Sikap Muslim Terhadap Pesta Tahun Baru Masehi di Lingkungan Sekitar

1 month ago 33

Liputan6.com, Jakarta - Perayaan tahun baru Masehi telah menjadi fenomena global yang juga merasuk ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia, termasuk di lingkungan sekitar tempat tinggal umat Islam. Maka itu, sikap muslim terhadap pesta tahun baru masehi di lingkungan sekitar harus dipahami.

Ada kalanya, seorang muslim tinggal di sebuah lingkungan yang berafiliasi dengan budaya tertentu, atau bahkan agama lain. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk bijaksana dalam bersikap saat lingkungannya melakukan pesta tahun baru Masehi.

Namun begitu, mengutip pandangan Ustadz Ainul Yakin dan studi Moderasi Islam, untuk Perdaban dan Kemanusiaan oleh Ahmad Fauzi seorang muslim perlu menjaga diri dan keluarganya agar tidak tergelincir pada kegiatan yang bertentangan dengan akidah. Di sisi lain, seorang muslim juga perlu menjaga prinsip-prinsip dasar Islam dalam menyikapi tradisi global.

Artikel ini akan mengulas bagaimana sikap muslim terhadap pesta tahun baru berdasarkan perspektif moderasi beragama. Namun, sebelum itu, mari kita pahami terlebih dahulu hukum asal perayaan tahun baru.

Sebelum Bersikap, Ketahui Hukum Asal Merayakan Tahun Baru

Guru Besar Al-Azhar yang juga Mufti Agung Mesir Syekh Athiyyah Shaqr dalam kitab Fatawa Al-Azhar menjelaskan bahwa fenomena perayaan tahun baru Masehi sebagai sesuatu yang otomatis dilarang (haram), melainkan menilainya berdasarkan isi dan niat dari kegiatan tersebut.

Menurut Syekh Athiyyah Shaqr mengategorikan aktivitas perayaan ini ke dalam ranah mubah (boleh) dengan syarat-syarat yang ketat. Berikut adalah rincian batasan yang beliau tetapkan agar sebuah perayaan tetap dalam koridor syariat:

  • Dalam Bingkai Syariat: Perayaan harus dilakukan dengan cara-cara yang tidak melanggar hukum Islam.
  • Tidak Mengandung Maksiat: Tidak boleh ada aktivitas yang dilarang seperti meminum khamr, pergaulan bebas yang melanggar norma, atau pemborosan harta yang berlebihan (tabdzir).
  • Tidak Melanggar Kehormatan: Perayaan tidak boleh merendahkan martabat manusia atau melanggar harga diri orang lain.
  • Bukan dari Akidah yang Rusak: Ini adalah poin krusial.

Bahkan, menurut Syekh Athiyyah Shaqr seorang muslim boleh ikut bersenang-senang (makan, minum, atau bertamasya) selama tujuannya adalah kegembiraan sosial atau tradisi, bukan karena meyakini atau mengikuti ritual keagamaan yang bertentangan dengan tauhid.

Masih merujuk pandangan Syekh Athiyyah Shaqr, jika tahun baru dianggap sebagai momen sosial untuk berkumpul dan bersyukur atas pergantian waktu, maka hukum asalnya adalah mubah. Analoginya adalah Sham Ennesim di Mesir yang awalnya adalah tradisi nasional (budaya), menunjukkan bahwa Islam memberikan ruang bagi budaya selama nilai-nilai Islam tetap terjaga.

1. Menjaga Akidah dan Identitas Keislaman

Merujuk jurnal Relevansi Perayaan Tahun Baru Dalam Perspektif ModerasiBeragama oleh Sukron Azhari dan Azis Ependi yang merangkum berbagai pandangan ulama klasik, maupun pemikir modern, berikut ini adalah sikap seorang muslim terhadap pesta ulang tahun di lingkungan sekitar dengan perpsektif moderasi (washatiyah).

Umat Islam jangan sampai tergelincir pada kegiatan yang bertentangan dengan akidah. Penting menjaga prinsip-prinsip dasar Islam dalam menyikapi tradisi global.

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim." (QS. Ali Imran: 102)

2. Mengedepankan Toleransi dan Kerukunan

Ada prinsip toleransi bahwa setiap orang berhak untuk menjalankan keyakinannya. Toleransi tumbuh dari interaksi sosial yang baik.

Dalil Al-Qur'an: "Tidak ada paksaan dalam agama." (QS. Al-Baqarah: 256)

3. Sikap untuk Keluarga

Seseorang perlu bersikap dalam konteks keluarga, yakni dengan memberikan pemahaman yang tepat. Yaitu:

Menjelaskan kepada anak-anak tentang hakikat tahun baru dalam perspektif Islam

  • Mengajarkan sikap moderat dan tidak ekstrem
  • Menjaga Aktivitas Keluarga
  • Tidak melarang sepenuhnya, namun mengarahkan pada kegiatan yang positif
  • Mengisi malam tahun baru dengan muhasabah, doa bersama, dan silaturahmi keluarga

4. Terhadap Tetangga Non-Muslim

Salah satu yang perlu dilakukan oleh seorang muslim yang tinggal di lingkungan dengan agama dan budaya beragam adalah toleransi. Caranya yakni dengan:

  • Menghormati hak mereka
  • Tidak mengganggu atau mencela perayaan mereka
  • Menunjukkan sikap ramah dan pengertian
  • Menjaga Batasan yang Wajar
  • Tidak ikut serta dalam ritual yang bertentangan dengan akidah
  • Tetap menjaga hubungan sosial yang baik

5. Di Lingkungan Muslim

Menjelang pergantian tahun, lebih baik jika lingkungan tempat tinggal mayoritas muslim, maka lebih baik berinisiatif menyelenggarakan alternatif kegiatan selain hura-hura. Berikut ini contohnya:

  • Mengadakan pengajian, doa bersama, atau kegiatan sosial
  • Memberikan pemahaman tentang moderasi beragama
  • Mencegah Penyimpangan
  • Mengingatkan terhadap potensi maksiat dalam perayaan
  • Menjaga generasi muda dari pengaruh negatif

Di sisi lain, jika kegiatan malam tahun baru itu bernilai positif, maka seorang muslim perlu mensupport dan berperan aktif. Misalnya, sedekah atau kajian agama.

People Also Ask:

Bagaimana sikap seorang muslim dalam menyambut tahun baru?

Langkah pertama dalam menyambut Tahun Baru Islam adalah dengan meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Memperbanyak ibadah seperti shalat tepat waktu, membaca Al-Qur'an, serta memperbanyak doa dan dzikir menjadi cara konkret untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Bagaimana pandangan Islam terhadap perayaan malam tahun baru Masehi?

Sebagian besar ulama berpendapat bahwa merayakan Tahun Baru Masehi bertentangan dengan ajaran Islam, karena merupakan tradisi non-Islam yang tidak berlandaskan syariat.

Bagaimana kita sebagai umat muslim dalam menyikapi tahun baru Hijriah?

Memperbanyak Doa dan Zikir: Pergantian tahun adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak doa, memohon ampunan atas dosa-dosa di tahun sebelumnya, dan berharap kebaikan di tahun yang akan datang. Zikir, seperti membaca tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir, juga bisa menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Apa yang dilakukan umat Muslim pada malam Tahun Baru?

Tahun Baru Islam adalah peristiwa keagamaan penting yang dirayakan bersama keluarga, teman, dan kerabat jauh. Mereka melaksanakan salat dan ritual di masjid dan beberapa ruang publik yang mungkin memiliki makna historis. Sudah menjadi kebiasaan bagi keluarga Muslim untuk berkumpul bersama setelah salat dan makan bersama.

Anda Sedang Mengikuti Pembahasan Seputar

Nanik Ratnawati, Fadila AdelinTim Redaksi

Share

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |