Hadist tentang Keutamaan Berbuat Baik kepada Orang Tua, Simak Penjelasan Ulama

1 week ago 16

Liputan6.com, Jakarta - Hadist tentang keutamaan berbuat baik kepada orang tua menunjukkan betapa mulianya birrul walidain dalam pandangan islam. Dalam Al-Qur'an birrul walidain bahkan disebut setelah kewajiban bertauhid kepada Allah.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa ridha Allah sangat bergantung pada ridha kedua orang tua, begitu pula dengan murka-Nya. Salah satu hadis yang paling menyentuh adalah bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu, yang merupakan sebuah kiasan tentang betapa rendah hati dan tulusnya seorang anak harus mengabdi untuk meraih kunci surga.

Hadist mengenai kedudukan berbuat baik kepada orang tua ini bukan sekadar norma sosial, melainkan ibadah yang mampu mengantarkan seorang hamba pada derajat spiritual yang tinggi.

Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh Sahih Muslim menjelaskan, pengabdian kepada orang tua, terutama saat mereka telah mencapai usia senja, adalah peluang emas untuk mendapatkan pahala dan keutamaan berlimpah. Ketulusan dalam merawat dan menyenangkan hati orang tua dapat menjadi wasilah (perantara) dihapuskannya dosa-dosa serta diangkatnya derajat seorang hamba di sisi Allah. Mari simak ulasan lengkapnya.

Dalam kitab At-Targhib wat Tarhib, Imam Al-Mundziri menyebutkan sembilan hadis tentang keutamaan berbakti kepada orang tua. Berikut ini penjelasannya.

1. Amal yang Paling Utama

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ أَيُّ العَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: الصَّلَاةُ عَلَى مِيْقَاتِهَا. قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: ثُمَّ بِرُّ الوَالِدَيْنِ. قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ.

Latin: ‘An ‘Abdillāh bin Mas’ūdin raḍiyallāhu ‘anhu sa’altu Rasūlallāhi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallama qultu yā Rasūlallāh ayyu al-‘amali afḍal? Qāla: Aṣ-ṣalātu ‘alā mīqātihā. Qultu: thumma ayy? Qāla: thumma birru al-wālidayn. Qultu: thumma ayy? Qāla: al-jihādu fī sabīlillāh.

Artinya: "Dari Abdullah bin Mas’ud ra, ia bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, apakah amal paling utama?’ ‘Shalat pada waktunya,’ jawab Rasul. Ia bertanya lagi, ‘Lalu apa?’ ‘Lalu berbakti kepada kedua orang tua,’ jawabnya. Ia lalu bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ ‘Jihad di jalan Allah,’ jawabnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari menjelaskan bahwa urutan ini menunjukkan betapa besarnya kedudukan berbakti kepada orang tua (birrul walidain) karena diletakkan tepat setelah kewajiban kepada Allah (shalat) dan sebelum jihad.

Ulama menyebutkan bahwa alasan birrul walidain didahulukan daripada jihad karena berbakti kepada orang tua bersifat fardhu 'ain (kewajiban individu), sedangkan jihad dalam banyak kondisi bersifat fardhu kifayah.

2. Jihad dengan Merawat Orang Tua

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَاسْتَأْذَنَهُ فِى الْجِهَادِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ.

Latin: ‘An ‘Abdillāhi bna ‘Amri bni al-‘Āṣi raḍiyallāhu ‘anhumā yaqūlu jā’a rajulun ilan-Nabiyyi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallama fasta’dzanahu fīl-jihādi faqāla lahu Rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallama: Aḥayyun wālidāk? Qāla: Na’am. Qāla: Fa fīhimā fa jāhid.

Artinya: "Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra, seorang sahabat mendatangi Rasulullah saw lalu meminta izin untuk berjihad. Rasulullah saw bertanya, ‘Apakah kedua orang tuamu masih hidup?’ ‘Masih,’ jawabnya. Rasulullah saw mengatakan, ‘Pada (perawatan) keduanya, berjihadlah.’" (HR. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Imam An-Nawawi dalam Syarh Sahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini adalah dalil bahwa jika orang tua masih hidup, maka mengabdi kepada mereka harus lebih diutamakan daripada jihad yang sifatnya sunnah atau fardhu kifayah.

Istilah "Fa fīhimā fa jāhid" (maka pada keduanya berjihadlah) bermakna mencurahkan segala tenaga, kesabaran, dan harta untuk melayani mereka diibaratkan seperti perjuangan berat di medan perang.

3. Kewajiban Membahagiakan Orang Tua

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ جِئْتُ أُبَايِعُكَ عَلَى الْهِجْرَةِ وَتَرَكْتُ أَبَوَىَّ يَبْكِيَانِ فَقَالَ: ارْجِعْ فَأَضْحِكْهُمَا كَمَا أَبْكَيْتَهُمَا.

Latin: ‘An ‘Abdillāhi bni ‘Amrin raḍiyallāhu ‘anhumā qāla jā’a rajulun ilā Rasūlillāhi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallama faqāla ji’tu ubāyi’uka ‘alāl-hijrati wa taraktu abawayya yabkiyāni faqāla: Irji’ fa’aḍ-ḥik-humā kamā abkaytahumā.

Artinya: "Dari Abdullah bin Amr ra, ia bercerita, seorang sahabat mendatangi Rasulullah saw dan mengatakan, ‘Aku datang kepadamu untuk berbaiat hijrah dan kutinggalkan kedua orangtuaku dalam keadaan menangis.' Rasul menjawab, ‘Pulanglah, buatlah keduanya tertawa sebagaimana kau membuat mereka menangis.’" (HR. Abu Dawud)

Al-Khathabi dalam kitab Ma’alimus Sunan menekankan bahwa menyakiti perasaan orang tua hingga mereka menangis adalah bentuk kedurhakaan (uquq).

Menebus kesalahan tersebut bukan hanya dengan meminta maaf, melainkan dengan melakukan tindakan nyata yang membawa kegembiraan bagi mereka.

4. Surga di Bawah Kaki Ibu

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ جَاهِمَةَ السُّلَمِيِّ، أَنَّ جَاهِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم، فَقَالَ إِنِّي أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ مَعَكَ وَجِئْتُ أَسْتَشِيرُكَ قَالَ: هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ؟ قَالَ نَعَمْ قَالَ: فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلِهَا.

Latin: ‘An Mu’āwiyata bni Jāhimata as-Sulamiyyi, anna Jāhimata raḍiyallāhu ‘anhu atān-Nabiyya ṣallallāhu ‘alayhi wa sallama faqāla: Innī aradtu an aghzuwa ma’aka wa ji’tu astasyīruka qāla: Hal laka min ummin? Qāla na’am. Qāla: Fal-zamhā, fa’innal-jannata taḥta rijlihā.

Artinya: "Dari Muawiyah bin Jahimah As-Sulami, Jahimah ra mendatangi Nabi Muhammad saw dan berkata, ‘Aku ingin berperang bersamamu dan aku datang untuk meminta petunjukmu.’ Rasul bertanya, ‘Apakah kamu mempunyai ibu?’ ‘Ya,’ jawabnya. ‘Lazimkanlah (tetaplah bersamanya) ibumu karena surga berada di bawah telapak kakinya.’" (HR. An-Nasa’i dan Al-Hakim)

Al-Munawi dalam Faydhul Qadir menjelaskan bahwa kalimat "surga di bawah telapak kakinya" adalah majas (kinayah) tentang kerendah-hatian dan ketundukan total anak kepada ibunya. Jalan menuju surga begitu dekat dengan cara berkhidmah kepada ibu.

5. Orang Tua Sebagai Pintu Surga

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ سَمِعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: الوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الجَنَّةِ، فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ البَابَ أَوِ احْفَظْهُ.

Latin: ‘An Abī ad-Dardā’ raḍiyallāhu ‘anhu sami’tu Rasūlallāhi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallama yaqūlu: Al-wālidu awsaṭu abwābil-jannati, fa’in syi’ta fa’aḍi’ dzālikal-bāba awiḥ-faẓ-hu.

Artinya: "Dari Abu Darda ra, ia mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Jika mau, kau boleh menyia-nyiakan pintu tersebut atau kau boleh merawatnya.’" (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi menjelaskan bahwa "pintu paling tengah" bermakna pintu yang paling bagus atau jalan yang paling cepat untuk masuk ke dalam surga. Menghormati orang tua adalah ibadah yang paling efektif untuk mencapai derajat tinggi di akhirat.

6. Berbakti Menambah Rezeki dan Umur

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُمَدَّ فِي عُمْرِهِ، وَيُزَادَ فِي رِزْقِهِ، فَلْيَبَرَّ وَالِدَيْهِ، وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.

Latin: ‘An Anasi bni Mālikin qāla qāla Rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallama: Man aḥabba an yumadda fī ‘umrihi, wa yuzāda fī rizqihi, fal-yabarra wālidayhi wal-yaṣil raḥimahu.

Artinya: "Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah bersabda, ‘Siapa saja yang ingin dipanjangkan umurnya dan bertambah rezekinya, hendaklah ia berbakti kepada kedua orang tuanya dan menyambung silaturahim.’" (HR. Ahmad)

Para ulama berbeda pendapat dalam memahami "panjang umur". Sebagian menyebutkan umur bertambah secara hakiki dalam catatan malaikat, namun pendapat yang populer (seperti dalam Syarh Riyadhus Shalihin karya Syaikh Ibnu Utsaimin) menyebutkan maksudnya adalah keberkahan umur (waktu yang sedikit menghasilkan banyak manfaat amal).

7. Kerugian Bagi yang Menelantarkan Orang Tua

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ الله صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: رَغِمَ أَنْفُهُ، رَغِمَ أَنْفُهُ، رَغِمَ أَنْفُهُ. قِيْلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الجَنَّةَ.

Latin: ‘An Abī Hurayrata raḍiyallāhu ‘anhu qāla sami’tu Rasūlallāhi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallama yaqūlu: Raghima anfuhu, raghima anfuhu, raghima anfuhu. Qīla man yā Rasūlallāh? Qāla: Man adraka wālidayhi ‘indal-kibari aḥaduhumā aw kilāhumā thumma lam yadkhulil-jannah.

Artinya: "Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, ‘Celakalah seseorang, celakalah, dan celakalah.’ Sahabat bertanya, ‘Siapa ya Rasul?’ Rasul menjawab, ‘Orang yang mendapati kedua orang tuanya menua baik salah satu maupun keduanya, lalu ia tidak masuk ke surga.’" (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini mengandung peringatan keras. Mengurus orang tua di masa tua mereka adalah peluang emas untuk meraih surga. Jika seseorang memiliki kesempatan tersebut namun mengabaikannya hingga orang tuanya wafat, maka ia telah kehilangan peluang terbesar dalam hidupnya.

8. Ridha Allah Tergantung Ridha Orang Tua

وَعَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ.

Latin: Wa ‘an ‘Abdillāhi bni ‘Umar raḍiyallāhu ‘anhumā ‘anin-Nabiyyi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallama qāla: Riḍallāhi fī riḍāl-wālidayni wa sakhaṭullāhi fī sakhaṭil-wālidayn.

Artinya: "Dari Abdullah bin Umar ra, dari Nabi Muhammad saw, ia bersabda, ‘Ridha Allah berada pada ridha kedua orang tua. Sedangkan murka-Nya berada pada murka keduanya.’" (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim)

Al-Amir Ash-Shan'ani dalam Subulus Salam menjelaskan bahwa hubungan antara hamba dengan Penciptanya dalam masalah ini sangat erat. Allah menjadikan penghormatan kepada orang tua sebagai syarat diterimanya ridha-Nya, selama perintah orang tua tidak bertentangan dengan syariat (maksiat).

9. Berbakti Setelah Orang Tua Wafat

عَنْ أَبِي بُرْدَةَ قَالَ قَدِمْتُ المَدِيْنَةَ فَأَتَانِي عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ فَقَالَ أَتَدْرِي لِمَ أَتَيْتُكَ؟ قَالَ قُلْتُ لَا. قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَصِلَ أَبَاهُ فِي قَبْرِهِ فَلْيَصِلْ إِخْوَانَ أَبِيْهِ بَعْدَهُ.

Latin: ‘An Abī Burdata qāla qadimtul-Madīnata fa’atānī ‘Abdullāhi bnu ‘Umar faqāla atadrī lima ataytuka? Qāla qultu lā. Qāla sami’tu Rasūlallāhi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallama yaqūlu: Man aḥabba an yaṣila abāhu fī qabrihi fal-yaṣil ikhwāna abīhi ba’dahu.

Artinya: "Dari Abu Burdah ra, ia bercerita saat mengunjungi Madinah, Abdullah bin Umar menemuinya dan berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Siapa yang ingin menyambung hubungan dengan ayahnya di alam kuburnya, hendaklah ia menyambung tali persaudaraan dengan teman-teman ayahnya sepeninggalnya.’" (HR. Ibnu Hibban)

Dalam kitab Adabul Mufrad karya Imam Al-Bukhari, dijelaskan bahwa berbakti kepada orang tua tidak terputus oleh kematian. Salah satu bentuk birrul walidain yang paling tinggi nilainya setelah mereka wafat adalah memuliakan orang-orang yang dicintai atau sahabat karib orang tua kita semasa hidupnya.

Fadhilah Berbakti kepada Orang Tua

Berdasarkan hadis-hadis Nabi Muhammad SAW, berbakti kepada orang tua (birrul walidain) memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Berikut adalah poin-poin utama keutamaannya:

1. Amalan Paling Utama Setelah Shalat

Berbakti kepada orang tua menempati urutan kedua sebagai amalan yang paling dicintai Allah, tepat setelah kewajiban shalat pada waktunya. Hal ini menunjukkan bahwa dalam skala prioritas ibadah, memuliakan orang tua adalah prioritas tertinggi dibandingkan amal sosial atau perjuangan lainnya.

2. Kunci Meraih Ridha Allah

Kesenangan dan murka Allah diletakkan pada perasaan orang tua. Artinya, seorang hamba tidak akan mendapatkan restu dari Allah SWT jika orang tuanya masih dalam keadaan sakit hati atau tidak ridha terhadap perlakuan anaknya. Keikhlasan orang tua menjadi "stempel" bagi diterimanya amal seorang anak.

3. Setara dengan Pahala Jihad

Dalam beberapa kesempatan, Rasulullah SAW meminta sahabat untuk kembali pulang dan merawat orang tua mereka daripada pergi berperang. Beliau menegaskan bahwa mencurahkan tenaga, waktu, dan kasih sayang untuk mengurus orang tua yang sudah lanjut usia adalah bentuk "jihad" yang nilainya sangat besar di sisi Allah.

4. Jalan Pintas Menuju Surga

Orang tua disebut sebagai "pintu surga yang paling tengah", yang artinya merupakan jalan yang paling mudah dan paling bagus untuk dimasuki. Menelantarkan orang tua saat mereka sudah tua dianggap sebagai kerugian besar karena seorang anak kehilangan kesempatan emas untuk mendapatkan surga melalui pengabdian kepada mereka.

5. Membawa Keberkahan Rezeki dan Umur

Berbuat baik kepada orang tua adalah bentuk silaturahim yang paling utama. Rasulullah SAW menjanjikan bahwa siapa pun yang ingin diberikan kelapangan rezeki dan dipanjangkan umurnya dalam keberkahan, maka cara utamanya adalah dengan memuliakan orang tua dan menyambung tali kasih sayang dengan mereka.

People also Ask:

Apa arti خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ?

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ (Khoirunnas anfauhum linnas) artinya "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya)". Ini adalah hadis Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan bahwa standar utama kebaikan seseorang adalah sejauh mana ia memberikan manfaat atau kebaikan kepada orang lain, bisa melalui harta, ilmu, atau perbuatan baik lainnya.

Apa hadits berbuat baik kepada orang tua?

Artinya: "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua oran gibu bapaknya" (Q.S. Al-Ahqaf [46]: 15). Artinya: "Ridho Allah SWT. ada pada ridho kedua orang tua dan kemurkaan Allah SWT. ada pada kemurkaan orang tua." (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, Hakim).

Bagaimanakah adab terhadap orang tua sesuai dengan QS Al Isra ayat 23?

Dalam QS. Al Isra' : 23 Alloh berfirman " Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaknya berbuat baik kepada Ibu Bapak.

Hadits Ridho Allah terletak pada ridho orang tua dan murka Allah terletak pada kemurkaan orang tua. Siapakah yang meriwayatkan hadis tersebut?

Ringkasan AI8 Hadits Tentang Ridho Orang Tua, Meraih Kesuksesaan | Donasi ...Hadis tentang "Ridha Allah terletak pada ridha orang tua dan murka Allah terletak pada kemurkaan orang tua" diriwayatkan oleh Abdullah bin 'Amr bin 'Ash (عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ) radhiyallahu 'anhuma, dan diriwayatkan oleh beberapa imam hadis seperti At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim, yang juga menyatakan hadis ini sahih.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |