Liputan6.com, Jakarta - Dalam interaksi sosial, lisan merupakan anugerah sekaligus ujian terbesar bagi manusia. Dengan lisan, hubungan dibina, ilmu disebarkan, dan kebaikan disemaikan.
Namun, di sisi lain, lisan juga dapat menjadi sumber malapetaka, permusuhan, dan kerusakan yang mendalam. Oleh karena itu, kita perlu memahami pentingnya menjaga lisan dalam pergaulan sehari-hari menurut Islam.
Menjaga lisan bukan berarti menjadi pendiam secara total, tetapi menjadi pandai mengelola waktu dan konten bicara. Sebagaimana nasihat Lukman Al-Hakim kepada anaknya: "Wahai anakku, biasakanlah lisanmu mengucapkan 'La ilaha illallah' (dzikir), karena ia dapat menghapus dosa-dosa sebagaimana pohon yang menggugurkan daunnya."
Islam, sebagai agama yang sempurna, memberikan perhatian sangat besar terhadap etika berkomunikasi. Menjaga lisan bukan sekadar sopan santun, melainkan bagian integral dari keimanan dan ketaqwaan. Artikel ini akan mengulas urgensi menjaga lisan dalam pergaulan sehari-hari merujuk jurnal Hukum Islam dan Ilmu Hadis, yang didasarkan pada kajian ilmiah dalam jurnal Keutamaan Menjaga Lisan dalam Perspektif Hukum Islam oleh Juliana Anggraini, dkk dan Perintah Menjaga Lisan dalam Perspektif Hadis oleh Gery Hummamul Hafid & Muflihah.
Imam Asy-Syafi’i, sebagaimana dikutip dalam jurnal, memberikan nasihat praktis: "Jika engkau hendak berbicara, berpikirlah dahulu. Jika yang nampak adalah kebaikan, ucapkanlah. Jika yang nampak adalah keburukan atau engkau ragu, tahanlah dirimu (diam)." Ini menjadi prinsip dasar dalam Adab al-Lisan (etika berucap).
Dalam perspektif hukum Islam dan ilmu hadis, berikut adalah lima prinsip implementasi praktis menjaga lisan dalam pergaulan sehari-hari, merujuk dalil dan pandangan ulama klasik dan kontemporer.
1. Berpikir Sebelum Berkata (Tafakkur Qabl al-Kalam)
Setiap ucapan harus melalui saringan ketat: apakah benar, perlu, dan bermanfaat? Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam." (HR. Bukhari & Muslim).
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadis ini menjadi kaidah agung dalam adab berbicara. Beliau menyatakan: "Maknanya, jika seseorang ingin berbicara, maka hendaknya berpikir terlebih dahulu. Jika jelas bahwa perkataannya akan membawa kebaikan dan pahala, baik yang wajib maupun sunnah, maka berbicaralah. Jika tidak jelas maslahatnya, atau justru membawa mafsadat (kerusakan), maka diamlah."
Dalam Al-Qur'an disebutkan: "Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya..." (QS. Al-Hujurat: 6).
Imam Al-Qurthubi dalam Tafsir Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an menegaskan bahwa ayat ini mengajarkan prinsip tabayyun (klarifikasi) sebelum menyebarkan atau mempercayai suatu ucapan, yang merupakan bagian dari menjaga lisan dari ghibah dan fitnah.
Sebelum menyampaikan informasi, kritik, atau bahkan candaan, tanyakan pada diri: (1) Apakah ini fakta yang saya yakini kebenarannya? (2) Apakah perlu disampaikan? (3) Apakah akan memberi manfaat atau justru menyakiti?
2. Memilih Diam Saat Ragu
Diam adalah benteng keselamatan ketika tidak yakin akan maslahat ucapan. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi SAW: "Barangsiapa diam, maka ia selamat." (HR. At-Tirmidzi, dishahihkan Al-Albani).
Umar bin Khattab RA berkata: "Diam adalah kebijaksanaan, namun sedikit yang melakukannya."
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin (Kitab Adabul Lisan) menulis bab khusus berjudul Bahaya Lisan dan Keutamaan Diam. Beliau menyebutkan, "Ketahuilah, diam itu ada dua: diamnya orang bodoh yang tidak tahu apa yang harus dikatakan, ini adalah aib. Dan diamnya orang alim karena memilih dan berhati-hati, ini adalah keutamaan... Diam pada tempatnya adalah kemuliaan akhlak."
Dalam situasi ragu (misal: mendengar gosip, ingin mengomentari kelemahan orang, atau emosi sedang tinggi), pilih untuk diam. Seperti kisah Imam Ahmad bin Hanbal yang disebutkan dalam jurnal, beliau menahan erangan sakit karena takut catatan malaikat.
3. Mengutamakan Ucapan yang Baik (Qaulan Karima)
Lisan harus diarahkan untuk berkata lemah lembut, jujur, membangun, dan menasehati dengan santun. Berikut ini berbagai jenis qaulan (ucapan) baik dalam Al-Qur'an:
a. Qaulan Karima (ucapan mulia):
"Maka ucapkanlah kepadanya perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra: 23).Penjelasan: Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azim menyebutkan bahwa ini adalah perintah untuk berkata lembut, hormat, dan penuh penghargaan, terutama kepada orang tua.
b. Qaulan Ma'rufa (ucapan yang baik):
"Katakanlah kepada mereka perkataan yang ma'ruf." (QS. An-Nisa: 5).Penjelasan: Imam Asy-Syaukani dalam Fath Al-Qadir menjelaskan sebagai ucapan yang sesuai dengan norma kebaikan, adat, dan syariat.
c. Qaulan Layyina (ucapan lemah lembut):
"Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut..." (QS. Thaha: 44).Penjelasan: Digunakan bahkan saat berdakwah kepada Fir'aun, menunjukkan bahwa kelembutan adalah metode utama dalam komunikasi.
d. Qaulan Sadida (ucapan yang benar/lurus):
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar." (QS. Al-Ahzab: 70).Penjelasan: Imam Al-Baghawi dalam Ma'alim At-Tanzil menekankan bahwa ini mencakup kejujuran, ketepatan, dan kesesuaian antara ucapan dengan realita.
Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Al-Fawa'id menulis: "Lisan orang beriman berada di belakang hatinya. Jika ingin berbicara, ia berpikir dengan hatinya dahulu. Jika bermanfaat, ia bicara. Jika berbahaya, ia menahan. Lisan orang fasik berada di depan hatinya; ia bicara dulu baru berpikir."
Gunakan pujian yang tulus (bukan pujian berlebihan/riya'), kritik yang konstruktif (disampaikan secara privat dan dengan santun), serta janji yang bisa ditepati. Hindari kata-kata kasar, menghina, atau merendahkan.
4. Menjauhi Percakapan Sia-sia (Laghw)
Tidak membuang waktu dengan obrolan tidak berguna, apalagi yang haram. Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam Al-Qur'an mengenai ciri orang beriman:
"Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang sia-sia." (QS. Al-Mu'minun: 3).
Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih Al-Ghaib menjelaskan bahwa "laghw" mencakup semua ucapan batil, keji, dan tidak bermanfaat baik secara duniawi maupun ukhrawi. Beliau juga mengutip pendapat bahwa ini termasuk mendengarkan laghw, karena mendengarkan yang haram juga terlarang.
Hindari gosip, obrolan yang hanya berisi celaan, candaan yang berlebihan dan melampaui batas, serta menghabiskan waktu di media sosial untuk hal tidak produktif. Rasulullah SAW bersabda: "Sebaik-baik Islam seseorang adalah yang meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya." (HR. At-Tirmidzi).
5. Menyibukkan Lisan dengan Zikir
Mengalihkan fungsi lisan dari potensi maksiat menjadi sarana ibadah. Dalam Al-Qur'an Allah memerintahkan orang mengingat Allah (dzikir).
"Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak." (QS. Al-Ahzab: 41).
Nabi SAW juga mengungkapkan keutamaan dzikir: "Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang hidup dengan orang mati." (HR. Bukhari).
Imam Asy-Syafi'i dalam kitab Al-Umm menyatakan: "Selayaknya bagi seorang alim untuk menyibukkan lisannya dengan dzikir kepada Allah, membaca Al-Qur'an, menuntut ilmu, dan amar ma'ruf nahi munkar. Bukan dengan perkataan yang sia-sia atau haram."
Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin memasukkan bab khusus: "Keutamaan Dzikir dan Anjuran untuk Melakukannya", di mana beliau mengutip puluhan hadis tentang keutamaan kalimat thayyibah seperti tasbih, tahmid, tahlil, dan istighfar.
Praktik Praktis:
- Mulai dan akhiri hari dengan dzikir pagi-petang.
- Biasakan istighfar dan tahmid di sela-sela aktivitas.
- Ganti obrolan kosong dengan membaca Al-Qur'an atau mendiskusikan ilmu yang bermanfaat.
- Gunakan media sosial untuk menyebarkan konten dzikir, ayat Al-Qur'an, atau ilmu yang bermanfaat.
Lisan sebagai Penentu Nasib di Akhirat
Hukum Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk muamalah (interaksi sosial). Dalam perspektif ini, lisan dipandang sebagai "anggota tubuh kecil" dengan konsekuensi hukum yang sangat besar, bahkan menentukan nasib akhirat seseorang.
Berdasarkan jurnal Juliana Anggraini dkk. (2024), lisan dapat menyebabkan pemiliknya menjadi penghuni surga atau justru dilempar ke dalam api neraka. Ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Mu'adz bin Jabal RA:
"Wahai Rasulullah, apakah kami akan disiksa karena apa yang kami ucapkan?" Beliau menjawab, "Semoga ibumu kehilanganmu! (ungkapan untuk perhatian). Bukankah manusia disungkurkan ke dalam neraka di atas wajah atau hidung mereka, tidak lain karena akibat lisannya?" (HR. At-Tirmidzi No. 2411, dishahihkan Al-Albani).
Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihin menegaskan, kewajiban seorang muslim adalah menahan lisannya dari segala ucapan, kecuali yang jelas manfaatnya. Jika ragu antara berbicara dan diam, maka lebih utama diam karena ucapan yang mubah (boleh) bisa berujung pada yang haram atau makruh.
Rambu-Rambu Bahaya Lisan
Beberapa bahaya lisan yang diharamkan dalam hukum Islam:
1. Dusta (Kazib)
Melanggar esensi iman. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya yang mengada-ada kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta." (QS. An-Nahl: 105). Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya dusta membawa kepada keburukan dan keburukan membawa ke neraka." (HR. Bukhari & Muslim).
2. Ghibah (Menggunjing)
Diibaratkan seperti memakan bangkai saudara sendiri. Allah SWT berfirman: "Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik." (QS. Al-Hujurat: 12).
3. Namimah (Adu Domba/Menyebar Fitnah)
Perbuatan yang dapat memecah belah persaudaraan dan diancam dengan azab yang pedih. "Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah." (QS. Al-Qalam: 10-11).
Hikmah Menjaga Lisan dalam Pergaulan Sehari-hari
Berikut adalah hikmah-hikmah utama menjaga lisan yang dapat dirasakan langsung dalam kehidupan sosial dan spiritual:
1. Keselamatan Akhirat
Menghindarkan dari dosa yang menjerumuskan ke neraka. Rasulullah SAW bersabda: "Bukankah manusia disungkurkan ke dalam neraka di atas wajah mereka hanya karena hasil lisannya?" (HR. Tirmidzi). Dengan menjaga lisan, kita mengamankan diri dari siksa akhirat.
2. Mendapatkan Jaminan Surga
Rasulullah SAW menjamin surga bagi yang menjaga lisan dan kemaluan: "Barangsiapa menjamin untukku apa yang antara dua rahangnya (lisan) dan dua kakinya (kemaluan), aku jamin surga untuknya." (HR. Bukhari). Ini adalah imbalan tertinggi.
3. Menjaga Kehormatan Diri
Orang yang menjaga lisannya dihormati dan dipercaya. Sebaliknya, pengucap dusta dan fitnah kehilangan kredibilitas. Pepatah Arab menyebut: "Lisan orang beriman berada di belakang hatinya" - ia bicara dengan pertimbangan, bukan emosi.
4. Mencegah Konflik dan Permusuhan
Banyak perselisihan bermula dari ucapan tak terkendali. Menjaga lisan mencegah percekcokan, dendam, dan perpecahan dalam keluarga, pertemanan, maupun masyarakat.
5. Menciptakan Ketenteraman Hati
Hati menjadi tenang karena tidak dibebani penyesalan atas ucapan buruk, tidak takut terbongkar kebohongan, dan tidak khawatir menyakiti orang lain. Ada ketenangan batin yang luar biasa.
6. Menjaga Persaudaraan (Ukhuwah)
Ucapan yang baik mempererat hubungan, sementara ghibah dan fitnah merusaknya. Allah berfirman: "Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia" (QS. Al-Baqarah: 83).
7. Melindungi Hak dan Harga Diri Orang Lain
Dengan tidak menggunjing, mencela, atau mengejek, kita menghormati kehormatan orang lain. Ini adalah implementasi langsung dari sabda Nabi: "Setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya." (HR. Muslim).
8. Meningkatkan Kualitas Ibadah
Lisan yang terjaga dari maksiat membuat ibadah lain lebih ikhlas dan diterima. Imam Al-Ghazali menyebut lisan sebagai "pintu gerbang hati" - jika lisannya bersih, hatinya pun mudah dijaga.
9. Menjadi Teladan dan Dakwah Efektif
Perilaku bertutur kata baik adalah dakwah bil hal (dakwah melalui perbuatan) yang paling meyakinkan. Orang lebih tertarik pada Islam ketika melihat penganutnya santun dalam berbicara.
10. Menghemat Energi dan Waktu
Tidak terlibat dalam obrolan sia-sia membuat waktu dan pikiran dapat dialihkan untuk hal produktif: menuntut ilmu, bekerja, atau beribadah.
11. Mendapatkan Derajat Tinggi di Sisi Allah
Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kata-kata yang diridhai Allah tanpa berpikir mendalam, maka Allah mengangkat derajatnya karenanya." (HR. Bukhari).
12. Mendatangkan Berkah dalam Rezeki
Hubungan sosial yang harmonis karena komunikasi yang baik sering menjadi sebab terbukanya pintu rezeki dan kerjasama yang berkah.
13. Menjaga Rahasia dan Amanah
Orang yang mampu menahan lisannya dapat dipercaya menyimpan rahasia, suatu sifat yang sangat berharga dalam pergaulan.
14. Menghindari Penyesalan
Banyak penyesalan di akhirat disebabkan ucapan yang tidak terjaga di dunia. Dengan menjaga lisan, kita meminimalkan penyesalan di kemudian hari.
15. Membentuk Kepribadian yang Disiplin
Kemampuan mengendalikan lisan melatih pengendalian diri secara keseluruhan, membentuk pribadi yang sabar, bijaksana, dan matang.
People also Ask:
Mengapa penting untuk menjaga lisan dalam kehidupan sehari-hari?
Dalam kehidupan bermasyarakat, lisan yang terjaga dengan baik dapat menjadi alat untuk membangun keharmonisan, menciptakan kedamaian, dan menyebarkan kebaikan. Sebaliknya, ketidakbijaksanaan lisan dapat menjadi sumber konflik dan perpecahan.
Mengapa menjaga lisan sangat penting dalam pergaulan sosial dan kehidupan beragama?
Menjaga lisan agar tidak menyinggung perasaan orang lain sangat diperlukan. Jangan sampai karena kesalahan lisan kita bisa berakibat renggangnya hubungan persaudaraan, kekeluargaan, persahabatan dan relasi. Kalau lisan kita selalu dijaga maka imej tentang diri kita juga akan terjaga.
Bagaimana Islam mengajarkan tentang pentingnya menjaga lisan?
Lisan adalah amanah besar yang harus dijaga. Islam mengajarkan agar seseorang hanya berbicara jika ucapannya membawa manfaat, memperbaiki keadaan, atau menegakkan kebenaran. Sebaliknya, diam lebih utama ketika ucapan berpotensi membawa kemudaratan, menyakiti, atau memicu konflik.
Mengapa agama Islam mengharuskan umatnya untuk senantiasa menjaga lisannya?
Firman Allah SWT. ini menunjukkan bahwa perkataan yang benar dan baik merupakan salah satu tanda dari ketakwaan seorang Muslim. Orang yang menjaga lisannya dari keburukan telah berusaha untuk mencapai derajat taqwa yang lebih tinggi dan menghantarkan dirinya menjadi manusia mulia.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5024176/original/090387600_1732614331-quote-sabar-dan-ikhlas.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4975686/original/001020200_1729565914-nama-sahabat-nabi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3413087/original/89624600_1616897919-horizontal-shot-satisfied-college-student-uses-new-cool-app-cell-phone-carries-notepad-writing-notes-wears-spectacles-silk-scarf-knitted-sweater-isolated-blue-wall_273609-26316.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5095573/original/012538800_1736934827-pexels-helloaesthe-15707485.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5121926/original/039550200_1738729829-1738723823107_muamalah-adalah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5423024/original/045605200_1764051067-Membaca_ayat_suci_al_quran__pexels_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417694/original/055901700_1763543336-Kultum_Singkat_tentang_Sabar.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5438947/original/026009100_1765343687-SnapInsta.to_590425390_18544905169033381_7948525635136531867_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4628436/original/095598200_1698637528-8712637.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2978888/original/058603600_1574829310-20191127-Lowongan-Pekerjaan-Dibuka-di-Job-Fair-Jakarta-TALLO-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3998634/original/078503800_1650277026-20220418-Tadarus_Al-Quran_di_Bulan_Ramadhan-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3097896/original/057966000_1586407258-concrete-dome-buildings-during-golden-hour-2236674.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5067115/original/068159000_1735273362-1735270416030_kata-kata-mutiara-islami.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4858180/original/029627600_1717939832-WhatsApp_Image_2024-05-29_at_10.56.30.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5309824/original/049461300_1754640312-56c16cba-d65e-4d65-9a2f-45a2fa7bdd9a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490521/original/051406700_1770014009-Ilustrasi_Puasa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3381448/original/032968300_1613719892-wooden-spoon-fork-as-clock-hands-white-plate_49149-1007.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5365523/original/042845000_1759199598-Dua_wanita_muslimah_membaca_buku.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5490999/original/014133400_1770040826-Masjid_Agung_Demak.jpeg)





























