Liputan6.com, Jakarta - Nilai-nilai tauhid dalam peristiwa isra miraj menjadi fondasi keyakinan mengenai kekuasaan mutlak Allah SWT atas segala hukum alam dan logika manusia yang terbatas. Berdasarkan QS. Al-Isra [17]: 1, penggunaan kata "Subhaana" (Maha Suci) di awal ayat menjadi penegasan tauhid rububiyah bahwa Allah suci dari segala keterbatasan ruang, waktu, dan kelemahan makhluk.
Perjalanan ini membuktikan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya Zat yang memegang kendali penuh atas jagat raya. Menilik riwayatnya, mukjizat tersebut juga berfungsi sebagai instrumen pemisah antara mukmin yang bertauhid lurus dengan mereka yang imannya masih terbelenggu oleh batasan empiris manusia.
M. Quraish Shihab dalam kitab Tafsir Al-Misbah (Vol. 7) menjelaskan, nilai tauhid dalam peristiwa ini juga terpancar dari penyebutan istilah 'abd (hamba) bagi Nabi Muhammad SAW. Posisi penghambaan yang tulus kepada Allah adalah puncak kemuliaan manusia yang sebenarnya, karena dengan menjadi hamba yang bertauhid, seseorang justru meraih kemerdekaan sejati dari penghambaan kepada materi atau sesama makhluk.
Merujuk studi Mitha Diah Ayu Nur Pratiwi dalam skripsi berjudul Hikmah Kisah Isra' Mi'raj dalam Al-Qur'an (Aplikasi Teori Double Mouvement) dan Jurnal Hikmah Peristiwa Isra Miraj Sebagai Pondasi Keteguhan Tauhid Dalam Sanubari Dan Perilaku oleh Murnia Suri & Nurul Izzati, serta pandangan ulama klasik dan kontemporer, berikut ini adalah nilai-nilai tauhid dalam Isra Miraj.
1. Nilai Tauhid Rububiyah (Keyakinan pada Kuasa Mutlak Allah)
Peristiwa Isra Mi’raj adalah pembuktian bahwa Allah adalah Penguasa alam semesta yang tidak terikat oleh hukum fisika maupun logika manusia. Kecepatan Buraq dan perjalanan menembus langit ketujuh menunjukkan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta yang mengatur ruang dan waktu.
Dalil: QS. Al-Isra [17]: 1 yang dimulai dengan kata "Subhaana" (Maha Suci). Kata ini merupakan bentuk pengakuan bahwa Allah suci dari segala kelemahan dan keterbatasan makhluk.
Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam kitab Aisar at-Tafaasir menjelaskan bahwa penggunaan kata "Subhaana" di awal ayat adalah isyarat bahwa apa yang terjadi setelahnya merupakan tanda kekuasaan Allah yang mutlak, di mana hukum sebab-akibat (kausalitas) tunduk sepenuhnya kepada kehendak Ilahi.
2. Nilai Tauhid Uluhiyah (Pemurnian Ibadah melalui Shalat)
"Oleh-oleh" utama dari Isra Mi’raj adalah perintah shalat lima waktu. Shalat merupakan bentuk tauhid uluhiyah paling murni, di mana seorang hamba secara totalitas mempersembahkan pengabdian, ketundukan, dan doanya hanya kepada Allah SWT tanpa perantara apa pun.
Dalil: QS. Thaha [20]: 14: "Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku."
Perintah shalat yang diterima langsung di Sidratul Muntaha menunjukkan bahwa shalat adalah sarana utama bagi hamba untuk meneguhkan tauhidnya lima kali sehari.
3. Nilai Tauhid Asma’ wa Shifat
Perjalanan ini memperlihatkan sifat-sifat Allah seperti Al-Bashir (Maha Melihat) dan Al-Khubir (Maha Mengetahui). Allah memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya kepada Nabi agar manusia yakin bahwa tidak ada satu pun di jagat raya ini yang luput dari pengawasan-Nya.
QS. Al-Isra [17]: 1: "...agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
Hal ini menanamkan rasa muraqabah (merasa diawasi) dalam diri mukmin, yang merupakan inti dari keteguhan tauhid dalam perilaku sehari-hari.
4. Nilai Al-Iman bil Ghaib (Keyakinan pada Hal Ghaib)
Tauhid menuntut kepercayaan penuh pada perkara ghaib yang disampaikan melalui wahyu. Isra Mi’raj adalah ujian keimanan; apakah manusia lebih percaya pada panca indera dan logika terbatas mereka, atau percaya pada berita dari Sang Pencipta.
Berdasar QS. Al-Baqarah [2]: 3: "(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat..."
Berdasarkan jurnal Murnia Suri (2022), peristiwa ini menjadi pondasi keteguhan tauhid karena memaksa manusia untuk menundukkan akalnya di bawah otoritas wahyu Ilahi.
5. Nilai Integritas Penghambaan (Al-Ubudiyah)
Nilai tauhid ini mengajarkan bahwa derajat tertinggi manusia adalah saat ia diakui sebagai hamba ('abd) oleh Allah. Menjadi hamba Allah berarti memerdekakan diri dari penghambaan kepada sesama makhluk, harta, atau jabatan.
QS. Al-Isra [17]: 1 menggunakan kata "bi'abdihi" (hamba-Nya). M. Quraish Shihab dalam kitab Tafsir Al-Misbah menekankan bahwa penyebutan kata "hamba" (bukan "kekasih" atau "nabi") dalam peristiwa semulia itu menunjukkan bahwa posisi penghambaan yang tulus kepada Allah adalah puncak kemuliaan manusia yang sebenarnya di hadapan tauhid.
Nilai ideal moralnya adalah bahwa setiap mukmin harus melakukan "mi’raj spiritual" dengan cara meninggalkan sifat-sifat buruk (buruknya akhlak) menuju sifat-sifat mulia, yang semuanya berakar pada keteguhan tauhid dalam sanubari.
6. Tauhid Dzat: Kesucian Allah dari Sifat Makhluk
Peristiwa Mi’raj ke Sidratul Muntaha menegaskan bahwa Allah SWT tidak bertempat dan tidak terikat oleh materi sebagaimana makhluk. Meskipun Nabi Muhammad SAW "bertemu" Allah di puncak langit, hal ini bukan berarti Allah bertempat di sana, melainkan sebagai kemuliaan bagi Nabi untuk menyaksikan tanda-tanda kebesaran-Nya yang paling agung.
Berdasar QS. An-Najm [53]: 16-17 yang menggambarkan suasana di Sidratul Muntaha tanpa mendeskripsikan dzat Allah secara antropomorfis (menyerupai makhluk).
Imam Ar-Razi dalam Tafsir al-Kabir menekankan bahwa perjalanan ini justru mengukuhkan kesucian Allah (tanzih) dari segala sifat kekurangan dan keterbatasan ruang yang dimiliki makhluk.
7. Tauhid Mulkiyah: Keyakinan pada Kedaulatan Mutlak
Nilai ini mengajarkan bahwa seluruh kerajaan langit dan bumi berada di bawah kedaulatan tunggal Allah. Perjalanan melewati berbagai lapis langit dan bertemu para nabi terdahulu menunjukkan bahwa semua otoritas, baik di bumi maupun di langit, bersumber dari satu titik, yaitu Allah SWT.
QS. Al-Isra [17]: 1 yang menyebutkan tujuan diperjalankannya Nabi adalah untuk memperlihatkan "Min ayatina" (sebagian tanda-tanda kebesaran Kami).
Dalam jurnal Murnia Suri (2022), ditekankan bahwa pengakuan atas kedaulatan Allah ini akan melahirkan sikap independen pada seorang Muslim; ia tidak akan mudah tunduk pada kekuatan tirani mana pun karena ia yakin penguasa sejati hanyalah Allah.
8. Tauhid dalam Syariat (Ketaatan pada Ketentuan Ilahi)
Isra Mi’raj menghasilkan perintah shalat yang merupakan inti dari syariat. Nilai tauhid di sini adalah keyakinan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya yang berhak menetapkan aturan hidup (Syari'). Menerima perintah shalat 5 waktu tanpa syarat adalah perwujudan ketaatan tauhid dalam ranah hukum.
QS. An-Najm [53]: 10: "Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya apa yang telah Allah wahyukan."
Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi menjelaskan bahwa penerimaan syariat shalat di tempat yang paling mulia menunjukkan bahwa syariat ini bersifat suci dan tidak boleh diubah atau ditawar oleh logika manusia yang terbatas.
9. Tauhid Shiddiqiyah: Membenarkan Kebenaran Mutlak
Nilai ini berkaitan dengan kejujuran iman dalam membenarkan apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya tanpa keraguan sedikit pun, meskipun secara empiris terlihat mustahil. Ini adalah tauhid yang berkaitan dengan komitmen batin terhadap kebenaran objektif.
Sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq yang langsung membenarkan kisah Isra Mi'raj saat orang lain meragukannya. Nilai ideal moral dari tauhid shiddiqiyah ini adalah integritas.\
Di era modern, ini berarti berani memegang teguh prinsip kebenaran meski di tengah badai hoaks atau opini publik yang menyesatkan.
10. Tauhid dalam Tawakkal (Kepasrahan Total)
Sepanjang perjalanan Isra Mi'raj, Nabi Muhammad SAW menunjukkan kepasrahan total kepada kehendak Allah. Nilai tauhid ini mengajarkan bahwa hamba tidak memiliki kekuatan apa pun (la hawla wala quwwata) kecuali atas bantuan-Nya. Kepasrahan ini adalah bentuk tauhid yang paling praktis saat hamba menghadapi ujian berat.
Penggunaan kata kerja pasif "Asra" (diperjalankan) dalam QS. Al-Isra [17]: 1. Bukan Nabi yang berjalan, tapi Allah yang memperjalankan.
Hal ini mengajarkan manusia bahwa kesuksesan bukan semata hasil usaha sendiri, melainkan ada campur tangan Ilahi yang harus selalu disyukuri.
Nilai-nilai tauhid ini membentuk karakter muslim yang kokoh: ia tidak sombong saat di puncak (seperti Nabi di Sidratul Muntaha yang tetap bersujud) dan tidak putus asa saat di bawah (seperti Nabi saat diuji di Tha'if sebelum Mi'raj).
Hikmah Isra Mi’raj untuk Penguatan Iman
Berikut adalah 5 hikmah Isra Mi’raj bagi penguatan iman umat Islam yang dijelaskan secara singkat:
1. Pengokohan Tauhid dalam Sanubari
Peristiwa Isra Mi’raj merupakan ujian keimanan terhadap hal gaib. Keyakinan mutlak pada kekuasaan Allah yang melampaui logika ini memperkuat pondasi tauhid dalam hati, sehingga seorang Muslim tidak mudah goyah oleh keraguan atau tekanan duniawi.
2. Kesadaran Total sebagai Hamba (Al-Ubudiyah)
Penyebutan Nabi Muhammad SAW sebagai "abd" (hamba) dalam peristiwa ini mengajarkan bahwa derajat tertinggi manusia diraih melalui penghambaan yang tulus. Hal ini menguatkan iman dengan menumbuhkan sifat rendah hati dan ketergantungan penuh hanya kepada Allah SWT.
3. Shalat sebagai Sarana Kedekatan Spiritual
Perintah shalat lima waktu adalah sarana "Mi’raj spiritual" harian bagi orang beriman. Dengan disiplin shalat, iman terjaga melalui komunikasi yang konsisten dengan Sang Pencipta, sekaligus menjadi sarana untuk membersihkan hati dari kelalaian.
4. Kekuatan Mental dalam Menghadapi Ujian (Tasliyah)
Isra Mi’raj diturunkan sebagai hiburan bagi Nabi saat mengalami "Tahun Kesedihan". Hikmah ini menguatkan iman bahwa setiap kesulitan yang dihadapi dengan sabar akan selalu diikuti oleh kemudahan dan kemuliaan dari Allah SWT.
5. Transformasi Iman ke dalam Karakter Positif
Melalui perspektif Double Movement, keimanan pada Isra Mi’raj harus membuahkan integritas moral. Iman yang kuat tercermin dari perubahan perilaku menjadi lebih disiplin, jujur, dan memiliki etika yang baik dalam kehidupan bermasyarakat.
People Also Ask:
Nilai apa saja yang terkandung dalam peristiwa Isra Miraj?
Isra Mi'raj mengajarkan kita tentang pentingnya keteladanan dalam menjalani kehidupan ini. Rasulullah SAW, sebagai teladan umat, menunjukkan kesabaran, keikhlasan, dan ketaatan kepada Allah dalam setiap langkah hidupnya.
Nilai nilai tauhid adalah?
Nilai tauhid merupakan fondasi utama dalam ajaran Islam yang menekankan keesaan Allah sebagai pusat kehidupan spiritual dan sosial seorang Muslim. Dalam konteks remaja, masa transisi dari anak- anak menuju dewasa menjadi fase krusial dalam pembentukan identitas dan keyakinan keagamaan.
Apa hikmah yang dapat dipetik dari peristiwa Isra Miraj?
Berikut beberapa hikmah dari peristiwa Isra' Mi'raj :
Diwajibkannya melaksanakan sholat fardu lima waktu. Menumbuhkan dan meningkatkan keimanan kita terhadap kekuasaan Allah swt yang Maha berkehendak. Membuat kita semakin mengamati bahwa Nabi Muhammad adalah utusan yang membawa perintah Allah SWT.
Apa hal yang dapat dipelajari pada peristiwa Isra Miraj?
Isra Miraj bukan hanya kisah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW, tetapi juga sebuah pelajaran berharga tentang pentingnya iman, spiritualitas, dan hubungan dengan Allah SWT. Salat lima waktu, yang menjadi inti dari peristiwa ini, mengajarkan umat Islam untuk senantiasa menjaga komunikasi dengan Sang Pencipta.
Anda Sedang Mengikuti Pembahasan Seputar
Nanik Ratnawati, Fadila AdelinTim Redaksi
Share

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5024176/original/090387600_1732614331-quote-sabar-dan-ikhlas.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4975686/original/001020200_1729565914-nama-sahabat-nabi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3413087/original/89624600_1616897919-horizontal-shot-satisfied-college-student-uses-new-cool-app-cell-phone-carries-notepad-writing-notes-wears-spectacles-silk-scarf-knitted-sweater-isolated-blue-wall_273609-26316.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5095573/original/012538800_1736934827-pexels-helloaesthe-15707485.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5121926/original/039550200_1738729829-1738723823107_muamalah-adalah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5423024/original/045605200_1764051067-Membaca_ayat_suci_al_quran__pexels_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417694/original/055901700_1763543336-Kultum_Singkat_tentang_Sabar.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5438947/original/026009100_1765343687-SnapInsta.to_590425390_18544905169033381_7948525635136531867_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4628436/original/095598200_1698637528-8712637.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2978888/original/058603600_1574829310-20191127-Lowongan-Pekerjaan-Dibuka-di-Job-Fair-Jakarta-TALLO-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3998634/original/078503800_1650277026-20220418-Tadarus_Al-Quran_di_Bulan_Ramadhan-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3097896/original/057966000_1586407258-concrete-dome-buildings-during-golden-hour-2236674.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5067115/original/068159000_1735273362-1735270416030_kata-kata-mutiara-islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4858180/original/029627600_1717939832-WhatsApp_Image_2024-05-29_at_10.56.30.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5309824/original/049461300_1754640312-56c16cba-d65e-4d65-9a2f-45a2fa7bdd9a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490521/original/051406700_1770014009-Ilustrasi_Puasa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381448/original/032968300_1613719892-wooden-spoon-fork-as-clock-hands-white-plate_49149-1007.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5365523/original/042845000_1759199598-Dua_wanita_muslimah_membaca_buku.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490999/original/014133400_1770040826-Masjid_Agung_Demak.jpeg)





























