309824/original/049461300_1754640312-56c16cba-d65e-4d65-9a2f-45a2fa7bdd9a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490521/original/051406700_1770014009-Ilustrasi_Puasa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381448/original/032968300_1613719892-wooden-spoon-fork-as-clock-hands-white-plate_49149-1007.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5365523/original/042845000_1759199598-Dua_wanita_muslimah_membaca_buku.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490999/original/014133400_1770040826-Masjid_Agung_Demak.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5082627/original/054307600_1736234976-1736231853819_apa-itu-nisfu-syaban.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5326255/original/074223700_1756094319-pexels-mahmut-33108520.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4975448/original/020264400_1729564664-nisfu-syaban-adalah.jpg)





























