Cara Menghabiskan Malam Tahun Baru Menurut Ajaran Islam Washatiyah, Simak Baik-Baik

1 month ago 54

Liputan6.com, Jakarta - Perayaan tahun baru sering kali diidentikkan dengan kegiatan yang penuh suka cita, pertemuan sosial, dan berbagai aktivitas hiburan. Namun, sebagai seorang muslim, penting untuk memahami bagaimana mcara menghabiskan malam tahun baru menurut ajaran islamdan berlandaskan nilai-nilai akidah.

Merujuk jurnal Relevansi Perayaan Tahun Baru dalam Perspektif Moderasi Beragama oleh Sukron Azhari dan Azis Ependi, menghabiskan malam tahun baru menurut ajaran Islam tidak berarti mengisolasi diri dari tradisi global, tetapi mengisinya dengan kegiatan yang positif, bermakna, dan tidak bertentangan dengan syariat.

Dengan pendekatan moderasi beragama (al-wasathiyyah), umat Islam dapat berpartisipasi dalam perayaan tanpa kehilangan identitas keislamannya. Moderasi beragama bukan hanya pilihan, tetapi sebuah keharusan dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Moderasi beragama menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara partisipasi sosial dan komitmen terhadap nilai-nilai keislaman.

Berikut ini adalah cara menghabiskan malam tahun baru yang Islam yang moderat, namun juga tak bertentangan dengan syariat.

1. Refleksi Diri dan Evaluasi Akhir Tahun

Dalam Buku Wasathiyyah Wawasan Islam tentang Moderasi Beragama oleh M. Quraish Shihab M. Quraish Shihab,  moderasi bukan sekadar urusan individu, melainkan juga urusan kelompok, umat, negara, dan masyarakat.

Berikut ini adalah cara menghabiskan malam tahun baru yang Islam yang moderat, namun juga tak bertentangan dengan syariat.

Gunakan momen pergantian tahun untuk muhasabah (introspeksi diri) atas segala perbuatan di tahun sebelumnya.

  • Perbanyak istighfar, berdoa, dan memohon ampunan kepada Allah SWT.
  • Buat rencana perbaikan diri (self-improvement) untuk tahun yang baru.

2. Menjaga Akhlak dan Moral

Hindari kegiatan yang berpotensi mendekati kemaksiatan, seperti pesta minuman keras, pergaulan bebas, atau aktivitas yang melalaikan ibadah.

  • Jaga sikap dan tutur kata agar tetap santun dan bermartabat.
  • Pastikan kegiatan yang dilakukan bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Hal ini sesuai yang termaktub dalam QS. Al-A’raf 7:31, yang artinya: "Wahai anak Adam! Pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan."

3. Memperkuat Silaturahmi dan Toleransi

Memperkuat Silaturahmi dan Toleransi

Manfaatkan momen tahun baru untuk mempererat tali silaturahmi dengan keluarga, tetangga, dan teman dari berbagai latar belakang.

  • Tunjukkan sikap toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan keyakinan, tanpa meninggalkan prinsip Islam.
  • Hindari konflik atau perdebatan yang tidak perlu terkait perbedaan pandangan.

Dalam perspektif toleransi, setiap orang berhak meyakini dan melaksanakan ajaran agamanya dengan bebas dan dihormati. Kinloch (2005) dalam Sociological Theory menyatakan bahwa toleransi adalah hasil dari interaksi sosial yang dekat di masyarakat.

4. Jangan Boros, Lakukan Sedekah dan Kegiataan Bermanfaat

Umat Islam tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk perayaan yang bersifat konsumtif. Prioritaskan kegiatan yang bermakna, seperti sedekah, membantu sesama, atau kegiatan sosial lainnya. Ingat bahwa kemewahan dan foya-foya bukanlah tujuan dalam Islam.

5. Berdoa dan Bersyukur

Panjatkan doa khusus untuk kebaikan di tahun baru, memohon perlindungan, rezeki, dan keberkahan.

Ucapkan syukur atas segala nikmat yang telah diberikan di tahun yang lalu. Libatkan keluarga dalam doa bersama untuk memperkuat ikatan spiritual.

Konsep Moderasi Beragama dalam Islam

Cara menghabiskan malam tahun baru di atas berdasar prinsip moderasi beragama (al-wasathiyyah). Moderasi dalam Islam mengajarkan sikap tengah-tengah, tidak ekstrem, dan tidak berlebihan. Konsep ini mencakup:

  • Keseimbangan: Menjaga harmoni antara kehidupan dunia dan akhirat.
  • Toleransi: Menghargai perbedaan tanpa mengorbankan prinsip agama.
  • Kontekstualisasi: Memahami ajaran agama sesuai dengan konteks sosial-budaya tanpa kehilangan makna dasarnya.

Hal ini berdasar dalil QS. Al-Baqarah 2:143, yang artinya: "Dan demikianlah Kami menjadikan kamu (umat Islam) sebagai umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu."

Ayat ini menjadi landasan filosofis bahwa umat Islam adalah umat pertengahan (wasath) yang menolak ekstremisme.

M. Quraish Shihab (2019) dalam Wasathiyyah Wawasan Islam tentang Moderasi Beragama menjelaskan, moderasi bukan sekadar urusan individu, melainkan juga urusan kelompok, umat, negara, dan masyarakat.

Pandangan Islam terhadap Perayaan Tahun Baru

Fauzi dalam Jurnal Islam Nusantara mendefinisikan moderasi sebagai sikap tidak berlebih-lebihan (tatharruf) dan menjauhi kekerasan.

Perayaan tahun baru awalnya merupakan tradisi agama dan budaya lain, telah menjadi fenomena global yang diikuti berbagai kalangan, termasuk muslim. Islam tidak melarang umatnya untuk bergembira atau bersosialisasi, asalkan:

  • Tidak melanggar syariat Islam.
  • Tidak melakukan hal-hal yang bersifat mubadzir (sia-sia) atau mendekati maksiat.
  • Tetap menjaga akhlak dan nilai-nilai keislaman.

Karena itu, umat Islam perpu menghindari perayaan tahun baru yang identik dengan berfoya-foya, kegembiraan berlebihan, bahkan hal yang tidak bermanfaat, mubadzir, dan cenderung dekat dengan maksiat.

Namun, jika dirayakan dengan menjaga moral dan nilai agama, tahun baru dapat menjadi sarana toleransi antaragama.

Sukron dan Aziz dalam jurnal menyatakan, bahwa perayaan tahun baru dapat menjadi sarana toleransi antaragama jika dilakukan dengan kesadaran penuh akan identitas keislaman.

Hikmah Moderat Menyikapi Perayaan Tahun Baru

1. Menjaga Identitas Keislaman Tanpa Mengisolasi Diri

Dengan sikap moderat, seorang muslim dapat tetap berpartisipasi dalam suasana sosial pergantian tahun tanpa harus kehilangan prinsip agamanya.

2. Meningkatkan Toleransi dan Kerukunan Antarumat Beragama

Perayaan tahun baru sering diikuti oleh berbagai latar belakang agama. Sikap moderat memungkinkan muslim untuk hadir dalam ruang bersama tanpa merasa terancam atau mengancam.

3. Menghindari Sikap Berlebihan (Israf) dan Mubadzir

Moderasi mengajarkan untuk tidak boros, foya-foya, atau menghamburkan uang untuk hal yang tidak bermanfaat.Hikmahnya:

4. Membentuk Kepribadian yang Seimbang (Tawazun)

Sikap moderat membantu seorang muslim untuk menyeimbangkan antara hakikat sebagai hamba Allah dan sebagai bagian dari masyarakat.

5. Menjadi Contoh Praktik Islam yang Kontekstual dan Humanis

Dengan bersikap moderat, muslim menunjukkan bahwa Islam dapat beradaptasi dengan konteks zaman tanpa kehilangan esensinya. Memudahkan dakwah karena Islam ditampilkan secara ramah dan relevan.

6. Memanfaatkan Momen untuk Refleksi dan Perbaikan Diri

Tahun baru bisa diisi dengan muhasabah, evaluasi diri, dan penyusunan rencana hidup yang lebih baik. Mengubah momen sekuler menjadi sarana ibadah dan pengembangan diri. Mendekatkan diri kepada Allah melalui doa, syukur, dan intropeksi.

7. Menguatkan Pendidikan Moderasi Beragama bagi Generasi Muda

Sikap moderat dalam perayaan tahun baru dapat menjadi pembelajaran langsung bagi generasi muda tentang cara menghadapi perbedaan dengan bijak.

Bagaimana Menanamkan Sikap Moderat?

Tingkat pendidikan memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat toleransi dan moderasi beragama. Dalam hal ini, moderasi beragama dapat diproyeksikan melalui tiga lingkungan: keluarga (the first class), sekolah (the second class), dan masyarakat (the third class).

Oleh karena itu, pendidikan agama yang kontekstual perlu diberikan sejak dini. Sebab, Keluarga dan lingkungan masyarakat juga berperan dalam menanamkan nilai-nilai toleransi dan keseimbangan.

Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menyebarkan pemahaman moderasi beragama melalui kurikulum dan kegiatan kemahasiswaan. Bahwa moderasi beragama perlu diarusutamakan di perguruan tinggi keagamaan.

People also Ask:

Apa yang harus dilakukan pada malam Tahun Baru dalam Islam?

Umat ​​Islam memulai tahun baru dengan memanjatkan doa yang tulus, memohon petunjuk, ampunan, dan berkah dari Allah . Beberapa doa khusus biasanya dibacakan pada saat ini, seperti Doa Tahun Baru. Praktik spiritual ini menunjukkan bagaimana umat Islam merayakan Tahun Baru Islam melalui pengabdian yang mendalam kepada Allah.

Apa yang harus kita lakukan saat tahun baru Islam?

Unik, 7 Tradisi Menyambut Tahun Baru Islam Ini Cuma di IndonesiaKegiatan Tahun Baru Islam (1 Muharram) meliputi kegiatan ibadah seperti doa akhir dan awal tahun, puasa sunnah, serta kegiatan sosial dan budaya seperti pawai obor/taaruf, pengajian, muhasabah (refleksi diri), santunan anak yatim, dan bakti sosial, yang bertujuan mempererat kebersamaan, meningkatkan keimanan, dan mengenang hijrah Nabi Muhammad SAW.

Apakah agama Islam boleh merayakan malam tahun baru?

Salah satunya adalah larangan untuk merayakan tahun baru masehi dengan cara yang bertentangan dengan syariat Islam. Dalam agama Islam, merayakan tahun baru bukan sebagian tradisi. Sebab merayakan tahun baru masehi tidak memiliki dasar dalam ajaran agama Islam.

Amalan apa di malam tahun baru Islam?

Beberapa amalan yang dianjurkan oleh para ulama untuk dilakukan pada malam 1 Muharram antara lain:Membaca Doa Akhir dan Awal Tahun. ...Shalat Sunnah dan Dzikir. ...Tilawah Al-Qur'an. ...Muhasabah dan Hijrah Pribadi.

Apa yang harus dilakukan di Tahun Baru Islam?

Islamic New Year 2025: Celebrating Al Hijri in UAE. Perayaan Tahun Baru Islam tidak seuniversal Idul Fitri atau festival lainnya, tetapi selama waktu ini orang sering berpuasa, menghadiri salat di masjid setempat, dan menghabiskan banyak waktu berkualitas bersama keluarga mereka .

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |