Mendalami Hadist tentang Isra Mi'raj, Kisah Perjalanan Agung Nabi Muhammad ﷺ dan Hikmahnya

3 weeks ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Isra Mi'raj adalah dua bagian dari perjalanan malam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam satu malam. Isra' secara harfiah berarti "perjalanan malam", merujuk pada perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem.

Sementara itu, Mi'raj berarti "kenaikan", yang menggambarkan perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Aqsa naik ke langit, tingkat demi tingkat, hingga Sidratul Muntaha.

Peristiwa Isra Mi'raj memiliki signifikansi yang sangat besar dalam sejarah Islam, menjadikannya salah satu mukjizat terbesar yang dianugerahkan Allah ﷻ kepada Nabi Muhammad ﷺ. Perjalanan ini terjadi di luar jangkauan logika manusia biasa, menunjukkan keagungan, kebesaran, dan kekuasaan Allah ﷻ, serta membuktikan kebenaran kenabian Muhammad ﷺ.

Kisah agung ini bersumber utama dari Al-Qur'an dan hadist-hadist shahih Nabi Muhammad ﷺ. Dalil-dalil ini memberikan gambaran komprehensif tentang detail perjalanan, pertemuan Nabi dengan para Nabi terdahulu, hingga penerimaan perintah shalat lima waktu yang menjadi pilar utama ibadah umat Islam. Jadi simak pembahasan selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Senin (12/1/2026).

Dalil Al-Qur'an tentang Isra' Mi'raj

Peristiwa Isra Mi'raj disebutkan dalam Al-Qur'an pada dua surat utama, yaitu Al-Isra' dan An-Najm.

QS. Al-Isra' (17): 1 – Landasan Utama Peristiwa Isra'

Peristiwa Isra' secara eksplisit disebutkan dalam Surah Al-Isra' ayat 1. Ayat ini menjadi landasan utama bagi peristiwa Isra', menegaskan bahwa perjalanan tersebut adalah mukjizat yang dilakukan oleh Allah ﷻ dengan hamba-Nya (Nabi Muhammad ﷺ) secara fisik dan ruhani.

Penggunaan kata "bi 'abdihi" (dengan hamba-Nya) menunjukkan bahwa perjalanan ini melibatkan jasad dan ruh Nabi Muhammad ﷺ, bukan hanya mimpi atau ruh semata. Ayat ini berbunyi: 

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١

Artinya: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

QS. An-Najm (53): 1-18 – Referensi Mi'raj dan Pertemuan dengan Jibril

Bagian Mi'raj, yaitu kenaikan Nabi Muhammad ﷺ ke langit, dijelaskan secara tidak langsung namun kuat dalam Surah An-Najm ayat 1-18. Ayat-ayat ini merujuk pada penglihatan Nabi Muhammad ﷺ terhadap Jibril ‘alaihis salaam dalam wujud aslinya di Sidratul Muntaha, yang merupakan puncak dari perjalanan Mi'raj.

Hal ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ benar-benar mencapai tempat yang sangat tinggi di alam semesta dan menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah ﷻ. Hal itu disampaikan dalam Surat An-Najm ayat 1-8 yang artinya: 

"Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar."

Hadist Shahih tentang Isra' Mi'raj

Kisah Isra Mi'raj dijelaskan secara rinci dalam banyak hadist shahih, yang diriwayatkan secara mutawatir oleh puluhan sahabat Nabi ﷺ. Hadist-hadist ini memberikan detail perjalanan yang tidak disebutkan dalam Al-Qur'an.

Hadits Anas bin Malik (HR. Muslim No. 162) – Narasi Utama Perjalanan Lengkap

Salah satu hadist paling komprehensif mengenai Isra Mi'raj diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Hadist ini menjelaskan seluruh rangkaian peristiwa dari awal hingga akhir, termasuk saat Nabi ﷺ didatangkan Buraq.

Nabi Muhammad ﷺ menunggangi Buraq hingga tiba di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa), lalu mengikatnya di tempat yang digunakan untuk mengikat tunggangan para Nabi. Kemudian beliau masuk ke masjid dan shalat 2 rakaat. Setelah itu, Jibril ‘alaihis salaam datang membawa bejana berisi khamar dan bejana berisi air susu, dan Nabi ﷺ memilih air susu, yang kemudian Jibril katakan sebagai pilihan yang sesuai fitrah.

Perjalanan berlanjut ke langit pertama, di mana Nabi ﷺ bertemu dengan Nabi Adam. Di langit kedua, beliau bertemu dengan Nabi Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya. Di langit ketiga, Nabi Yusuf, yang telah diberi separuh dari kebagusan wajah. Di langit keempat, Nabi Idris. Di langit kelima, Nabi Harun. Di langit keenam, Nabi Musa. Di setiap langit, para Nabi menyambut dan mendoakan kebaikan untuk Nabi Muhammad ﷺ.

Akhirnya, di langit ketujuh, Nabi Muhammad ﷺ bertemu dengan Nabi Ibrahim yang sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma’mur. Kemudian Nabi Muhammad ﷺ pergi bersama Jibril ke Sidratul Muntaha, di mana Allah mewajibkan 50 shalat sehari semalam. Atas saran Nabi Musa dan permohonan Nabi Muhammad ﷺ, kewajiban shalat diringankan menjadi lima waktu dengan pahala setara 50 waktu.

Hadits Abu Hurairah (HR. Muslim No. 168) – Ciri-ciri Fisik Para Nabi

Hadist lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga menjelaskan pertemuan Nabi Muhammad ﷺ dengan para Nabi dan memberikan gambaran ciri-ciri fisik mereka. Nabi Muhammad ﷺ menggambarkan Musa sebagai pria yang tidak gemuk dengan rambut antara lurus dan keriting, serta terlihat gagah.

Beliau juga mensifati Isa sebagai pria yang tidak terlalu tinggi, tidak terlalu pendek, dan kulitnya kemerahan seakan baru keluar dari kamar mandi. Nabi Muhammad ﷺ juga menyebutkan bahwa beliau adalah keturunan Ibrahim yang paling mirip dengannya.

Poin-Poin Penting dalam Peristiwa Isra' Mi'raj

Peristiwa Isra Mi'raj mengandung beberapa poin penting yang menjadi landasan akidah dan pemahaman umat Islam.

1. Isra' Mi'raj dengan Jasad dan Ruh

Ahlus Sunnah mengimani bahwa Rasulullah ﷺ di-isra'-kan dan di-mi'raj-kan oleh Allah ﷻ dengan ruh dan jasadnya dalam keadaan sadar. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah Surah Al-Isra' ayat 1, di mana Allah ﷻ berfirman "bi 'abdihi" (dengan hamba-Nya), yang mencakup jasad dan ruh. Jika hanya ruh yang diperjalankan, kaum Quraisy tidak akan mendustakan Nabi Muhammad ﷺ, karena mimpi atau perjalanan ruhani tidak akan dianggap sebagai mukjizat yang luar biasa.

2. Mukjizat di Luar Batas Akal Manusia

Peristiwa Isra Mi'raj adalah mukjizat yang luar biasa, melampaui jangkauan logika dan akal manusia. Pada masa itu, perjalanan dari Mekkah ke Palestina membutuhkan waktu setidaknya satu bulan, namun Nabi Muhammad ﷺ menempuhnya dalam waktu kurang dari satu malam. Ini adalah bukti nyata keagungan dan kekuasaan Allah ﷻ serta kebenaran kenabian Muhammad ﷺ.

3. Waktu Kejadian

Para ulama sepakat bahwa Isra Mi'raj terjadi sebelum hijrah Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah dan setelah beliau diangkat menjadi Nabi. Banyak ahli sejarah menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi setelah 'ammul huzn (tahun kesedihan), yaitu setelah Nabi ﷺ ditinggal wafat oleh paman beliau Abu Thalib dan istri tercinta Khadijah. Peristiwa ini menjadi penghibur bagi Nabi ﷺ setelah berbagai cobaan dan kesulitan dalam berdakwah.

4. Tidak Adanya Penetapan Tanggal Pasti

Meskipun peristiwa Isra Mi'raj adalah kejadian besar, tidak ada dalil shahih yang secara pasti menyebutkan kapan tahun, bulan, atau harinya terjadi. Para ulama berselisih mengenai waktu kejadiannya, namun tidak ada perselisihan tentang kebenaran peristiwa itu sendiri. Oleh karena itu, penetapan tanggal tertentu untuk perayaan Isra Mi'raj tidak memiliki dasar yang kuat dalam syariat Islam.

5. Konsep 'Kalimullah'

Nabi Muhammad ﷺ termasuk salah satu dari tiga Nabi yang berbicara langsung dengan Allah ﷻ, bersama Nabi Musa ‘alaihis salaam dan Nabi Adam ‘alaihis salaam. Ini menunjukkan kedudukan istimewa Nabi Muhammad ﷺ di sisi Allah ﷻ.

Hikmah dan Pelajaran dari Isra' Mi'raj

Peristiwa Isra Mi'raj bukan sekadar kisah menakjubkan, melainkan sarat dengan hikmah dan pelajaran berharga bagi umat Islam.

1. Penetapan Shalat 5 Waktu

Hadiah terbesar dari perjalanan Mi'raj adalah perintah shalat lima waktu sehari semalam. Awalnya diwajibkan 50 waktu, namun atas saran Nabi Musa ‘alaihis salaam dan permohonan Nabi Muhammad ﷺ, Allah ﷻ memberikan keringanan menjadi lima waktu dengan pahala yang setara dengan 50 waktu.

Hal ini menunjukkan betapa agungnya ibadah shalat dan kemudahan yang diberikan Allah ﷻ kepada umat Nabi Muhammad ﷺ. Perintah shalat lima waktu ini menjadi salah satu ibadah wajib bagi umat Islam.

2. Keteladanan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Ketika Nabi Muhammad ﷺ menceritakan peristiwa Isra Mi'raj, banyak kaum musyrikin Mekkah yang mendustakan dan meragukannya. Namun, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dengan keimanan yang teguh langsung membenarkan kisah tersebut, bahkan tanpa keraguan sedikit pun.

Karena sikapnya ini, ia diberi gelar "Ash-Shiddiq" (yang sangat membenarkan). Ini mengajarkan pentingnya keyakinan, kecintaan, ketulusan, kepatuhan, dan kesungguhan dalam menerima ajaran Allah ﷻ dan Rasul-Nya.

3. Pentingnya Shalat di Masjidil Aqsha

Perjalanan Isra' dimulai dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, di mana Nabi Muhammad ﷺ mengimami shalat para Nabi terdahulu. Ini menunjukkan keutamaan Masjidil Aqsa sebagai tempat suci dalam Islam.

Hadist juga menyebutkan keutamaan shalat di Masjidil Aqsa: "Shalat di Baitul Maqdis sama seperti mengerjakan lima ratus shalat."

4. Penguatan Spiritual Nabi

Peristiwa Isra Mi'raj terjadi setelah Nabi Muhammad ﷺ mengalami masa-masa sulit yang dikenal sebagai 'ammul huzn (tahun kesedihan), di mana beliau kehilangan paman dan istrinya.

Perjalanan ini merupakan bentuk penghiburan dan penguatan spiritual dari Allah ﷻ untuk Nabi-Nya, menegaskan dukungan ilahi dalam menghadapi tantangan dakwah.

5. Penyempurnaan Risalah Islam

Dalam perjalanan Mi'raj, Nabi Muhammad ﷺ bertemu dengan para Nabi terdahulu di setiap lapisan langit. Pertemuan ini menunjukkan kesinambungan risalah kenabian dan bahwa syariat Nabi Muhammad ﷺ adalah penyempurna bagi syariat-syariat sebelumnya.

Nabi Muhammad ﷺ adalah imam bagi para Nabi, dan syariatnya kekal hingga hari kiamat.

FAQ

Q: Apakah Isra' Mi'raj terjadi dengan jasad atau hanya ruh?

A: Isra' Mi'raj terjadi dengan jasad dan ruh Nabi Muhammad ﷺ dalam keadaan sadar. Hal ini didasarkan pada firman Allah ﷻ dalam QS. Al-Isra' ayat 1 yang menyebutkan "bi 'abdihi" (dengan hamba-Nya), yang secara bahasa mencakup jasad dan ruh.

Q: Apakah Nabi Muhammad melihat Allah saat Mi'raj?

A: Mayoritas ulama menyatakan bahwa Nabi Muhammad ﷺ tidak melihat Allah ﷻ dengan mata kepala saat Mi'raj. Hal ini didasarkan pada hadist Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu di mana Rasulullah ﷺ menjawab, "Ada cahaya, lalu bagaimana Aku bisa melihat?". Yang benar adalah Rasulullah ﷺ melihat Jibril ‘alaihis salaam dalam wujud aslinya di Sidratul Muntaha.

Q: Kapan tepatnya Isra' Mi'raj terjadi?

A: Tidak ada dalil shahih yang secara pasti menetapkan tanggal, bulan, atau tahun terjadinya Isra' Mi'raj. Yang diketahui pasti adalah peristiwa ini terjadi sebelum hijrah Nabi Muhammad ﷺ ke Madinah dan setelah beliau diangkat menjadi Nabi, umumnya setelah 'ammul huzn (tahun kesedihan).

Q: Apakah perayaan Isra' Mi'raj dianjurkan dalam Islam?

A: Tidak ada dalil dari Nabi Muhammad ﷺ maupun para sahabat yang menganjurkan perayaan khusus Isra' Mi'raj. Hari raya dalam Islam hanya ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Perayaan Isra' Mi'raj dianggap sebagai bid'ah yang diada-adakan dalam agama.

Q: Mengapa shalat diturunkan menjadi 5 waktu?

A: Awalnya Allah ﷻ mewajibkan 50 shalat sehari semalam. Namun, atas usulan Nabi Musa ‘alaihis salaam yang menyadari bahwa umat Nabi Muhammad ﷺ tidak akan mampu melaksanakannya, Nabi Muhammad ﷺ berulang kali memohon keringanan kepada Allah ﷻ. Akhirnya, Allah ﷻ menetapkan lima waktu shalat dengan pahala yang setara dengan 50 waktu.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |