Makna Pergantian Tahun Bagi Umat Islam Menurut Ulama, Muhasabah hingga Hijrah

1 month ago 45

Liputan6.com, Jakarta - Pergantian tahun baru bukan sekadar peristiwa waktu biasa bagi umat Islam. Pergantian tahun mengandung makna mendalam sebagai momentum refleksi, penataan diri, dan penguatan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut ulama, pergantian tahun, dalam hal ini Hijriah, yang diawali dengan bulan Muharram, merupakan salah satu momen untuk mengingat peristiwa besar dalam sejarah Islam: hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah.

Peristiwa ini bukan hanya perpindahan fisik, melainkan juga simbol transformasi spiritual, sosial, dan peradaban. Kita juga dapat melihat bagaimana Islam memandang waktu, perubahan, dan makna spiritual di balik pergantian tahun dari berbagai perspektif.

Artikel ini mengulas makna pergantian tahun bagi umat Islam menurut ulama, yang dalam hal ini sebagiannya juga bisa diimplementasikan dalam pergantian tahun Masehi.

Esensi Pergantian Tahun dalam Islam

Merujuk Oktaviani, W. (2024). Nilai-Nilai Dakwah pada Perayaan 1 Muharram, menurut ulama, pergantian tahun Hijriah merupakan salah satu momen untuk mengingat peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Peristiwa ini bukan hanya perpindahan fisik, melainkan juga simbol transformasi spiritual, sosial, dan peradaban.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةًۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 36)

Bulan Muharram termasuk dalam empat bulan haram (mulia) yang di dalamnya dianjurkan untuk meningkatkan amal ibadah, introspeksi diri, dan menghindari pertikaian.

Waktu sebagai Tanda Kekuasaan Allah

Dalam Syi’ar: Jurnal Ilmu Komunikasi, Penyuluhan, dan Bimbingan Masyarakat Islam. Khosiani, E., dkk. (2024), terjadinya Siang dan Malam Menurut Al-Qur’an, mMenurut Al-Qur’an mengingatkan bahwa pergantian siang dan malam adalah salah satu tanda kebesaran Allah yang teratur dan penuh hikmah.

Ulama seperti Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi menafsirkan bahwa silih bergantinya waktu mengajarkan manusia tentang disiplin, keseimbangan, dan ketergantungan kepada Allah, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam dan siang, matahari dan bulan.” (QS. Fussilat: 37)

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menekankan bahwa waktu adalah modal hidup yang tidak boleh disia-siakan. Pergantian tahun harus dimaknai sebagai kesempatan untuk mengevaluasi amal dan meningkatkan kualitas diri.

Ulama kontemporer seperti Dr. Yusuf Al-Qaradawi menyatakan bahwa tahun baru Hijriah seharusnya menjadi momen muhasabah (introspeksi) bagi setiap muslim. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang pandai adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. At-Tirmidzi).

Berikut ini adalah ringkasan pandangan ulama mengenai pergantian tahun dalam berbagai perspektif.

1. Imam Al-Ghazali: Muhasabah

Dalam Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menekankan bahwa waktu adalah modal kehidupan yang sangat berharga. Pergantian tahun harus dimaknai sebagai kesempatan untuk muhasabah (introspeksi diri) dan memperbaiki kualitas amal.

Al-Ghazali menyatakan bahwa manusia sering lalai terhadap waktu, padahal setiap detik adalah peluang untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Hal ini berdasar Al-Qur’an Surah Al-‘Asr: “Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.”

Ayat ini mengingatkan bahwa waktu yang berlalu harus diisi dengan iman, amal shaleh, dan dakwah. Pergantian tahun adalah pengingat bahwa hidup terus berjalan menuju akhirat.

2. Imam Ibnu Katsir: Menghormati Waktu

Imam Ibnu Katsir  dalam Tafsir Ibnu Katsir dalam tafsir Surah At-Taubah ayat 36, menjelaskan bahwa bulan Muharram adalah salah satu bulan haram (bulan yang dimuliakan). Pergantian tahun Hijriyah mengingatkan umat Islam untuk menghormati waktu-waktu utama ini dengan meningkatkan ketakwaan dan menjauhi dosa.

“Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36).

Muharram sebagai bulan pertama termasuk bulan haram. Ulama menganjurkan memperbanyak amalan sunnah seperti puasa, sedekah, dan membaca Al-Qur’an.

3. Imam Asy-Syafi’i: Hidupkan Tradisi Baik

Imam Syafi’i dalam Kitab Al-Umm menegaskan bahwa tradisi yang baik (al-‘urf ash-shalih) boleh dilakukan selama tidak bertentangan dengan syariat. Perayaan tahun baru Hijriyah harus diisi dengan aktivitas yang bernilai ibadah, bukan sekadar seremonial.

Hal ini berdasar hadis Nabi Muhammad SAW:

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ

“Barangsiapa yang memulai tradisi baik dalam Islam, maka ia mendapat pahala dan pahala orang yang mengikutinya.” (HR. Muslim)

Tradisi seperti silaturahmi, sedekah, dan pengajian pada 1 Muharram termasuk tradisi baik yang dianjurkan.

4. Syaikh Yusuf Al-Qaradawi: Hijrah

Syaikh Yusuf Al-Qaradawi dalam Fiqh Al-Awlawiyat menjelaskan bahwa hijrah Nabi adalah momentum perubahan menuju masyarakat yang lebih baik. Pergantian tahun harus dijadikan refleksi untuk “berhijrah” dari kebiasaan buruk menuju kebaikan.

Hal ini berdasar Al-Qur’an Surah Al-Hasyr ayat 18:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”

Ayat ini mendorong evaluasi diri (muhasabah) dan perencanaan hidup yang lebih baik di tahun baru.

5. Buya Hamka: Tanda Kebesaran Allah SWT

Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menjelaskan bahwa pergantian tahun mengajarkan tentang siklus kehidupan dan ketergantungan manusia kepada Allah. Dalam konteks Indonesia, tradisi 1 Muharram, seperti dilakukan di berbagai daerah, adalah bentuk syukur dan dakwah kultural.

Hal ini berdasar Al-Qur’an Surah Yasin ayat 40:

لَاالشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

“Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan, dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.”

Ayat ini mengajarkan keteraturan alam sebagai tanda kebesaran Allah. Pergantian tahun adalah bagian dari sunnatullah yang harus disyukuri.

6. Imam Nawawi: Hidupkan dengan Amalan Sunnah

Dalam Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi mengutip banyak hadis tentang keutamaan bulan Muharram dan puasa Asyura. Pergantian tahun sebaiknya diisi dengan amalan sunnah, terutama puasa.

Hal ini berdasar hadis Nabi SAW:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim)

Puasa di bulan Muharram, terutama tanggal 9 dan 10 (Asyura), adalah ibadah yang sangat dianjurkan.

People also Ask:

Makna pergantian tahun menurut Islam?

Makna tahun baru Islam memiliki makna bahwa terjadinya perubahan pada sesuatu yang menuju kebaikan, memiliki manfaat untuk seluruh manusia dan untuk semua alam semesta dengan menggunakan semangat damai penuh kasih sayang. Hal ini membuat tujuan Allah SWT menurunkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin.

Apa makna tahun baru Islam bagi umat Islam?

Tahun Baru Islam bukan hanya tentang tanggal, melainkan tentang semangat dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Hikmah Tahun Baru Islam terbesar dari penetapan 1 Muharram sebagai awal tahun adalah untuk senantiasa mengingat peristiwa hijrah dan mengambil pelajaran darinya.

Apa yang dimaksud dengan pergantian tahun?

Pergantian tahun adalah waktu yang tepat untuk menilai sejauh mana kita telah melaksanakan kewajiban kepada Allah, sesama manusia, dan diri sendiri.

Apa yang Al-Quran katakan tentang tahun baru?

Tidak ada ayat khusus dalam Al-Quran yang membahas hal itu , meskipun ada referensi dalam Hadits al-Sharif atau tradisi Nabi Muhammad (SAW) yang dapat dikutip oleh orang yang berpikiran radikal untuk mendukung interpretasi, seperti mengadopsi cara hidup orang non-Muslim, yang dianggap sebagai kemurtadan.

Anda Sedang Mengikuti Pembahasan Seputar

Nanik Ratnawati, Fadila AdelinTim Redaksi

Share

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |