Liputan6.com, Jakarta - Menjaga shalat tepat waktu merupakan manifestasi tertinggi dari rasa cinta dan ketundukan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Mengingat pentingnya shalat, topik ini sering menjadi dalam teks khutbah Jumat.
Shalat tepat waktu adalah dasar kedisiplinan hidup seorang muslim. Sebab, waktu-waktu shalat telah ditetapkan secara khusus untuk menjaga ritme spiritual di tengah kesibukan duniawi.
ibadah shalat bukanlah aktivitas yang bisa ditunda sesuka hati, tapi terjadwal dan memiliki batas-batas waktu yang sakral. Dalam Surah An-Nisa ayat 103: "...Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." Ayat ini menegaskan bahwa
Dalam Buku Tafsir al-Qur'an al-Azhim, Ibnu Katsir menjelaskan, frasa "Kitaban Mauquta" dalam ayat tersebut berarti kewajiban yang telah memiliki batasan waktu yang jelas dan tidak boleh dilampaui. Beliau menyitir pendapat para sahabat bahwa orang yang paling dicintai Allah adalah mereka yang menyegerakan shalat di awal waktu.
Berikut ini adalah contoh-contoh teks khutbah Jumat tentang pentingnya shalat tepat waktu, merangkum berbagai sumber.
Teks Khutbah Jumat 1: Pentingnya Menjaga Shalat Lima Waktu di Manapun Berada
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ أمَّا بَعْدُ فَيَاعِبَادَ الله أُوْصِيْكُم وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ ، فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Hadirin Rahimakumullah,
Pada kesempatan yang mulia ini, di atas mimbar, khatib mengajak kepada jamaah Jumat sekalian untuk selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt, yakni dengan sungguh-sungguh menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena dengan takwa inilah Allah menjanjikan kemuliaan bagi hamba-hamba-Nya.
Hal ini sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Artinya: Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu (QS Al-Hujurat: 13).
Hadirin Rahimakumullah,
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah swt yang telah melimpahkan nikmat dan karunia-Nya kepada kita semua, sehingga kita bisa bersama-sama melaksanakan ibadah shalat Jumat di masjid yang mulia ini. Shalawat beserta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad swt, Nabi yang menjadi suri tauladan terbaik dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Hadirin rahimakumullah,
Pada kesempatan ini, khatib akan menyampaikan khutbah yang berjudul “Pentingnya Shalat Lima Waktu di Manapun Kita Berada”. Shalat merupakan rukun Islam yang kedua setelah syahadat. Shalat bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi merupakan tiang agama, pembeda antara seorang Muslim dengan non-Muslim, serta bentuk pengabdian tertinggi kepada Allah.
Rasulullah saw, “Shalat adalah tiang agama. Barang siapa mendirikannya, maka ia telah menegakkan agama, dan barang siapa meninggalkannya, maka ia telah meruntuhkan agama” (HR Al-Baihaqi).
Hadirin rahimakumullah,
Shalat lima waktu wajib dikerjakan kapan pun dan di mana pun seorang Muslim berada, baik dalam keadaan sehat maupun sakit, dalam perjalanan maupun di rumah. Allah swt berfirman:
فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْۚ فَاِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا
Artinya: Apabila kamu telah menyelesaikan salat, berzikirlah kepada Allah (mengingat dan menyebut-Nya), baik ketika kamu berdiri, duduk, maupun berbaring. Apabila kamu telah merasa aman, laksanakanlah salat itu (dengan sempurna). Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin (QS An-Nisa: 103).
Ayat ini menegaskan bahwa shalat adalah kewajiban yang memiliki waktu yang telah ditentukan. Tidak ada alasan untuk meninggalkan shalat, karena Islam memberikan kemudahan bagi setiap kondisi, seperti shalat jamak dan qashar bagi musafir, serta shalat dalam kondisi sakit yang bisa dilakukan dengan duduk atau berbaring sesuai kemampuan.
Hadirin rahimakumullah,
Shalat adalah bentuk komunikasi langsung antara hamba dan Tuhannya. Dalam shalat, seorang Muslim berdialog dengan Allah melalui bacaan Al-Fatihah dan doa-doa yang dilantunkan. Dengan rutin melaksanakan shalat, kita akan senantiasa mengingat Allah dan merasa dekat dengan-Nya. Selain itu, shalat lima waktu merupakan sarana penghapus dosa-dosa kecil yang dilakukan di antara waktu-waktu shalat.
Rasulullah saw bersabda: “Shalat lima waktu dan shalat Jumat ke Jumat berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya selama tidak melakukan dosa besar” (HR Muslim).
Hadirin rahimakumullah, Shalat yang dilakukan dengan khusyuk dapat mencegah seseorang dari perbuatan maksiat. Allah swt berfirman:
اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Artinya: Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al-Ankabut: 45).
Shalat yang dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan kekhusyukan akan membentuk karakter seseorang menjadi pribadi yang lebih baik, jujur, dan bertanggung jawab. Shalat lima waktu mengajarkan kedisiplinan dalam menjalankan ibadah tepat waktu. Setiap Muslim dituntut untuk menjaga waktu shalat, yang pada akhirnya melatih tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Hadirin rahimakumullah,
Shalat adalah sumber ketenangan jiwa. Dalam kondisi apa pun, shalat dapat menjadi tempat mengadu, memohon pertolongan, dan menenangkan hati yang gelisah. Allah swt berfirman:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram (QS Ar-Ra’d: 28).
Hadirin rahimakumullah,
Sebagaimana pentingnya shalat, meninggalkan shalat dengan sengaja adalah dosa besar yang dapat menjerumuskan seseorang kepada kekufuran. Rasulullah saw bersabda: “Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia telah kafir” (HR Tirmidzi dan An-Nasa’i).
Meninggalkan shalat tanpa uzur syar’i dapat mengundang murka Allah di dunia dan azab yang pedih di akhirat. Allah berfirman tentang penghuni neraka Saqar yang ditanya sebab mereka masuk ke dalamnya:
مَا سَلَكَكُمْ فِيْ سَقَرَ ٤٢ قَالُوْا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْنَۙ ٤٣
Artinya: Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar? Mereka menjawab, Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan salat (QS Al-Muddassir: 42-43).
Hadirin rahimakumullah,
Allah tidak membatasi tempat untuk melaksanakan shalat. Islam adalah agama yang penuh kemudahan. Rasulullah saw bersabda: “Seluruh bumi ini dijadikan masjid (tempat sujud) bagiku dan suci” (HR Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu, di mana pun kita berada, di tempat kerja, perjalanan, atau bahkan di tempat rekreasi, kita tetap wajib melaksanakan shalat. Jangan sampai kesibukan dunia membuat kita lalai dalam menunaikan kewajiban yang agung ini.
Hadirin rahimakumullah,
Marilah kita jadikan shalat sebagai kebutuhan dan bukan sekadar kewajiban. Mari perkuat keimanan kita dengan menjaga shalat lima waktu di mana pun kita berada. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang istiqamah dalam menjalankan shalat dan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ
Khutbah II
الْحَمْدُ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدنَا مُحَمَّد مَنْ اَثْنَى اللهُ عَلَيْهِ بِخُلُقٍ حَسَن، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَان .فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ. فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ .يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَمَّا بَعْدُ؛ فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى : إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ،. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَعَنْ سَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Yudi Prayoga, Sekretaris MWCNU Kedaton Bandar Lampung, Dinukil dari Laman NU Lampung
Khutbah Jumat: Menjaga Waktu-Waktu Shalat
Khutbah I
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُيَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًاأَمَّا بَعْدُ
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ, وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا, وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ, وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ, وَكُلُّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Ma’asyiral muslimin, jama’ah salat Jumat yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sesungguhnya Allah ﷻ telah menentukan waktu-waktu bagi shalat lima waktu. Allah Ta’ala mewajibkan kalian untuk menunaikan shalat pada waktu-waktu tersebut, dan menjadikan waktu itu sebagai syarat sahnya shalat, sebagaimana wudhu juga merupakan syarat sahnya shalat.
Maka, barangsiapa yang melaksanakan shalat di luar waktu yang telah ditentukan tanpa ada uzur syar’i, maka shalatnya tidak diterima, dan hukumnya sebagaimana orang yang shalat tanpa berwudhu, yaitu shalatnya batal.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَٰبًا مَّوْقُوتًا“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103)
Ibnu Mas’ud berkata:
“Sesungguhnya shalat memiliki waktu sebagaimana haji memiliki waktu. Barangsiapa melaksanakan haji sebelum atau sesudah waktunya, maka hajinya batal. Begitu pula dengan shalat.”
Maka siapa saja yang melakukan shalat sebelum waktunya atau setelah waktunya tanpa uzur, maka tidak akan diterima darinya. Ia tergolong telah meninggalkan shalat, dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:
“Tidak halal bagi seseorang untuk melaksanakan shalat di luar waktunya. Jika ia melakukannya sebelum masuk waktu tanpa uzur, maka shalatnya tidak sah dan wajib diulang. Jika ia menundanya tanpa uzur, maka tidak akan diterima darinya, sekalipun ia mengulanginya seribu kali, karena ia melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو ردٌّ“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim)
Allah ﷻ juga berfirman:
فَخَلَفَ مِنۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلشَّهَوَٰتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا“Kemudian datanglah setelah mereka generasi yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu. Maka mereka akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59)
Para sahabat Nabi ﷺ menafsirkan “menyia-nyiakan shalat” bukan dengan meninggalkannya secara total, tapi menunda dari waktunya.
Imam tabi’in Sa’id bin al-Musayyib berkata:
“Yaitu tidak shalat dzuhur sampai masuk waktu ashar, tidak shalat ashar sampai masuk waktu maghrib, tidak shalat maghrib sampai masuk waktu isya, tidak shalat isya sampai masuk waktu subuh, dan tidak shalat subuh sampai matahari terbit.”
Orang yang terus-menerus melakukan ini, maka Allah Ta’ala telah mengancamnya dengan firman-Nya:
فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا“Maka mereka akan menemui kesesatan.”
“Al-Ghayy” adalah lembah di neraka Jahanam yang sangat dalam dan panas.
Wahai hamba-hamba Allah…Sesungguhnya menunda shalat dari waktunya adalah tanda kemunafikan. Orang-orang munafik yang tidak memiliki iman dalam hatinya, mereka tidak peduli apakah shalat dilakukan di waktunya atau tidak.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ ٱلْمُنَـٰفِقِينَ يُخَـٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ ۖ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ“Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas.” (QS. An-Nisa: 142)
Rasulullah ﷺ bersabda:
تلك صلاة المنافق، يجلس يرقب الشمس حتى إذا كانت بين قرني الشيطان، قام فنقرها أربعًا، لا يذكر الله فيها إلا قليلاً“Itulah shalat orang munafik. Ia duduk menunggu matahari hingga hampir terbenam di antara dua tanduk setan, lalu ia bangkit dan melakukan shalat empat rakaat dengan tergesa-gesa, tanpa mengingat Allah kecuali sedikit.” (HR. Muslim)
Cermatilah hadits ini di antara tanda kemunafikan adalah:
Menunda-nunda waktu shalat.Malas dalam menunaikannya.Tidak shalat berjamaah di masjid.Shalat dengan gerakan cepat tanpa ketenangan (tidak tuma’ninah).
Rasulullah ﷺ pernah melihat seseorang shalat tanpa menyempurnakan ruku dan sujud, lalu beliau bersabda:
لو مات هذا على حاله هذه، مات على غير ملة محمد“Jika orang ini mati dengan dalam kondisi seperti itu, sungguh ia mati bukan dalam agama Muhammad.”
Beliau juga bersabda:
إنما مثل الذي يركع وينقر في سجوده، كالجائع لا يأكل إلا التمرة والتمرتين، فماذا تغنيان عنه؟! فأسبغوا الوضوء، ويل للأعقاب من النار، أتموا الركوع والسجود“Perumpamaan orang yang rukuk dan sujud dengan cepat bagaikan orang lapar yang hanya makan satu atau dua butir kurma. Apa cukup itu baginya? Maka sempurnakanlah wudhu, celakalah tumit-tumit yang tidak kena air wudhu dari api neraka. Sempurnakanlah rukuk dan sujud.” (HR. Ahmad dan dinyatakan hasan oleh syaikh Al-Albani)
Nabi ﷺ juga mengatakan:
“لا يذكر الله فيها إلا قليلاً”“Tidak mengingat Allah dalam shalatnya kecuali sedikit.”
Ini menunjukkan bahwa khusyu’ dalam shalat adalah hal yang sangat penting. Maka perhatikanlah urusan shalat kalian!
Allah ﷻ berfirman:
ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَـٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ“Demikianlah, dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu adalah bagian dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُKhutbah kedua
اَلْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًاWahai hamba-hamba Allah,
Ketahuilah bahwa tertidur dari shalat fardhu adalah sebab dari azab kubur. Imam Bukhari meriwayatkan dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
“Pada suatu pagi beliau bersabda: ‘Sesungguhnya tadi malam aku didatangi dua malaikat, lalu mereka membangunkanku dan berkata: Mari berangkat! Lalu aku pergi bersama mereka, hingga kami sampai pada seorang lelaki yang sedang berbaring, dan ada seorang lagi berdiri di atasnya dengan batu besar. Ia memukulkan batu itu ke kepalanya hingga pecah. Kemudian batu itu menggelinding, dan ia mengejarnya untuk mengambilnya kembali. Saat kembali, kepalanya telah pulih seperti semula, lalu diulangi lagi seperti sebelumnya.’
Rasulullah ﷺ berkata: “Aku bertanya kepada dua malaikat itu: Subhanallah! Apa ini?!”Lalu mereka menjawab bahwa lelaki itu adalah orang yang sengaja tidur dari shalat wajibnya.”
Na‘udzubillah min dzalik.
Wahai kaum Muslimin, sungguh banyak orang yang meremehkan perkara besar ini, yaitu tidur dari shalat wajib, terutama shalat subuh. Padahal telah dijelaskan bahwa perbuatan ini bisa menyebabkan seseorang terjatuh dalam dosa besar.
Bertakwalah kepada Allah Ta’ala, dan ketahuilah bahwa tanggung jawab besar ini terletak di pundak kepala keluarga.
Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.Sampaikanlah hukum-hukum shalat kepada anak-anak dan istri kalian, dan larang mereka dari terus-menerus melakukan kebiasaan berbahaya ini yang bisa menghancurkan agama mereka.
Tidak semua orang yang shalat itu selamat!
Bukankah kita sering mendengar mendengar firman Allah Ta’ala:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ“(Yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma’un: 5)
Artinya mereka lalai dalam shalatny baik dalam pelaksanaan syarat, rukun, maupun waktunya.
Ada seseorang yang shalat selama 60 tahun, tapi tidak ada satu pun yang diterima darinya karena kadang ia sempurnakan rukuk tapi tidak sujud, atau sebaliknya, sebagaimana dalam hadits:
إن الرجل ليصلي ستين سنة وما تقبل له صلاة؛ لعله يتم الركوع ولا يتم السجود، ويتم السجود ولا يتم الركوع
“Seseorang bisa shalat selama 60 tahun, tetapi tidak ada satu pun shalatnya yang diterima. Mungkin dia menyempurnakan rukuk, tapi tidak menyempurnakan sujud, atau sebaliknya.”
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُقِيمِينَ لِلصَّلَاةِ فِي أَوْقَاتِهَا، وَمِنَ الْخَاشِعِينَ فِيهَا، وَالْمُتَّبِعِينَ لِهَدْيِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ فِيهَا.اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ فِينَا وَلا مِنَّا وَلا مَعَنَا تَارِكًا لِلصَّلَاةِ، وَلَا غَافِلًا عَنْهَا، وَلَا مُسَوِّفًا فِي أَدَائِهَا، وَاجْعَلْهَا قُرَّةَ عُيُونِنَا وَرَاحَةَ قُلُوبِنَا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ تَقُومُ قُلُوبُهُمْ وَجَوَارِحُهُمْ فِي صَلَاتِهِمْ، وَارْزُقْنَا الإِخْلَاصَ وَالْخُشُوعَ، وَالْقُرْبَ مِنْكَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ وَسَجْدَةٍ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذُرِّيَّاتِنَا وَأَهْلِينَا، وَاجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنَ الْمُحَافِظِينَ عَلَى الصَّلَوَاتِ فِي الْجَمَاعَاتِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ النِّفَاقِ، وَسُوءِ الْخُلُقِ، وَالتَّكَاسُلِ عَنِ الْعِبَادَاتِ، وَنَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ عَلَى دِينِكَ حَتَّى نَلْقَاكَ وَأَنْتَ رَاضٍ عَنَّا
Khutbah II
الْحَمْدُ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ، وأَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدنَا مُحَمَّد مَنْ اَثْنَى اللهُ عَلَيْهِ بِخُلُقٍ حَسَن، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَان .فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ. فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ .يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَمَّا بَعْدُ؛ فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى : إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ،. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَعَنْ سَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Penulis Abu Hanan Fauzi, Dinukil dari laman Salafy Temanggung, dengan beberapa penyesuaian
Khutbah Jumat 3: Meningkatkan Kualitas Sholat
Khutbah I
اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ فَضَّلَنَا بِشَهْرِ رَجَبَ, وَفَرّضَى خَمْسَ الصَّلَوَاتِ، وَهُوَ الَّذِيْ اصْطَفَى نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا ﷺ الْمُجْتَبَى الْمُؤَيَّد. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمَ وَبَارِكْ وَتَرَحَّمْ وَتَحَنَّنْ عَلَى مَنْ بِهِ تُرْجَى شَفَاعَتُهُ يَوْمَ الْمَآبِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعِبَادِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى سَائِرِ الْأَعَاجِمِ وَالْعَرَب. أما بعد ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ : حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
وَقَالَ : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Mengawali khutbah yang singkat ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan ketakwaan dan keimanan kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan semua kewajiban dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang dan diharamkan.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Jumat kali ini, kita berada tepat di tanggal 28 bulan Rajab 1442 H. atau bertepatan dengan tanggal 12 Maret 2021 M. Artinya kamis kemarin tanggal 27 Rajab umat islam di seluruh dunia bersama-sama baru saja memperingati peristiwa sejarah, yaitu Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Di setiap bulan Rajab, kita selalu diingatkan oleh guru-guru kita, para kiai kita, bahwa pada saat Mi’raj, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima perintah shalat lima waktu. Begitu istimewanya shalat, sampai-sampai Allah mewahyukan perintah shalat di tempat yang istimewa. Di suatu tempat di atas langit ketujuh, di atas sidratul muntaha. Di suatu tempat yang tidak pernah sekali pun dilakukan kufur, syirik, dosa, dan maksiat di dalamnya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا للهِ قَانِتِينَ ﴿البقرة: ٢٣٨﴾
“Peliharalah oleh kalian semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha (shalat ‘Ashar). Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk” (QS. al-Baqarah: 238).
Dalam firman yang lain, surat Al-Munafikun ayat 9:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al Munafikun : 9).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهُ عَلَى الْعِبَادِ، فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِهِنَّ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ (رواه البيهقيّ)
Maknanya: “Ada lima shalat yang Allah wajibkan atas para hamba. Barangsiapa melaksanakannya dan tidak melalaikan salah satu darinya dengan tidak memenuhi haknya, maka ia mendapatkan janji dari Allah akan dimasukkan ke surga. Dan barangsiapa tidak melaksanakannya, maka ia tidak mendapatkan janji dari Allâh tersebut. Jika Allah menghendaki, maka Ia menyiksanya dan jika Allah menghendaki, maka Allah memasukkannya ke surga” (HR al Baihaqi).
Jadi shalat kedudukannya sangat agung, karena ia adalah amal yang paling utama setelah iman. Barangsiapa yang menjaga dan memeliharanya, sungguh ia telah menjaga agamanya. Dan barangsiapa yang terhadap shalat ia lalai, maka terhadap selain shalat, pastilah ia lebih abai. Begitu agungnya shalat, dalam beberapa ayat Al-Qur’an shalat sering disebutkan secara beriringan dengan iman kepada Allah dan Rasul-Nya, di antaranya:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿البقرة: ٢٧٧﴾
Maknanya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala yang diberikan Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS al-Baqarah: 277) .
Apabila kita perhatikan juga, betapa banyak disebutkan dalam al-Qur’an secara beriringan antara perbuatan meninggalkan shalat dengan kekufuran. Allah ta’ala berfirman memberitakan tentang penduduk neraka ketika ditanya:
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (٤٢) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (٤٣) وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ (٤٤) وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ (٤٥) وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ (٤٦) ﴿المدثر: ٤٢-٤٦﴾
Maknanya: “Apakah yang memasukkan kalian ke dalam Saqar (neraka)?. Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin dan kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan” (QS al Muddatstsir: 42-46).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Para ulama Ahlussunnah mengatakan bahwa, jika seseorang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya atau melecehkannya, maka ia telah kafir. Sedangkan jika ia meninggalkannya karena malas, maka ia tidak kafir, tetapi dihukumi fasiq, pelaku dosa besar.
Hadirin, Janganlah kita menunda-nunda shalat sampai keluar waktunya. Janganlah kita bermalas-malasan melakukan shalat. Di dunia ini, kita bisa saja menunda jadwal perjalanan atau pekerjaan, sedangkan kematian adalah kepastian yang tidak bisa ditunda atau dibatalkan. Kita selamatkan diri kita sebelum lewat waktunya. Jatah umur kita terbatas, embusan napas kita ada penghabisannya dan kematian bagaikan pedang yang telah terhunus di atas leher kita, kita tidak tahu kapan ia turun dan menebas batang leher kita. Jika seseorang meninggalkan shalat, tidakkah ia malu kepada Allah yang telah menciptakannya dan menganugerahkan sekian banyak rahmat dan nikmat kepada-Nya?
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
رَأْسُ الأمْرِ الإسْلامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاةُ (أخرجه أحمد والنسائي والترمذي وغيرهم وقال: حديث حسن صحيح )
Maknanya: “Induk dari segala perkara adalah Islam dan tiangnya adalah shalat” (HR Ahmad, an-Nasaa’i, at-Tirmidzi dan lain-lain. At-Tirmidzi berkata: Hadits ini hasan shahih).
Allah telah menjadikan shalat sebagai penyejuk mata dan jiwa, serta pelipur lara bagi mereka yang dirundung kesedihan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberikan teladan kepada kita bahwa ketika beliau sedang mengalami masa-masa sulit dan berat, beliau menghibur diri dengan mendirikan shalat (HR Ahmad dan Abu Dawud). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاةِ (أخرجه أحمد في مسنده والنسائي والبيهقي في السنن وصححه الحاكم في المستدرك وغيرهم )
“Telah dijadikan kesejukan mata dan jiwaku (kebahagiaanku) pada shalat” (HR Ahmad dalam Musnadnya, an-Nasaa’i, al-Baihaqi dalam as-Sunan, dan hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita jadikan bulan Rajab, bulan peringatan mukjizat Isra’ dan Mi’raj, sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas shalat kita. Shalat yang berkualitas adalah shalat yang sah dan diterima oleh Allah ta’ala. Shalat seseorang dikatakan sah apabila telah memenuhi seluruh syarat sah dan rukunnya serta menjauhi semua hal yang dapat membatalkannya. Namun demikian, hadirin sekalian, shalat yang sah belum tentu diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
Al-Habib Abdullah bin Husain bin Thahir Ba’alawi dalam kitab Sullamut Taufiq menjelaskan bahwa supaya shalat kita diterima oleh Allah, selain kita harus memenuhi syarat sah dan rukunnya, kita juga harus memenuhi syarat-syarat diterimanya shalat, yaitu: Berniat ikhlas karena mengharap ridha Allah semata. Makanan dan minuman yang ada di perut kita sewaktu shalat harus halal. Pakaian yang kita kenakan pada saat shalat harus halal. Tempat yang kita gunakan shalat harus halal. Shalat yang kita lakukan harus disertai kekhusyukan, walaupun hanya sebentar.
Karena itu, orang yang melaksanakan shalat tetapi hatinya tidak khusu’, maka seakan–akan ibadah yang dikerjakannya sia-sia, karena tidak diterima di sisi Allah swt. Namun begitu, harus diakui bahwa khusu’ ini merupakan perkara yang sangat berat sekali. Apalagi bagi orang yang masih awam. Sedikit sekali orang yang mampu khusu’ dalam seluruh shalatnya. Kalau kenyataannya seperti itu, minimal yang bisa kita lakukan adalah bagaimana khusyu’ itu bisa terwujud dalam shalat kita walaupun hanya sesaat.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Khusyuk adalah menghadirkan dalam hati rasa takut kepada Allah, disertai rasa cinta dan pengagungan kepada-Nya. Khusyuk dalam shalat adalah perbuatan hati yang bisa diraih dan dilakukan dengan beberapa sebab dan cara. Di antaranya adalah memperbanyak mengingat kematian. Ketika kita akan memulai shalat, kita berucap dalam hati: “Mungkin ini adalah shalat terakhirku, setelahnya mungkin aku tidak akan merasakan kehidupan lagi di dunia ini.” Di antara sebab dan cara untuk menghadirkan khusyuk dalam shalat juga adalah dengan merenungkan dan menghayati makna yang terkandung dalam bacaan-bacaan shalat.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Demikian khutbah yang singkat ini, mudah-mudahan pada bulan Rajab ini kita senantiasa diberi kekuatan, kemudahan dan kemampuan untuk memperbanyak kebaikan dan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Amiin ya rabbal ‘alamiin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Penyusun: Sodikin, PAI KUA Bobotsari, Purbalingga, dinukil dari laman Kemenag Purbalingga
Khutbah Jumat Singkat 4: Aman di Hari Kiamat dengan Sholat
Khutbah I
السّلام عليكم ورحمة الله وبركاته الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاإِلهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِيَّاهُ نَعْبُدُ وِإِيَّاهُ نَسْتَعِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. {أما بعد} فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ رَحِمَكُمُ اللهُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُثُّكُمْ وَنَفْسِيْ عَلَى طَاعَةِ اللهِ فِيْ كُلِّ وَقْتِ لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ * قال الله تعالى: وَهَـذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُّصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَهُمْ عَلَى صَلاَتِهِمْ يُحَافِظُونَ (الأنعام: 92وقال ﷺ: مَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَاةِ كَانَتْ لَهُ تِجَارَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَنُوْرًا وَبُرْهَانًا، وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَى الصَّلَاةِ لَمْ تَكُنْ لَهُ تِجَارَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا نُوْرًا وَلَا بُرْهَانًا، وَلَا أمَانًا. (قرة العيون: صحيفة: 6وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: لَا يَمْسَحُ اَحَدُكُمْ وَجْهَهُ مِنَ التُّرَابِ إِذَا سَجَدَ فِيْ الصَّلَاةِ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَادَامَ أَثَرُ السُّجُوْدِ فِيْ وَجْهِهِ وَجُبْهَتِهِ. (قرة العيون: صحيفة: 6
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,
Marilah kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Taqwa dalam arti meaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebab dengan taqwalah yang akan mengantarkan kita menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Diantara ketaqwaan kita adalah harus memelihara sholat yang lima waktu sebagaimana firman Allah yang saya bacakan diatas yang artinya wallahu ‘alam bimurodih:
Dan ini (Al Quraan) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quraan) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya.
Ayat tersebut memberikan pengertian kepada kita bahwa Alqur’an yang diturunkan Allah itu diberkahi dan membenarkan terhadap kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al-qur’an, dengan Al-qur’an kita harus mengingatkan saudara-saudara kaita, sebagai orang yang beriman tentu percaya kepada Al-qur’an dan niscaya selalu memelihara sholatnya.
Sholat Menjadi Perniagaan di Akhirat
Sabda Nabi SAW, yang artinya: Siapa-siapa orang yang memelihara sholat maka baginya punya perniagaan pada hari kiyamat, cahaya dan tanda bukti. Dan siapa-siapa orang yang tidak memelihara sholat, maka baginya tidak mempunyai perniagaan pada hari kiyamat, juga tidak ada cahaya, tidak ada pembuktian dan juga tidak aman. (Qurtubi [Qurrotul-‘uyun; hal.6])
Hadits ini memberikan pengertian kepada kita bahwa; jika kita memelihara sholat maka kita pada hari kiyamat kelak akan mempunyai perniagaan, cahaya terang dan bikti-bukti keimanan kita, jika tidak maka tidak akan mempunyai apa-apa.
Hikmah Tanah di Wajah Ketika Setelah Sujud
Sab Nabi SAW: Seseorang diantaramu jangan mengusap tanah dari wajahnya ketika setelah sujud dalam sholat, karena sesungguhnya Para Malaikat membacakan sholawat atasnya selama bekas sujud itu masih ada di wajah dan keningnya. (Qurrotul-‘uyun; hal.6).
Hadits ini memberikan pengertian kepada kita bahwa; pasir yang menempel di wajah kita bekas sujud dalam sholat itu mendapat barokah hingga para Malaikat akan selalu membacakan sholawat untuk kita selama pasir itu masih ada di kening kita.
Demikian khutbah yang kami sampaikan mudah-mudahan bermanfaat dan diridhoi Allah SWT.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْأَنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْأَيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمِ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوُهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
Khutbah II
الحَمْدُ للهِ مُؤَيِّدِ الصَّابِرِيْنَ بِعَزِيْزِ نَصْرِهِ، وَمُيَسِّرِ الشَّاكِرِيْنَ لِحَمِيْدِ شُكْرِهِ، وَمُوَفِّقِ الْمُخْتَارِيْنَ لِلْقِيَامِ بِأَمْرِهِ، أَحْمَدُهُ عَلَى مَا أَنْعَمَ، وَأَسْلَمَ لِأَمْرِهِ فِيْمَا حَكَمَ وَأَبْرَمَ، أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ * …أَمَّا بَعْدُ….. فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ ! اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوُتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، إِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ وَأَيَّدَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ عِبَادِهِ، فَقَالَ عَزَّ مِنْ قَائِلٍ : إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا: اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَأَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ وَأَهْلِ طَاعَتِكَ أَجْمَعِيْنَ : اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ اَللَّهُمَّ اِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَسْبَعُ وَمِنْ دُعَاءٍ لاَيُسْمَعُ رَبَّنَا ءَاتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِعِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِتَائِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَخْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِيْدُكمُ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ فَاذْكُرُاوْ اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْاهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِيْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ
Dinukil dari laman Duta Dakwah via kanal Islami Liputan6.com, tanpa penulis
Khutbah Jum’at 5: Menghapus Dosa Dengan Shalat
Khutbah I
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
وَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ. أَمَّا بَعْد
Puji syukur kehadirat Allah ﷻ yang telah memberikan banyak kenikmatan kepada kita, yang mana kenikmatan tersebut melebihi ujian-Nya. Karena sejatinya, kenikmatan yang datang dari Allah ﷻ ibarat samudra tak bertepi sedangkan ujian-Nya hanyalah seujung kuku yang mampir dalam teras kehidupan kita.
Oleh sebab itu, mari bersama-sama mensyukuri kenikmatan yang Allah ﷻ berikan kepada kita.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita, contoh dan suri tauladan dalam seluruh dimensi kehidupan, yakini Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, sahabat, dan siapa saja yang masih istiqamah berjalan diatas ajaran yang beliau ajarkan hingga hari kiamat kelak.
Tak lupa khatib wasiatkan kepada diri khatib pribadi dan jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan kualitas iman dan takwa kita, karena iman dan taqwa adalah sebaik-baik bekal untuk menuju kehidupan di akhirat kelak.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Shalat Sebagai Penghapus Dosa
Shalat adalah ibadah wajib (mahdhah) yang berfungsi sebagai tiang agama sekaligus memiliki banyak keutamaan. Uniknya, perintah shalat diterima langsung oleh Rasulullah ﷺ tanpa perantara Malaikat Jibril, berbeda dengan perintah-perintah Allah ﷻ yang lain.
Untuk memberikan perintah shalat, Allah ﷻ memperjalankan hamba-Nya, Muhammad ﷺ, dari Masjid Al-Haram (Makkah) menuju Masjid Al-Aqsha di Baitul Maqdis (Palestina). Kemudian, Allah ﷻ menaikkan Rasulullah ﷺ ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah shalat lima waktu.
Bagi seorang mukmin, shalat adalah wujud dzikir atau pengingat kepada Allah ﷻ. Kendati seseorang kerap melantunkan dzikir setiap hari, meninggalkan kewajiban menegakkan shalat seakan-akan ia dengan sengaja mengabaikan kewajiban resmi dalam mengingat Allah ﷻ, sebagaimana yang telah diperintahkan dan ditunjukkan oleh Nabi Muhammad ﷺ.
Shalat adalah bukti konkret dari ketaatan dan kesetiaan seorang hamba kepada Rabbnya. Shalat lima waktu menjadi penanda bahwa hubungan seorang hamba tetap terjaga dengan Penciptanya. Lebih daripada itu, ternyata shalat merupakan sarana bagi seorang hamba untuk membersihkan diri dari dosa. Rasulullah ﷺ bersabda,
ما مِنْ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنْ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ
“Tidak seorangpun yang apabila tiba waktu shشlat fardhu lalu ia membaguskan wudhunya, khusyuknya, dan rukuknya, melainkan shalatnya menjadi penebus dosa-dosa yang telah lampau, selagi ia tidak mengerjakan dosa yang besar. Demikian itu berlaku untuk seterusnya.” (HR. Muslim II/13)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ . قَالُوا: لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا . قَالَ : فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ بِهَا الْخَطَايَا
“Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikitpun kotorannya.” Beliau bersabda, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Para ulama menjelaskan bahwa dosa-dosa kecil bisa terhapus dengan amal ketaatan, di antaranya adalah shalat wajib. Antara shalat Shubuh dan Dhuhur, Ashar dan Maghrib, Maghrib dan Isya, Isya dan Shubuh, di dalamnya terdapat pengampunan dosa (yaitu dosa kecil) dengan sebab melaksanakan shalat lima waktu.
Seperti diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda,
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
“Di antara shalat yang lima waktu, di antara Jumat yang satu dan Jumat lainnya, di antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan lainnya, itu akan menghapus dosa di antara keduanya selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)
Dalam kitab Bahjatun Nazhirin, jilid II halaman 234, Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilali menyatakan, “Shalat yang mampu menghapus dosa adalah yang dilakukan dengan penuh khusyu’—hati yang khidmat dan anggota tubuh yang tunduk—serta didasari harapan akan keridhaan Allah.
Namun, perlu dicatat bahwa dosa-dosa kecil ini bisa terhapus dengan amalan wajib asalkan seseorang menjauhi dosa-dosa besar. Pendapat inilah yang dianut mayoritas ulama salaf.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitabnya, Jami’ul Ulum wal Hikam, bahwa menjauhi dosa besar menjadi syarat agar dosa kecil bisa dihapus melalui amalan-amalan wajib.
Jika seseorang tidak menjauhi dosa besar, dosa kecilnya tidak akan terhapus hanya dengan melaksanakan amalan wajib. Sementara itu, Ibnu Taimiyah rahimahullah berpandangan bahwa tidak hanya dosa kecil, bahkan dosa besar pun dapat dimaafkan. (Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu Taimiyah, 7: 487-501)
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Dalam kitab Jami’ul Ulum wal Hikam halaman 205, disebutkan bahwa para salaf, termasuk Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, menekankan keutamaan shalat sebagai penghapus dosa. Ibnu Mas’ud mengatakan, “Shalat lima waktu mampu menghapus setiap dosa di antara waktu-waktu tersebut, selama seseorang menjauhi dosa besar.”
Selain itu, Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu juga menegaskan pentingnya shalat lima waktu dengan menyatakan, “Jagalah shalat lima waktu karena shalat tersebut dapat menghapus dosa-dosa yang dilakukan oleh tubuh kita, selama seseorang tidak melakukan dosa seperti pembunuhan.”
Pernyataan dari para sahabat ini menegaskan bahwa shalat memiliki keunggulan luar biasa dalam menghapus dosa-dosa, dengan syarat menjauhi dosa-dosa besar sebagai bagian dari kepatuhan terhadap perintah Allah ﷻ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Shalat, Ibadah yang Banyak Dilalaikan
Namun patut disayangkan, meski shalat dapat menghapus dosa, masih banyak kaum muslimin yang mengabaikan kewajiban menunaikan shalat. Dalam Al-Qur’an, disebutkan bahwa orang yang lalai dalam menunaikan shalatnya dikategorikan sebagai orang yang celaka.
Meskipun mereka melaksanakan shalat, namun mereka menunda-nunda waktu shalat dan mengabaikan kewajiban tersebut, sehingga terkesan meremehkan perintah Allah ﷻ. Allah ﷻ mengingatkan dalam firman-Nya:
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
”Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5)
Beberapa ulama tafsir menjelaskan bahwa mereka yang dimaksud adalah orang-orang yang mengabaikan waktu shalat dan menunda-nunda kewajiban tersebut hingga keluar dari waktu yang telah ditentukan.
Dalam riwayat dari Sa’id bin Abi Waqqas, ia bertanya kepada ayahnya mengenai makna “orang-orang yang lalai dari shalatnya“. Ayahnya menjawab bahwa hal itu bukanlah sekadar lupa atau merenungkan hal lain saat shalat, melainkan menyia-nyiakan waktu shalat, yakni lalai hingga waktu shalat terlewat.
Selain itu, ada penafsiran lain yang menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang munafik yang meninggalkan shalat secara sembunyi-sembunyi namun menampakkan keislaman mereka secara terang-terangan.
Ayat tersebut menegaskan bahwa mengabaikan kewajiban shalat dengan menunda-nunda atau meninggalkannya tanpa alasan yang dibenarkan adalah perilaku yang sangat dikecam oleh Allah ﷻ. Ini menunjukkan pentingnya menjaga kualitas dan waktu shalat sebagai bentuk ketaatan kepada Allah ﷻ.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa orang-orang yang disebut sebagai “orang-orang yang lalai dari shalatnya” adalah mereka yang cenderung atau terbiasa meninggalkan shalat hingga hampir berakhirnya waktu shalat, atau mereka yang tidak melaksanakan shalat dengan sempurna sesuai dengan rukun-rukunnya dan syarat-syaratnya.
Mereka tidak menjalankan shalat sebagaimana yang telah diperintahkan dalam ajaran Islam, tidak memiliki kekhusyukan dalam melaksanakan shalat dan tidak pula merenungkan makna yang terkandung di dalamnya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah memperluas pemahaman bahwa kelalaian terhadap shalat tidak hanya sebatas menunda-nunda waktu, namun juga melibatkan ketidaksempurnaan dalam pelaksanaan shalat baik dari aspek formal maupun spiritual.
Ini menunjukkan bahwa kualitas shalat, baik dari segi tata cara maupun hati yang khusyuk, merupakan hal yang sangat penting dalam menjalankan ibadah secara benar dan bermakna dalam agama Islam.
Di antara alasan utama seseorang melalaikan shalat lima waktu adalah adanya penyakit dalam hati, kurang semangat dalam beribadah, berpaling dari Allah ﷻ, dan lebih mengutamakan keinginan hawa nafsu daripada perintah Allah ﷻ.
Kemalasan dalam beribadah, terutama menunaikan shalat lima waktu, menunjukkan rendahnya ketaatan seorang Muslim kepada Rabbnya. Bahkan, sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu pernah menyatakan bahwa pada masa para sahabat hidup bersama Nabi ﷺ, jika ada seorang Muslim yang tidak shalat berjama’ah di masjid, hal itu menandakan sifat munafik.
Pasalnya, salah satu tanda seseorang munafik adalah enggan menegakkan shalat.
إنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisa’: 142)
Berkenaan dengan ayat ini, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِى الصَّفِّ
“Aku telah melihat bahwa orang yang meninggalkan shalat jama’ah hanyalah orang munafik, di mana ia adalah munafik tulen. Karena bahayanya meninggalkan shalat jama’ah sedemikian adanya, ada seseorang sampai didatangkan dengan berpegangan pada dua orang sampai ia bisa masuk dalam shaf.” (HR. Muslim no. 654)
Sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma menyatakan,
كُنَّا إِذَا فَقَدْنَا الإِنْسَانَ فِي صَلاَةِ العِشَاءِ الآخِرَةِ وَالصُّبْحِ أَسَأْنَا بِهِ الظَّنَّ
“Jika kami tidak melihat seseorang dalam shalat Isya dan shalat Shubuh, maka kami mudah untuk suudzan (berprasangka jelek) padanya.”
Ibrahim An-Nakha’i rahimahullah mengatakan,
كَفَى عَلَماً عَلَى النِّفَاقِ أَنْ يَكُوْنَ الرَّجُلُ جَارَ المسْجِد ، لاَ يُرَى فِيْهِ
“Cukup disebut seseorang memiliki tanda munafik jika ia adalah tetangga masjid namun tak pernah terlihat di masjid.”
Semoga Allah mengampuni setiap dosa-dosa kita, memberikan taufik untuk menjadi lebih baik dengan bertaubat dan mudah menjalankan ketaatan kepada-Nya. Wallahul musta’an.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Keduaاَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ
فياأيها الناس اتقوالله… قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
وَمَنْ يَتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Pada khutbah yang kedua ini, khatib kembali mengajak diri khatib pribadi dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah ﷻ dengan segenap daya dan upaya.
Marilah pada kesempatan ini kita berdoa kepada Allah ﷻ, memohon ampunan atas segala dosa dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang tidak melalaikan shalat.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ
اَللَّهُمَّ أَعْتِقْ رِقَابَنَا مِنَ النَّارِ وَأَوْسِعْ لَنَا مِنَ الرِّزْقِ فِي الْحَلاَلِ، وَاصْرِفْ عَنَّا فَسَقَةَ الْجِنِّ وَاْلإِنْسِ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ
اَللَّهُمَ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَرْخِصْ أَسْعَارَهُمْ وَآمِنْهُمْ فِيْ أَوْطَانِهِمْ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Penyusun Tim Ulin Nuha Ma’had Aly An-Nuur, dinukil dari laman Ma’had Aly An-Nuur.
People also Ask:
Khutbah ke-2 isinya apa saja?
Isi khutbah kedua Jumat meliputi pujian kepada Allah, selawat kepada Nabi Muhammad SAW, wasiat takwa, dan puncaknya adalah doa-doa memohon ampunan, hidayah, kekuatan, kebaikan dunia akhirat, serta perlindungan dari azab neraka untuk seluruh kaum muslimin, mukminin, dan seluruh umat manusia, diakhiri dengan seruan untuk menegakkan salat.
Kapan waktu yang tepat untuk menyampaikan khutbah Jumat?
Pelaksanaan khutbah Jumat dilakukan sebelum salat. Jika dilaksanakan setelah salat, maka tidak sah. Pelaksanaan khutbah Jumat dihadiri oleh jamaah salat Jumat.
Kenapa shalat harus tepat waktu?
Sebab orang yang solat tepat waktu adalah orang yang memprioritaskan Allah SWT di atas segalanya, dan mengikhlaskan waktunya untuk menghadap Allah SWT, maka dosa-dosanya akan digugurkan.
Apa saja 5 rukun khutbah?
5 Rukun Khutbah Jumat yang Wajib Dipenuhi agar Ibadah SahLima rukun khutbah Jumat adalah membaca pujian kepada Allah (hamdalah), membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, berwasiat takwa, membaca sebagian ayat Al-Qur'an, dan berdoa untuk kaum mukmin, yang harus dipenuhi agar khutbah dianggap sah dan sesuai syariat. Kelima rukun ini harus dilakukan secara berurutan dalam dua sesi khutbah.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5024176/original/090387600_1732614331-quote-sabar-dan-ikhlas.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4975686/original/001020200_1729565914-nama-sahabat-nabi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3413087/original/89624600_1616897919-horizontal-shot-satisfied-college-student-uses-new-cool-app-cell-phone-carries-notepad-writing-notes-wears-spectacles-silk-scarf-knitted-sweater-isolated-blue-wall_273609-26316.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5095573/original/012538800_1736934827-pexels-helloaesthe-15707485.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5121926/original/039550200_1738729829-1738723823107_muamalah-adalah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5423024/original/045605200_1764051067-Membaca_ayat_suci_al_quran__pexels_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417694/original/055901700_1763543336-Kultum_Singkat_tentang_Sabar.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5438947/original/026009100_1765343687-SnapInsta.to_590425390_18544905169033381_7948525635136531867_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4628436/original/095598200_1698637528-8712637.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2978888/original/058603600_1574829310-20191127-Lowongan-Pekerjaan-Dibuka-di-Job-Fair-Jakarta-TALLO-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3998634/original/078503800_1650277026-20220418-Tadarus_Al-Quran_di_Bulan_Ramadhan-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3097896/original/057966000_1586407258-concrete-dome-buildings-during-golden-hour-2236674.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5067115/original/068159000_1735273362-1735270416030_kata-kata-mutiara-islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4858180/original/029627600_1717939832-WhatsApp_Image_2024-05-29_at_10.56.30.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5309824/original/049461300_1754640312-56c16cba-d65e-4d65-9a2f-45a2fa7bdd9a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490521/original/051406700_1770014009-Ilustrasi_Puasa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381448/original/032968300_1613719892-wooden-spoon-fork-as-clock-hands-white-plate_49149-1007.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5365523/original/042845000_1759199598-Dua_wanita_muslimah_membaca_buku.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490999/original/014133400_1770040826-Masjid_Agung_Demak.jpeg)





























