Hakikat Perbedaan Ikhtiar dan Pasrah dalam Islam, Dalil dan Penjelasan Ulama

1 month ago 36

Liputan6.com, Jakarta - Dalam kehidupan seorang Muslim, dua konsep penting yang sering kali dipahami secara keliru adalah ikhtiar (usaha) dan pasrah (tawakal). Banyak yang mengira bahwa pasrah berarti berdiam diri tanpa usaha, padahal dalam Islam, keduanya adalah dua sisi dari satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Di sisi lain ada perbedaan ikhtiar dan pasrah dalam Islam. Para ulama menunjukkan bahwa Islam mengajarkan harmoni antara kerja keras (ikhtiar) dan pasrah (tawakal).

Ikhtiar dan pasrah bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dua tahapan yang berurutan dan saling melengkapi. Dengan memahami keduanya secara utuh, seorang Muslim dapat hidup secara seimbang: produktif dalam usaha, tenang dalam hati, dan selalu dekat dengan Allah.

Berikut ini adalah ulasan perbedaan ikhtiar dan pasrah dalam Islam, merujuk studi takhrij hadis oleh Khalishah Sajidah dan analisis semantik tafsir Hamka oleh Agus Heryanto. Kedua studi ini mengutip dalil dan penjelasan para ulama klasik maupun kontemporer.

Sebelum membahas perbedaan mendasar keduanya, mari ketahui terlebih dahulu pengertian ikhtiar dan pasrah dalam Islam.

Ikhtiar: Usaha Maksimal sebagai Bentuk Ketaatan

Dalam hadis riwayat Imam Bukhari No. 1930, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Tidak ada satupun makanan terbaik yang dimakan seseorang daripada makanan yang diperoleh dari hasil jerih payahnya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Daud 'alaihissalam memakan makanan dari hasil jerih payahnya sendiri."*(HR. Bukhari, Kitab Al-Buyu’, No. 1930)

Menurut Khalishah Sajidah, hadis ini menunjukkan bahwa bekerja dan berusaha adalah kemuliaan dalam Islam. Imam Bukhari menempatkan hadis ini dalam bab “Mencari Nafkah dengan Usaha Sendiri”, yang menegaskan bahwa ikhtiar bukan sekadar kegiatan ekonomi, melainkan bagian dari ibadah dan jihad fi sabilillah.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (Syarah Shahih Bukhari) menjelaskan bahwa bekerja dengan tangan sendiri adalah bentuk kemandirian dan kehormatan, serta menghindarkan diri dari meminta-minta.

Hakikat ikhtiar bukan sekadar mencari nafkah, tetapi membangun martabat dan harga diri. Wajib hukumnya bagi yang mampu, dan tidak boleh digantikan dengan alasan “hanya bertawakal”. Bekerja halal adalah bentuk ketaatan dan pengamalan syariat.

Pasrah (Tawakal): Penyandaran Hati setelah Usaha Maksimal

Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 159: "Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang bertawakal."

Menurut Agus Heryanto dalam analisis semantiknya terhadap tafsir Hamka, tawakal dalam ayat ini memiliki makna:

  • Pasrah (istislam): menerima keputusan Allah dengan lapang dada.
  • Menyerahkan (at-tafwidh): mewakilkan urusan kepada Allah setelah usaha maksimal.
  • Menyandarkan diri (al-i’timad): hati hanya bergantung kepada Allah, bukan pada sebab atau usaha semata.

Hamka menegaskan dalam Tafsir Al-Azhar bahwa tawakal adalah menyerahkan keputusan dari segala usaha dan ikhtiar kepada Tuhan Semesta Alam. Dia Yang Maha Kuat dan Kuasa, manusia lemah tak berdaya. Tawakal adalah puncak dari iman.

Sementara, Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menyatakan bahwa tawakal adalah ketenangan hati setelah melakukan usaha maksimal, disertai keyakinan penuh bahwa Allah yang menentukan hasilnya.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Madarijus Salikin menulis bahwa tawakal adalah amalan hati yang menggabungkan antara usaha lahir dan penyerahan batin.

Perbedaan Mendasar antara Ikhtiar dan Pasrah

Dari pengertian di atas, dapat disimpukan meskipun saling melengkapi, ikhtiar dan pasrah (tawakal) dalam Islam memiliki perbedaan mendasar:

1. Sifat dan Hakikat

Ikhtiar pada hakikatnya adalah aktivitas fisik dan akal yang bersifat lahiriah. Ia merupakan gerakan nyata manusia dalam merencanakan, bekerja, dan mengupayakan sebab-sebab untuk mencapai suatu tujuan. Ikhtiar adalah domain di mana manusia menggunakan potensi yang Allah berikan, seperti akal, tenaga, dan keterampilan, secara maksimal.

Sebaliknya, pasrah (tawakal) adalah aktivitas hati dan keyakinan yang bersifat batiniah. Ia merupakan penyandaran total, kepercayaan, dan ketenangan hati kepada Allah SWT setelah segala ikhtiar dilakukan. Tawakal terjadi di dalam qalbu, tempat di mana iman, rasa percaya, dan penerimaan atas ketetapan Ilahi bersemayam.

2. Urutan Waktu dan Tahapan

Ikhtiar dilakukan sebelum hasil diperoleh, pada tahap perjuangan dan pengupayaan. Ia adalah fase di mana manusia aktif bergerak, berinovasi, dan mengerahkan seluruh kemampuan. Sebagaimana sabda Nabi dalam Hadis Bukhari No. 1930 yang menganjurkan bekerja dengan tangan sendiri, ikhtiar adalah langkah pertama yang wajib diambil.

Sementara pasrah (tawakal) dilakukan setelah usaha maksimal dilaksanakan. Ia adalah tahap final di mana manusia, setelah berikhtiar sepenuh kemampuan, lalu menyerahkan segala urusan dan keputusannya kepada Allah. Inilah makna dari firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 159: “Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” Tawakal adalah puncak dari sebuah proses, bukan titik awal.

3. Tujuan dan Orientasi

Tujuan dari ikhtiar adalah untuk mencapai hasil terbaik secara duniawi sesuai sunnatullah (hukum sebab-akibat). Orientasinya adalah optimalisasi potensi dan upaya untuk meraih kesuksesan, kesejahteraan, atau penyelesaian masalah dalam koridor yang halal dan syar’i.

Sedangkan tujuan pasrah (tawakal) adalah menerima hasil apapun dengan ridha dan hati yang tenang. Orientasinya bukan lagi pada pencapaian duniawi semata, melainkan pada penerimaan atas ketetapan (qadha) Allah, dengan keyakinan bahwa apa yang ditakdirkan adalah yang terbaik bagi hamba-Nya.

Tawakal mengajak manusia untuk melepaskan diri dari kegelisahan berlebihan terhadap hasil yang tidak bisa dikendalikannya sepenuhnya.

4. Landasan Dalil

Penegasan ikhtiar ada dalam hadis riwayat Bukhari No. 1930, yang menceritakan keutamaan makan dari hasil usaha sendiri dan meneladani Nabi Daud AS yang bekerja. Hadis ini menjadi fondasi normatif bahwa Islam sangat menghargai kerja keras dan kemandirian.

Di sisi lain, pasrah (tawakal) bersandar pada Surah Ali Imran ayat 159, di mana Allah memerintahkan untuk bertawakal setelah bermusyawarah dan membulatkan tekad. Ayat ini menekankan bahwa penyandaran hati kepada Allah adalah bentuk kecintaan dan ketaatan tertinggi.

5. Contoh Praktik

Contoh konkret ikhtiar meliputi aktivitas seperti bekerja, belajar giat, berdagang, bertani, atau merencanakan strategi. ikhtiar adalah semua bentuk ikhtiar jasmaniah dan intelektual yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Sementara manifestasi pasrah (tawakal) terlihat dalam bentuk berdoa dengan khusyuk, berserah diri kepada Allah setelah berusaha, serta menerima takdir dengan lapang dada, baik itu keberhasilan maupun kegagalan. Tawakal adalah sikap batin yang membuat seseorang tidak putus asa saat gagal dan tidak sombong saat berhasil.

Hikmah Memadukan Ikhtiar dan Tawakal

1. Mencapai Keseimbangan Hidup

Dengan memadukan ikhtiar dan tawakal, seorang Muslim terhindar dari dua ekstrem yang keliru: yaitu bersikap pasif (hanya mengandalkan takdir tanpa berusaha) atau sebaliknya, merasa sepenuhnya bergantung pada kemampuan diri sendiri. Keseimbangan ini membentuk pribadi yang produktif secara fisik dan tenang secara spiritual.

Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menegaskan bahwa tawakal yang sejati justru lahir setelah ikhtiar maksimal, bukan sebagai penggantinya.

2. Mengurangi Kecemasan dan Stres

Setelah berusaha secara optimal, penyerahan diri kepada Allah (tawakal) akan membebaskan hati dari beban berlebihan terhadap hasil akhir. Keyakinan bahwa Allah Maha Adil dan Maha Mengatur memberikan ketenangan batin, karena meyakini bahwa apapun hasilnya adalah yang terbaik menurut-Nya.

Hadis riwayat Tirmidzi tentang burung yang pergi pagi hari lapar dan pulang sore hari kenyang menjadi metafora bahwa rezeki sudah dijamin bagi yang berikhtiar lalu bertawakal.

3. Meningkatkan Kualitas Usaha

Orang yang menyadari bahwa usahanya adalah bagian dari ibadah dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, akan berikhtiar dengan lebih sungguh-sungguh, jujur, dan bertanggung jawab. Ikhtiar tidak lagi sekadar mencari keuntungan duniawi, tetapi juga bernilai pahala.

Dalam hadis Bukhari No. 1930, bekerja dengan tangan sendiri digambarkan sebagai makanan terbaik, yang menunjukkan bahwa Islam menghargai kualitas usaha yang halal dan mandiri.

4. Memupuk Sikap Syukur dan Sabar

Hasil dari memadukan ikhtiar dan tawakal adalah kemampuan untuk bersyukur saat berhasil dan bersabar saat gagal. Jika berhasil, dia sadar bahwa itu adalah karunia Allah setelah ikhtiar. Jika gagal, dia tidak putus asa karena yakin ada hikmah di baliknya. Hamka menekankan bahwa tawakal harus disertai syukur dan sabar, yang merupakan ciri orang beriman.

5. Memperkuat Hubungan dengan Allah

Proses berikhtiar lalu bertawakal adalah bentuk dialog spiritual antara hamba dan Penciptanya. Dari awal hingga akhir, seorang Muslim mengingat Allah: saat merencanakan ikhtiar, saat menjalankannya, dan saat menyerahkan hasilnya.

Ini menguatkan tauhid dan rasa ketergantungan hanya kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 159: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

People also Ask:

Apa arti pasrah dalam Islam?

Dalam Islam, pasrah yang benar adalah Tawakkal, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah setelah melakukan usaha atau ikhtiar maksimal, dengan keyakinan penuh bahwa Dia adalah pengatur segala urusan dan akan memberikan yang terbaik, bukan pasrah dalam arti menyerah tanpa usaha atau putus asa. Sikap ini melibatkan kerja keras, doa, dan penerimaan lapang dada terhadap hasil akhir yang ditentukan Allah, membawa ketenangan batin.

Apa perbedaan pasrah dan berserah?

Perbedaan utamanya: Pasrah (seringkali negatif) adalah menyerah tanpa usaha lagi, seperti putus asa, sedangkan berserah (positif, seperti tawakal) adalah menyerahkan hasil akhir kepada Tuhan setelah berusaha semaksimal mungkin, tetap ikhtiar dan taat pada proses, dengan hati tenang dan pikiran aktif mencari solusi. Singkatnya, pasrah itu "berhenti", berserah itu "tetap jalan sambil percaya".

Apa perbedaan sabar dan pasrah dalam Islam?

Sabar dan Pasrah: Dua Konsep Berbeda yang Sering ...Pasrah adalah sikap negatif yang menerima takdir tanpa berusaha sementara sabar adalah sikap positif yang mendorong seseorang untuk berusaha dan bertahan dalam menghadapi ujian.

Apa yang disebut dengan pasrah?

Pasrah adalah sikap menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Tuhan setelah berusaha maksimal, bukan menyerah tanpa usaha, artinya melepaskan kendali atas hasil akhir dan percaya bahwa rencana Tuhan selalu yang terbaik, membawa ketenangan batin dan kekuatan, berbeda dengan menyerah yang berarti berhenti berusaha dan putus asa. Dalam konteks agama, ini sering disamakan dengan tawakal.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |