Ayat Al-Qur'an tentang Persaudaraan Sesama Muslim, Ukhuwah Islamiyah dan Hikmahnya

5 days ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Ayat Al-Qur'an tentang persaudaraan sesama muslim menjadi dasar ikatan spiritual yang lahir dari kesatuan akidah. Ukhuwah Islamiyah merupakan pondasi bagi terbentuknya masyarakat Muslim yang kuat, penuh kasih sayang, dan saling mendukung.

Secara bahasa, ukhuwah berasal dari kata akhun yang berarti persaudaraan, baik karena hubungan darah, persusuan, atau, yang lebih utama, karena ikatan iman. Imam Hassan Al-Banna mendefinisikannya sebagai "ikatan hati dan jiwa yang dilandasi akidah."

Merujuk Jurnal Konsep Persaudaraan Dalam Al-Qur`an, oleh Ahmad Miftahusolih, dkk, Al-Qur’an menyebut kata "ukhuwah" dan pecahannya sekitar 96 kali, menunjukkan urgensi dan keutamaan persaudaraan sesama muslim ini. Namun, realitas sosial kerap menunjukkan melemahnya ikatan ini akibat hal-hal sepele, pudarnya silaturahim, dan sikap acuh tak acuh. merujuk Jurnal Konsep Persaudaraan Dalam Al-Qur`an, oleh Ahmad Miftahusolih, dkk

Berikut ini adalah 6 ayat Al-Qur'an tentang persaudaraan sesama muslim, lengkap dengan penjelasannya. Tujuannya adalah memahami landasan ilahiah, keutamaan, dan bentuk nyata dari ukhuwah yang diperintahkan Allah SWT.

1. Surah Al-Hujurat (49) Ayat 10:

Ayat Dasar: Persaudaraan Akidah Melebihi Ikatan Darah

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat."

Ayat ini menetapkan prinsip fundamental bahwa ikatan seiman (ukhuwah ‘aqadiyah) adalah ikatan persaudaraan yang paling hakiki dan kuat. Kata إِنَّمَا (hanyalah) menegaskan kekhususan dan superioritas ikatan ini.

Imam As-Sa'di dalam Taisirul Karim Ar-Rahman, menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan adanya "kontrak dan ikatan" yang Allah tetapkan di antara orang-orang beriman. Siapa pun, di mana pun, yang beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, maka dia adalah saudara bagi mukmin lainnya.

Persaudaraan ini mewajibkan kita mencintai untuk saudara kita apa yang kita cintai untuk diri sendiri. As-Sa'di juga menegaskan bahwa persaudaraan akidah lebih kuat daripada persaudaraan nasab (darah).

Ikatan nasab bisa terputus karena perbedaan agama (seperti dalam kisah Nabi Nuh dan anaknya, QS. Hud: 46), sementara ikatan akidah tidak terputus oleh perbedaan nasab. Perintah فَأَصْلِحُوا (maka damaikanlah) menunjukkan kewajiban untuk aktif merekatkan hubungan dan mendamaikan perselisihan di antara sesama mukmin.

2. Surah Al-Hujurat (49) Ayat 12

Ayat Etika: Menjaga Kehormatan Sesama Muslim

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang."

Ukhuwah bukan hanya slogan, tetapi harus diwujudkan dalam etika sehari-hari. Ayat ini menggariskan kode etik persaudaraan: larangan berprasangka buruk (su’uzhan), memata-matai kesalahan (tajassus), dan menggunjing (ghibah).

Ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudara sendiri, sebuah gambaran yang sangat kuat tentang betapa keji dan merusaknya perbuatan ini terhadap ikatan persaudaraan.

Menjaga kehormatan dan harga diri sesama Muslim adalah hak terpenting dalam ukhuwah. Pelanggaran terhadap hak ini, melalui ghibah dan prasangka, akan meruntuhkan fondasi saling percaya yang menjadi pilar persaudaraan.

3. Surah At-Taubah Ayat 71

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya: “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. At-Taubah: 71)

Ayat ini mendefinisikan bentuk nyata dan aktif dari persaudaraan Islam. Ikatan persaudaraan diwujudkan dalam konsep الْوَلَايَة (al-walayah), yaitu saling menjadi penolong, pelindung, dan penjamin. Ini adalah ikatan yang lebih dalam dari sekadar perasaan, yaitu ikatan tanggung jawab sosial.

Ibnu ‘Asyur dalam At-Tahrir wa At-Tanwir menjelaskan bahwa “awliya’” berarti saling mencintai, membantu, dan saling menasihati dengan tulus. Kemudian, ayat ini menyebutkan lima karakter utama yang menjadi bukti dan konsekuensi dari walayah tersebut:

  • Amar ma’ruf nahi munkar: Tanggung jawab moral bersama untuk menjaga kebaikan komunitas.
  • Menegakkan shalat: Menjaga hubungan vertikal dengan Allah sebagai sumber persatuan.
  • Menunaikan zakat: Membersihkan harta dan membantu saudara seiman yang lemah secara ekonomi, memperkuat ikatan sosial.
  • Taat kepada Allah dan Rasul: Komitmen pada sumber hukum yang sama, yang mencegah konflik.

Imam Ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menyebutkan bahwa ciri-ciri inilah yang membedakan wali (penolong) seorang mukmin dengan wali-wali orang kafir (yang saling menolong dalam dosa dan permusuhan, sebagaimana dalam ayat sebelumnya, QS. At-Taubah: 71). Persaudaraan Islam adalah persaudaraan yang produktif dan membangun, bukan persaudaraan yang diam terhadap kemungkaran.

Janji “mereka akan diberi rahmat” menjadi motivasi sekaligus penutup yang indah, menunjukkan bahwa persaudaraan yang dijalankan dengan tanggung jawab ini adalah jalan meraih rahmat Allah.

4. Surah At-Taubah (9) Ayat 113

Ayat Teguran: Batasan Loyalitas pada Ikatan Keluarga Non-Muslim

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَن يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَىٰ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Artinya: "Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, sekalipun mereka itu kaum kerabat(nya), setelah jelas bagi mereka bahwa orang-orang musyrik itu penghuni neraka Jahim."

Ayat ini turun sebagai teguran atas permohonan ampun Nabi Muhammad SAW untuk pamannya, Abu Thalib, yang meninggal dalam keadaan musyrik. Ayat ini menegaskan bahwa loyalitas tertinggi adalah kepada akidah, bukan kepada ikatan darah semata. Ini memperkuat konsep bahwa ukhuwah islamiyah memiliki hierarki yang lebih tinggi dan menuntut komitmen yang berbeda.

Ayat ini, bersama dengan kisah Nabi Nuh (QS. Hud: 46), adalah bukti nyata bahwa Allah menegur para nabi-Nya ketika mereka mendahulukan ikatan nasab di atas prinsip akidah. Ini menjadi pelajaran bahwa dalam membina ukhuwah, prinsip tauhid tidak boleh dikompromikan.

5. Surah Ali ‘Imran: 103, Perekat dan Peringatan

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Artinya: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Ayat ini menggambarkan sebab dan akibat dari persaudaraan Islam. Persaudaraan itu sendiri adalah nikmat Allah yang harus diingat dan disyukuri. “Tali Allah” (hablullah) menurut mayoritas ulama adalah Al-Qur’an, agama Islam, serta perjanjian dengan Allah. Berpegang teguh padanya secara kolektif akan mencegah perpecahan.

Imam Ath-Thabari dalam Jami’ al-Bayan menafsirkan “hablullah” dengan الْقُرْآنُ وَالدِّيْنُ وَالْعَهْدُ (Al-Qur’an, agama, dan perjanjian). Beliau menekankan bahwa perintah untuk bersatu adalah kewajiban yang sangat kuat, sementara larangan bercerai-berai merupakan larangan yang sangat keras.

Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir menguraikan tahapan nikmat dalam ayat ini:

Nikmat Persatuan: Dari permusuhan jahiliah menjadi persaudaraan iman.

Nikmat Keselamatan: Dari tepi jurang neraka (karena kekafiran) diselamatkan ke dalam iman.Hal ini menunjukkan bahwa persaudaraan Islam adalah anugerah sekaligus penyelamat.

Ayat ini juga mengandung pelajaran sejarah yang dalam. Umat Islam diajak mengingat masa lalu mereka yang penuh permusuhan (seperti antara Aus dan Khazraj di Madinah) yang kemudian dipersatukan oleh Islam. Ini menjadi motivasi untuk terus menjaga nikmat persatuan tersebut dan tidak kembali kepada keadaan sebelumnya.

6. Surah Al-Anbiya’ Ayat 92: Kesatuan Umat dan Tujuan

إِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

Artinya: “Sungguh, (agama tauhid) ini adalah agamamu, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 92)

Meskipun ayat ini dalam konteks para nabi, para mufassir menjelaskan bahwa ia mengandung prinsip universal bagi umat Islam. Kata أُمَّةً وَاحِدَةً (ummatan wahidah) menegaskan bahwa komunitas orang-orang beriman adalah satu kesatuan yang tak terpecah.

Al-Baghawi dalam Ma’alim at-Tanzil menjelaskan bahwa ayat ini ditujukan kepada umat Muhammad ﷺ, bahwa mereka adalah umat yang satu dalam syariat dan agama, berbeda dengan umat-umat sebelumnya yang sering berselisih.

Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar menekankan bahwa kesatuan umat ini bersumber dari kesatuan ibadah (“fa’budun” – maka sembahlah Aku). Karena Tuhan mereka satu, tujuan penyembahan mereka satu, maka mereka harus bersatu. Persaudaraan (ukhuwah) adalah manifestasi dari kesatuan ibadah ini. Ia bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk mencapai tujuan tertinggi, yaitu pengabdian kepada Allah semata.

Dengan demikian, ayat ini mengangkat persaudaraan ke level kesatuan visi dan misi. Umat Islam bersaudara karena mereka memiliki “Rab” yang sama dan tujuan hidup (ibadah) yang sama.

Hikmah Ayat-Ayat Al-Qur'an tentang Persaudaraan Sesama Muslim

1. Menguatkan Landasan Sosial Umat

Ayat-ayat seperti QS. Al-Hujurat: 10 menegaskan bahwa persaudaraan seiman adalah hubungan paling hakiki. Hikmahnya, umat Islam memiliki pondasi sosial yang kuat, yaitu akidah, yang lebih kokoh daripada ikatan darah, suku, atau bangsa. Hal ini mencegah perpecahan dan membentuk masyarakat yang solid, saling mendukung, dan saling melindungi.

2. Mendorong Perdamaian dan Penyelesaian Konflik

Ayat-ayat persaudaraan memerintahkan untuk mendamaikan konflik antar sesama Muslim (seperti dalam QS. Al-Hujurat: 10). Hikmahnya, umat Islam terdidik untuk selalu mengutamakan ishlah (perdamaian) dan rekonsiliasi, bukan dendam atau permusuhan. Ini menjaga keharmonisan sosial dan mencegah kerusakan yang lebih besar di tengah masyarakat.

3. Meningkatkan Rasa Aman dan Kasih Sayang

Ayat-ayat yang menggambarkan Muslim sebagai satu tubuh (seperti dalam hadis yang mengiringi QS. Ali Imran: 103) mengajarkan hikmah empati dan solidaritas. Setiap Muslim merasa aman karena tahu saudaranya akan membelanya, serta merasa dihargai karena kehormatannya dijaga (seperti larangan ghibah dalam QS. Al-Hujurat: 12). Ini menciptakan lingkungan sosial yang penuh rahmah (kasih sayang).

4. Menjadi Sarana Meraih Ampunan dan Rahmat Allah

Banyak ayat mengaitkan ukhuwah dengan takwa dan rahmat Allah (misal, QS. Al-Hujurat: 10). Hikmahnya, menjaga persaudaraan adalah ibadah sosial yang berpahala besar dan menjadi jalan pengampunan dosa. Hadis menyebutkan, saling mengunjungi dan berjabat tangan karena Allah dapat menghapus dosa, menunjukkan bahwa ukhuwah adalah wasilah untuk meraih rahmat-Nya.

5. Mengarahkan Loyalitas Tertinggi kepada Allah dan Agama

Ayat-ayat seperti QS. At-Taubah: 113 yang melarang memintakan ampunan bagi orang musyrik sekalipun keluarga dekat, mengandung hikmah penegasan prioritas loyalitas. Ukhuwah Islamiyah mengajarkan bahwa komitmen tertinggi adalah pada kebenaran akidah, bukan fanatisme golongan atau keluarga. Ini melahirkan komunitas yang objektif, berprinsip, dan tidak mudah dipecah-belah oleh sentimen kesukuan atau duniawi.

People also Ask:

Ayat yang menjelaskan bahwa sesama Muslim adalah saudara?

Di antara ayat yang secara tegas menyatakan bahwa sesama orang mukmin adalah bersaudara seperti dalam Surah al- Hujurat/49: 10.

Qs al hujurat ayat 10 menjelaskan tentang apa?

Surat Al Hujurat Ayat 10, Arab Latin, Arti, Tafsir dan KandunganSurat Al-Hujurat ayat 10 artinya menegaskan bahwa orang-orang mukmin itu bersaudara, sehingga jika ada perselisihan, mereka diperintahkan untuk mendamaikannya dan bertakwa kepada Allah agar mendapat rahmat, menekankan pentingnya persatuan dan menjaga hubungan baik antar sesama Muslim. Ayat ini menjadi dasar kuat bagi persaudaraan (ukhuwah) Islam, memerintahkan perbaikan hubungan dan ketaatan untuk meraih rahmat.

Qs al hujurat 49 13 menjelaskan tentang apa?

Makna Surat Al-Hujurat Ayat 13 tentang Persatuan Manusia | TikTokAl-Hujurat ayat 13 menjelaskan tentang kesetaraan hakiki manusia, pentingnya saling mengenal dalam keragaman, dan tolok ukur kemuliaan di sisi Allah SWT yaitu ketakwaan, bukan suku atau ras. Ayat ini mengajarkan bahwa perbedaan bangsa dan suku adalah sunatullah agar manusia saling mengenal, tolong-menolong, dan bersatu padu, bukan untuk sombong atau berpecah belah, dan yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.

Surat al-Hujurat ayat 11 menjelaskan tentang apa?

Al-Hujurat ayat 11 menjelaskan larangan keras bagi orang mukmin untuk saling mengolok-olok, mencela, menghina, atau memanggil dengan julukan buruk, karena boleh jadi yang dihina lebih baik di sisi Allah, serta menekankan larangan untuk merendahkan diri sendiri dan memanggil dengan gelar buruk setelah beriman, menegaskan bahwa mereka yang tidak bertaubat adalah orang-orang zalim, dan menekankan persaudaraan serta kesetaraan mukmin di hadapan Allah.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |