Niat Qadha Puasa Ramadhan, Yuk Tuntaskan Sebelum Syaban Habis

1 week ago 14

Liputan6.com, Jakarta - Puasa bulan Ramadhan merupakan ibadah yang wajib bagi setiap muslim. Namun, ada kalanya seseorang tidak dapat menjalankannya karena berbagai alasan. Dalam situasi ini, mengganti puasa yang terlewat, yang dikenal sebagai puasa qadha, menjadi tanggung jawab yang harus dipenuhi. 

Memasuki bulan Syaban, penting untuk menyelesaikan qadha puasa agar tidak terbebani saat Ramadhan berikutnya tiba. Menunda pelaksanaan qadha puasa dapat menyebabkan rasa khawatir dan potensi kelalaian. 

Namun sebelum memulainya ada kalangan kita memahami terlebih dahulu bacaan niat sebagai awalan melaksanakan qadha puasa. Berikut bacaan niat qadha puasa Ramadhan, dihadirkan Liputan6.com untuk memudahkan Anda menuntaskan sebelum bulan Syaban habis, Rabu (28/1).

Hukum dan Kewajiban Qadha Puasa

Puasa qadha merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang tidak dapat menjalankan puasa Ramadhan karena uzur syar'i. Dikutip dari laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI) uzur syar'i ini mencakup kondisi seperti sakit, bepergian jauh, haid, dan nifas bagi wanita. Kewajiban ini berdasarkan pada Al-Qur'an, khususnya dalam Surah Al-Baqarah ayat 184 yang menyatakan bahwa orang yang sakit atau dalam perjalanan diperbolehkan tidak berpuasa, tetapi wajib menggantinya di hari lain.

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗوَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗوَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Ayyāmam ma‘dūdāt(in), faman kāna minkum marīḍan au ‘alā safarin fa ‘iddatum min ayyāmin ukhar(a), wa ‘alal-lażīna yuṭīqūnahū fidyatun ṭa‘āmu miskīn(in), faman taṭawwa‘a khairan fahuwa khairul lah(ū), wa an taṣūmū khairul lakum in kuntum ta‘lamūn(a).

"(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan,51) itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

Hadis Nabi Muhammad SAW juga menegaskan pentingnya mengganti puasa yang terlewat. Salah satu contoh adalah Aisyah RA yang mengqadha puasa Ramadhan pada bulan Syaban. Hal ini menunjukkan bahwa qadha puasa adalah amanah yang harus dipenuhi setelah uzur berakhir. Mengqadha puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga memerlukan niat yang benar dan menjaga adab selama berpuasa.

Pelaksanaan qadha puasa harus memenuhi syarat dan rukunnya, sama seperti puasa Ramadhan. Ini termasuk niat yang tulus karena Allah Ta'ala dan menjauhi segala sesuatu yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Oleh karena itu, penting untuk memahami hukum dan kewajiban qadha puasa agar dapat melaksanakannya dengan baik.

Niat Qadha Puasa yang Benar

Niat merupakan syarat sahnya ibadah, termasuk puasa qadha. Niat puasa qadha harus dilakukan pada malam hari, yaitu setelah matahari terbenam hingga sebelum terbit fajar. Pendapat mayoritas ulama menyatakan bahwa puasa wajib harus disertai niat sebelum masuk waktu subuh. Niat ini bisa diucapkan dalam hati atau dilafalkan secara lisan untuk mempertegas komitmen beribadah kepada Allah. Dirujuk dari laman NU Online berikut bacaan niat puasa qadha:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin 'an qadhā'i fardhi syahri Ramadhāna lillāhi ta'ālā,

"Aku niat berpuasa esok hari untuk mengganti kewajiban puasa bulan Ramadhan karena Allah Ta'ala."

Dalam mazhab Syafi'i, niat puasa qadha harus dilakukan pada malam hari sebelum fajar. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa barang siapa tidak berniat puasa pada malam hari, maka tidak ada puasa baginya. Dengan niat yang benar, menahan lapar dan dahaga menjadi ibadah yang bernilai pahala. Oleh karena itu, penting untuk memahami cara niat yang benar agar puasa qadha dapat diterima oleh Allah.

Tips Mudah Bertahan Puasa Qadha

Menjalankan puasa qadha memerlukan persiapan fisik dan mental yang baik agar dapat bertahan hingga waktu berbuka. Berikut tips penting selengkapnya:

Memastikan Asupan Nutrisi Lengkap Saat Sahur.

  • Mengonsumsi makanan yang mengandung protein, karbohidrat, dan lemak yang cukup, serta buah-buahan atau kacang-kacangan, dapat menjaga imun dan energi tubuh selama berpuasa.

Menjaga Tubuh Tetap Terhidrasi.

  • Memperhatikan kondisi hidrasi tubuh juga merupakan kunci agar kuat berpuasa seharian. Kebutuhan air putih sekitar 2 liter atau 8 gelas per hari harus tetap terpenuhi. Cara terbaik untuk mencukupi kebutuhan air adalah dengan minum secara bertahap, misalnya 1 gelas saat berbuka, 1 gelas setelah makan malam, dan seterusnya hingga menjelang subuh.

Hindari Konsumsi Kafein

  • Saat sahur ada baiknya untuk tidak mengonsumsi kafein karena dapat memicu sering buang air kecil dan membuat tubuh lebih cepat haus. Melakukan olahraga ringan dan menjaga rutinitas seperti biasa juga dapat membantu tubuh beradaptasi.

Tidak Makan Berlebihan.

  • Penting untuk tidak makan berlebihan saat berbuka puasa agar sistem pencernaan tidak kaget dan tubuh tetap merasa nyaman.

Mengatasi Rasa Malas agar Puasa Qadha Bisa Dilaksanakan

Rasa malas seringkali menjadi penghalang dalam menunaikan puasa qadha, terutama jika jumlah hari yang harus diganti cukup banyak. Salah satu cara mengatasi ini adalah dengan menyadari bahwa menunda puasa ganti hingga tiba Ramadhan berikutnya tanpa sebab yang sah adalah berdosa. Kesadaran akan konsekuensi ini dapat menjadi motivasi untuk segera bertindak.

Membuat jadwal puasa qadha secara teratur dan konsisten dapat membantu mengatasi rasa malas. Menentukan hari-hari tertentu dalam seminggu untuk berpuasa qadha, misalnya setiap Senin dan Kamis, dapat membangun kebiasaan dan mengurangi beban psikologis. Pendekatan bertahap ini lebih efektif daripada mencoba mengganti semua puasa sekaligus dalam waktu singkat.

Mencari dukungan dari keluarga atau teman yang juga memiliki hutang puasa dapat memberikan semangat. Berpuasa qadha bersama-sama atau saling mengingatkan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung. Mengingat hikmah dan keutamaan menyegerakan qadha puasa dapat menjadi pendorong kuat untuk segera melaksanakan kewajiban ini.

Terakhir Hari Bulan Syaban Adalah Batas Waktu Melaksanakan Qadha Puasa Ramadhan

Batas waktu untuk melaksanakan puasa qadha Ramadhan adalah sebelum datangnya bulan Ramadhan berikutnya. Ini berarti puasa ganti dapat dilakukan kapan saja setelah Ramadhan hingga sebelum masuk Ramadhan tahun selanjutnya. Secara spesifik, batas akhir puasa qadha adalah hari terakhir bulan Syaban.

Jika seseorang menunda qadha puasa melampaui Ramadhan berikutnya tanpa uzur, ia berdosa dan ada pandangan bahwa fidyah perlu dibayar sebagai denda. Contoh dari Aisyah RA yang mengqadha puasanya di bulan Syaban menunjukkan bahwa masih ada waktu hingga bulan tersebut, namun menyegerakan adalah tindakan yang lebih baik.

Penting untuk memahami batasan waktu ini agar tidak terjebak dalam situasi yang menyulitkan ketika waktu semakin sempit menjelang Ramadhan berikutnya. Perencanaan yang matang dalam menyelesaikan qadha menjadi sangat krusial, dan disarankan untuk menggantinya secepat mungkin agar tidak menumpuk.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik

Q: Apa hukum menunda qadha puasa Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya?

A: Menunda qadha puasa Ramadhan hingga Ramadhan berikutnya tanpa uzur syar'i adalah berdosa.

Q: Kapan waktu terbaik untuk berniat puasa qadha?

A: Niat puasa qadha harus dilakukan pada malam hari, setelah matahari terbenam hingga sebelum terbit fajar.

Q: Bolehkah menggabungkan niat puasa qadha dengan puasa sunnah?

A: Ya, boleh menggabungkan niat puasa qadha dengan puasa sunnah pada hari yang sama.

Q: Siapa saja yang wajib mengqadha puasa Ramadhan?

A: Setiap muslim yang meninggalkan puasa Ramadhan karena uzur syar'i wajib mengqadha puasa tersebut.

Q: Apakah puasa qadha harus dilakukan secara berurutan?

A: Tidak ada keharusan untuk melakukan puasa qadha secara berurutan.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |